Ini dia buku yang pas banget buat saya! Pas karena isinya info-info soal traveling di Eropa dan lebih pas lagi karena banyak tips tentang gimana mengajak balita traveling. Gaya bertuturnya pun enak dibaca. Highly recomended buat orangtua yang pengin ngajak jalan-jalan anaknya.
Tips-tips yang dibagi Bunda Agnes dalam buku ini sebenarnya dia sontek juga dari buku lain yang pernah dia baca, tapi yang patut dicontoh adalah kegigihan dan kreatifitasnya menerapkan isi buku-buku yang dia baca itu dalam kehidupan sehari-hari dan kehidupan jalan-jalannya. Jujur aja, sebagai seorang pembaca kelas kakap saya melahap sekitar seratus buku setiap tahun (angka agak menurun sejak punya anak), dan setelah punya anak bacaan tentu bergeser juga pada topik-topik bagaimana membesarkan anak dengan baik, menu makan anak, permainan anak, strategi parenting, dll. Tapi... seberapa persen dari hasil bacaan itu yang saya praktikkan saat mengasuh anak? Hmm... begitu menghadapi dunia nyata, teori-teori yang sebenarnya membantu itu langsung lenyap semua! Sementara Bunda Agnes rupanya cukup keukeuh untuk mempraktikkan apa yang dia baca. Hasilnya seperti yang dia tuturkan dalam buku ini, rupanya sangat membantu dalam menciptakan keceriaan dalam keluarganya.
Misalnya beberapa minggu sebelum bepergian Bunda Agnes sudah mengondisikan anak-anaknya untuk membangun antusiasme akan tempat yang akan mereka datangi dengan cara mencari informasi tentang lokasi, membuat games tentang tempat tersebut, sampai merapikan koper. Anak-anak belajar, mengembangkan imajinasi, sekaligus bersenang-senang. Begitu sampai di tujuan, anak-anak diberi games juga, sehingga tidak keberatan mengunjungi tempat-tempat yang sebenarnya belum tentu menarik bagi anak usia balita. Saat terjepit, misalnya anak lapar atau harus bepergian pada jam yang tidak pas, Bunda Agnes juga bisa kreatif menciptakan bujukan-bujukan bagi anak-anaknya. Sesuatu yang bisa disontek saat mengajak jalan balita.
Kalau ternyata tidak bisa bepergian ke luar kota, Bunda Agnes juga kreatif menciptakan "coach traveling" bagi anak-anaknya. Misalnya dengan main sekolah-sekolahan, atau main mengarang cerita. Keakraban keluarga pun makin terjalin.
Selain memuat banyak tips yang bisa disontek bagi para orangtua yang ingin mengajak jalan-jalan anaknya, buku ini juga memuat tips-tips praktis misalnya cara booking hotel atau tiket, atau cara menghindari copet. Tapi yang saya rasa paling penting disimak adalah, jangan putus asa jadi orangtua, be creative, dan... (bagi para pembaca) jangan ragu untuk mempraktikkan bacaan atau informasi yang kita gali dari berbagai sumber!
Jumat, 23 April 2010
Kamis, 26 November 2009
Tentang Plagiarisme
Wah! Ini topik yang lumayan berat, tapi biarlah jadi sekadar curhat.
Ceritanya begini, sekitar 2 minggu yang lalu saya mendapati buku yang sebenarnya lebih tepat disebut biografi, tapi oleh penulis dan penerbitnya disebut novel. Okelah. Tokohnya sudah saya kenal dari artikel majalah Intisari tahun 1980-an (artinya saya baca waktu saya masih SD, jadi maaf-maaf kalau ternyata ingatan saya sudah banyak bolongnya). Saya masih ingat tokoh ini pasti karena waktu saya membaca soal dirinya dulu kisah hidupnya menarik sekali. Sebut inisialnya OHL. Dia putri OTH, orang terkaya di Indonesia zaman Belanda dulu. Pastinya kisah hidupnya membuat silau saya dulu, saking dia punya segala macam yang tidak dipunyai saya yang masih kecil dulu (sampai sekarang juga sih... hehehe...).
Penulisnya yang mencantumkan embel-embel penulis pilihan, blogger pilihan, dll dsb pun menarik bagi saya. Apakah tulisan orang pilihan ini benar-benar oke?
Hmm... waktu saya mulai membaca, insting editor saya mulai bekerja. Siapa sih yang milih orang ini jadi penulis pilihan? *Gosh, emosi mulai terlibat... hehehe...* Anyway, saya tidak mau membahas itu dan gaya menulisnya yang... yaaaah... Membuktikan bahwa asal punya keberanian untuk mem-publish tulisan, kamu bisa terpilih jadi yang "pilihan" itulah.
Yang ingin saya bahas adalah... saya merasa membaca ulang artikel Intisari zaman dulu itu. Entah bagaimana--mungkin sebenarnya saya punya photography memory, cuma selama ini nggak sadar--semua yang saya baca di buku itu sama persis dengan yang saya baca di artikel Intisari. Padahal saya berharap mendapat sudut pandang yang berbeda, mendapat hasil riset lebih jauh tentang hidup tokoh OHL ini. Mmm... nggak... Saya merasa sekali si penulis cuma menulis ulang, entah dari artikel Intisari itu atau dari buku yang mendasari penulisan artikel tersebut.
Ya sudahlah. Sisi baiknya adalah saya jadi bisa membaca ulang (meskipun dengan sedikit misuh-misuh dan sakit kepala) kisah hidup si tokoh OHL.
Cerita berikut tentang plagiarisme adalah novel Jody Picoult yang baru-baru ini ada film Hollywood-nya, "My Sister's Keeper". Mmm... Hollywood kalah cepat sama sinetron lokal, bo! Novel ini sudah tayang sekitar satu setengah tahun yang lalu di salah satu TV lokal Indonesia. Dan yang lucunya, setelah sinetron tersebut tayang dan jadi bahan omongan di kantor, saya mendapat tugas mengedit buku soal penulisan skenario sinetron. Dan oh la la! Skenario "My Sister's Keeper" ini jadi bahan contoh skenario di dalam buku tersebut! Sama persis per adegan... yaaa okelah... si penulis skenario sinetron mengembangkan ide cerita (hihihi...). Tapi, kok bisa ya?
Sudah beberapa kali saya tulis bahwa semua ide itu sudah basi. Di blog ini, di blog friendster saya. Ide sudah basi, karena... apa yang belum dieksplorasi di zaman ini? Yang baru cara penyampaiannya. Dan... kalau kamu mendapat ide dari sesuatu yang lama, ingin mengeksplorasinya lagi, menuliskannya lagi... please, do it your own way. It may save your face some day. Yah, paling nggak kalau kamu menuliskannya dengan cara dan pikiran kamu sendiri, nggak akan ada orang iseng menuliskan sesuatu seperti ini tentang kamu.
Ceritanya begini, sekitar 2 minggu yang lalu saya mendapati buku yang sebenarnya lebih tepat disebut biografi, tapi oleh penulis dan penerbitnya disebut novel. Okelah. Tokohnya sudah saya kenal dari artikel majalah Intisari tahun 1980-an (artinya saya baca waktu saya masih SD, jadi maaf-maaf kalau ternyata ingatan saya sudah banyak bolongnya). Saya masih ingat tokoh ini pasti karena waktu saya membaca soal dirinya dulu kisah hidupnya menarik sekali. Sebut inisialnya OHL. Dia putri OTH, orang terkaya di Indonesia zaman Belanda dulu. Pastinya kisah hidupnya membuat silau saya dulu, saking dia punya segala macam yang tidak dipunyai saya yang masih kecil dulu (sampai sekarang juga sih... hehehe...).
Penulisnya yang mencantumkan embel-embel penulis pilihan, blogger pilihan, dll dsb pun menarik bagi saya. Apakah tulisan orang pilihan ini benar-benar oke?
Hmm... waktu saya mulai membaca, insting editor saya mulai bekerja. Siapa sih yang milih orang ini jadi penulis pilihan? *Gosh, emosi mulai terlibat... hehehe...* Anyway, saya tidak mau membahas itu dan gaya menulisnya yang... yaaaah... Membuktikan bahwa asal punya keberanian untuk mem-publish tulisan, kamu bisa terpilih jadi yang "pilihan" itulah.
Yang ingin saya bahas adalah... saya merasa membaca ulang artikel Intisari zaman dulu itu. Entah bagaimana--mungkin sebenarnya saya punya photography memory, cuma selama ini nggak sadar--semua yang saya baca di buku itu sama persis dengan yang saya baca di artikel Intisari. Padahal saya berharap mendapat sudut pandang yang berbeda, mendapat hasil riset lebih jauh tentang hidup tokoh OHL ini. Mmm... nggak... Saya merasa sekali si penulis cuma menulis ulang, entah dari artikel Intisari itu atau dari buku yang mendasari penulisan artikel tersebut.
Ya sudahlah. Sisi baiknya adalah saya jadi bisa membaca ulang (meskipun dengan sedikit misuh-misuh dan sakit kepala) kisah hidup si tokoh OHL.
Cerita berikut tentang plagiarisme adalah novel Jody Picoult yang baru-baru ini ada film Hollywood-nya, "My Sister's Keeper". Mmm... Hollywood kalah cepat sama sinetron lokal, bo! Novel ini sudah tayang sekitar satu setengah tahun yang lalu di salah satu TV lokal Indonesia. Dan yang lucunya, setelah sinetron tersebut tayang dan jadi bahan omongan di kantor, saya mendapat tugas mengedit buku soal penulisan skenario sinetron. Dan oh la la! Skenario "My Sister's Keeper" ini jadi bahan contoh skenario di dalam buku tersebut! Sama persis per adegan... yaaa okelah... si penulis skenario sinetron mengembangkan ide cerita (hihihi...). Tapi, kok bisa ya?
Sudah beberapa kali saya tulis bahwa semua ide itu sudah basi. Di blog ini, di blog friendster saya. Ide sudah basi, karena... apa yang belum dieksplorasi di zaman ini? Yang baru cara penyampaiannya. Dan... kalau kamu mendapat ide dari sesuatu yang lama, ingin mengeksplorasinya lagi, menuliskannya lagi... please, do it your own way. It may save your face some day. Yah, paling nggak kalau kamu menuliskannya dengan cara dan pikiran kamu sendiri, nggak akan ada orang iseng menuliskan sesuatu seperti ini tentang kamu.
Kamis, 05 November 2009
The Hunger Games~Suzanne Collins
Reality show di alam liar. Pasti langsung kebayang Survivor deh. Tapi gimana kalau peserta-peserta reality show itu dipaksa ikut, bukan menawarkan diri? Dan gimana kalau cara keluar hidup-hidup dari acara TV itu hanya dengan menjadi pemenang dan membunuh semua lawan?
Alkisah, tidak ada lagi yang namanya Amerika Serikat. Di lokasi bekas negara itu berdiri negara Panem, yang terdiri atas Capitol (ibu kotanya) dan 12 Distrik. Orang-orang hidup seperti di zaman batu... atau tepatnya seperti dalam film-film Mad Max atau Waterworld—saat di bumi sudah tidak ada apa-apa lagi, cuma padang pasir atau laut tak berbatas atau... yah, penguasa negeri yang keji dan tiran.
Capitol—si penguasa tiran—mengadakan Hunger Games tiap tahun. Tujuan permainan ini adalah memberi peringatan pada 12 Distrik bawahannya, bahwa Capitol-lah yang berkuasa. Dalam permainan ini, ke-12 distrik harus menyumbang sepasang remaja laki-laki dan perempuan sebagai pesertanya. Jadi total peserta 24 orang. Mereka ditempatkan di wilayah imajiner yang dibuat sesuai kepentingan permainan, dan dipersilakan saling membunuh di sana. Yang terakhir hidup adalah pemenangnya.
Tak usah disebutkan lagi, semua orang benci Capitol, tapi tidak berani melawannya. Sedikit yang masih punya keberanian masih bisa mengisi perut. Seperti Katniss Everdeen, cewek 16 tahun, dari Distrik 12, yang masih berani berburu di hutan, meskipun itu terlarang. Sehari-hari sepulang sekolah Katniss berburu ditemani Gale, cowok 17 tahun. Hubungan mereka... mmm... bukan pacar, cuma teman baik sekali.
Di hari pengundian nama peserta Hunger Games tahun itu (yang wajib diikuti oleh semua remaja umur 12-18 tahun), nama Primrose, adik Katniss keluar sebagai peserta. Tanpa pikir panjang Katniss mengajukan diri sebagai gantinya. Bersamanya terpilih Peeta Mellark sebagai wakil Distrik 12.
Mulailah mereka sebagai boneka Capitol. Didandani, disuruh belajar berbagai cara penyelamatan diri di alam liar arena Hunger Games. Dan bersandiwara supaya bisa menarik perhatian para sponsor, karena bantuan sponsorlah yang bisa menentukan hidup/mati mereka di arena.
Peeta hebat sekali saat mengatakan dia jatuh cinta pada Katniss sejak kecil. Segera saja mereka memainkan pasangan cinta tak sampai dan menarik simpati jutaan penonton di Capitol serta seluruh Panem. Ditambah lagi, keunggulan Katniss berburu membuatnya tak terkalahkan dalam arena. Mereka bersembunyi di hutan arena, lari dari kejaran anak-anak distrik lain yang haus darah.
Pada akhirnya mereka mengubah peraturan Hunger Games. Tapi bagaimana hubungan Katniss dan Peeta sebenarnya? Bagaimana hubungan Katniss dengan Gale? Dan bagaimana pendapat Capitol tentang dua remaja dari Distrik 12 ini?
Membaca buku ini membuat kita membayangkan hal-hal yang tak terbayangkan. Misalnya, apa yang akan terjadi puluhan atau ratusan tahun dari sekarang? Apakah negara kita masih berdiri? Apakah negara adikuasa seperti Amerika masih berdiri? Apakah tiran dan kemasabodohan, seperti yang dulu di abad-abad kegelapan terjadi, bisa terjadi lagi? Apakah segala teknologi yang sekarang kita miliki ini bisa terus membantu kita, atau cuma akan membantu kelas-kelas masyarakat tertentu saja nantinya? Apakah kemiskinan akan terus ada, bahkan semakin menjurang dengan masyarakat kelas atas? Apakah selamanya manusia akan haus darah?
Daripada pusing berandai-andai, ikut saja berdebar-debar bersama Katniss dan Peeta dalam Hunger Games. Dan tunggu kelanjutan buku keduanya!
Alkisah, tidak ada lagi yang namanya Amerika Serikat. Di lokasi bekas negara itu berdiri negara Panem, yang terdiri atas Capitol (ibu kotanya) dan 12 Distrik. Orang-orang hidup seperti di zaman batu... atau tepatnya seperti dalam film-film Mad Max atau Waterworld—saat di bumi sudah tidak ada apa-apa lagi, cuma padang pasir atau laut tak berbatas atau... yah, penguasa negeri yang keji dan tiran.
Capitol—si penguasa tiran—mengadakan Hunger Games tiap tahun. Tujuan permainan ini adalah memberi peringatan pada 12 Distrik bawahannya, bahwa Capitol-lah yang berkuasa. Dalam permainan ini, ke-12 distrik harus menyumbang sepasang remaja laki-laki dan perempuan sebagai pesertanya. Jadi total peserta 24 orang. Mereka ditempatkan di wilayah imajiner yang dibuat sesuai kepentingan permainan, dan dipersilakan saling membunuh di sana. Yang terakhir hidup adalah pemenangnya.
Tak usah disebutkan lagi, semua orang benci Capitol, tapi tidak berani melawannya. Sedikit yang masih punya keberanian masih bisa mengisi perut. Seperti Katniss Everdeen, cewek 16 tahun, dari Distrik 12, yang masih berani berburu di hutan, meskipun itu terlarang. Sehari-hari sepulang sekolah Katniss berburu ditemani Gale, cowok 17 tahun. Hubungan mereka... mmm... bukan pacar, cuma teman baik sekali.
Di hari pengundian nama peserta Hunger Games tahun itu (yang wajib diikuti oleh semua remaja umur 12-18 tahun), nama Primrose, adik Katniss keluar sebagai peserta. Tanpa pikir panjang Katniss mengajukan diri sebagai gantinya. Bersamanya terpilih Peeta Mellark sebagai wakil Distrik 12.
Mulailah mereka sebagai boneka Capitol. Didandani, disuruh belajar berbagai cara penyelamatan diri di alam liar arena Hunger Games. Dan bersandiwara supaya bisa menarik perhatian para sponsor, karena bantuan sponsorlah yang bisa menentukan hidup/mati mereka di arena.
Peeta hebat sekali saat mengatakan dia jatuh cinta pada Katniss sejak kecil. Segera saja mereka memainkan pasangan cinta tak sampai dan menarik simpati jutaan penonton di Capitol serta seluruh Panem. Ditambah lagi, keunggulan Katniss berburu membuatnya tak terkalahkan dalam arena. Mereka bersembunyi di hutan arena, lari dari kejaran anak-anak distrik lain yang haus darah.
Pada akhirnya mereka mengubah peraturan Hunger Games. Tapi bagaimana hubungan Katniss dan Peeta sebenarnya? Bagaimana hubungan Katniss dengan Gale? Dan bagaimana pendapat Capitol tentang dua remaja dari Distrik 12 ini?
Membaca buku ini membuat kita membayangkan hal-hal yang tak terbayangkan. Misalnya, apa yang akan terjadi puluhan atau ratusan tahun dari sekarang? Apakah negara kita masih berdiri? Apakah negara adikuasa seperti Amerika masih berdiri? Apakah tiran dan kemasabodohan, seperti yang dulu di abad-abad kegelapan terjadi, bisa terjadi lagi? Apakah segala teknologi yang sekarang kita miliki ini bisa terus membantu kita, atau cuma akan membantu kelas-kelas masyarakat tertentu saja nantinya? Apakah kemiskinan akan terus ada, bahkan semakin menjurang dengan masyarakat kelas atas? Apakah selamanya manusia akan haus darah?
Daripada pusing berandai-andai, ikut saja berdebar-debar bersama Katniss dan Peeta dalam Hunger Games. Dan tunggu kelanjutan buku keduanya!
Garudayana~Is Yuniarto
Saya tertarik membeli komik lokal ini setelah membaca ulasannya dalam The Jakarta Globe. Terus terang, saya tertariknya karena tema komik ini soal wayang-wayang Mahabarata, soalnya dari kecil dulu saya sudah jadi penikmat Mahabarata dan Ramayana sih. (Baca ulasan sebelumnya soal The Palace of Illusions~Chitra Banerjee Divakaruni.)
Sekarang wayang dibuat komik modern... hmmm...
Kalau bicara komik, kita mesti bicara gambarnya. Dan gambar-gambar dalam Garudayana ini “Jepang bangeeet”! Hahaha... Tapi lucu-lucu kok. Saya suka tarikan garisnya yang bersih, dan tokoh-tokohnya yang ekspresif. Gambar tokoh-tokohnya juga bagus-bagus, terutama gambar tokoh Mas Ganteng Arjuna, yang pada pandangan pertama jadi... Legolas! Ha? (Kucek-kucek mata!) Legolas? Benar? Tapi kok namanya Arjuna... hahaha... whatever... Jelas Is Yuniarso berhasil banget menuangkan sosok Arjuna yang jadi pujaan kaum perempuan.
Soal kisah dan penceritaan Is Yuniarso juga berhasil banget menciptakan dan menganyam tokoh-tokoh baru ke dalam cerita yang sudah ada pakemnya. Tokoh Kinara dan si burung Garuda kecil ini pas banget untuk jadi sentral cerita. Mereka juga yang menghidupkan cerita dan membuat saya ketawa-ketawa geli melihat gambar-gambar ekspresi mereka.
Kisahnya diawali dari tokoh Kinara muncul di Lembah Para Batara dengan tujuan merampok kuburan. Kinara langsung diserang siluman harimau dan beraksi bak AJo di Tomb Raider. Huh, pokoknya seru bo! Sembari beraksi (plus adegan dagelan, namanya juga komik), Kinara mendengar suara minta tolong. Ternyata suara itu datang dari telur Garuda yang disimpan siap disantap Ashuka (raksasa). Memegang si telur, Kinara lalu dikejar si raksasa. Tapi kemudian muncul Gatotkaca... Sementara Kinara dan si Garuda kecil yang baru menetas selamat. Tapi mereka kemudian terjebak dalam perebutan Garuda antara pihak Pandawa dan Kurawa. Huuu... seru...
Ditutup dalam sesaat santai yang digunakan Garuda untuk belajar terbang, mungkin ini komik Indonesia yang saya rasa sukses dalam hal gambar dan cerita. Tentu jadi nggak sabar baca buku keduanya!
Sekarang wayang dibuat komik modern... hmmm...
Kalau bicara komik, kita mesti bicara gambarnya. Dan gambar-gambar dalam Garudayana ini “Jepang bangeeet”! Hahaha... Tapi lucu-lucu kok. Saya suka tarikan garisnya yang bersih, dan tokoh-tokohnya yang ekspresif. Gambar tokoh-tokohnya juga bagus-bagus, terutama gambar tokoh Mas Ganteng Arjuna, yang pada pandangan pertama jadi... Legolas! Ha? (Kucek-kucek mata!) Legolas? Benar? Tapi kok namanya Arjuna... hahaha... whatever... Jelas Is Yuniarso berhasil banget menuangkan sosok Arjuna yang jadi pujaan kaum perempuan.
Soal kisah dan penceritaan Is Yuniarso juga berhasil banget menciptakan dan menganyam tokoh-tokoh baru ke dalam cerita yang sudah ada pakemnya. Tokoh Kinara dan si burung Garuda kecil ini pas banget untuk jadi sentral cerita. Mereka juga yang menghidupkan cerita dan membuat saya ketawa-ketawa geli melihat gambar-gambar ekspresi mereka.
Kisahnya diawali dari tokoh Kinara muncul di Lembah Para Batara dengan tujuan merampok kuburan. Kinara langsung diserang siluman harimau dan beraksi bak AJo di Tomb Raider. Huh, pokoknya seru bo! Sembari beraksi (plus adegan dagelan, namanya juga komik), Kinara mendengar suara minta tolong. Ternyata suara itu datang dari telur Garuda yang disimpan siap disantap Ashuka (raksasa). Memegang si telur, Kinara lalu dikejar si raksasa. Tapi kemudian muncul Gatotkaca... Sementara Kinara dan si Garuda kecil yang baru menetas selamat. Tapi mereka kemudian terjebak dalam perebutan Garuda antara pihak Pandawa dan Kurawa. Huuu... seru...
Ditutup dalam sesaat santai yang digunakan Garuda untuk belajar terbang, mungkin ini komik Indonesia yang saya rasa sukses dalam hal gambar dan cerita. Tentu jadi nggak sabar baca buku keduanya!
Rabu, 29 Juli 2009
Palace of Illusions ~ Chitra Banerjee Divakaruni
“Mahabarata dari sudut pandang Dropadi.”
Waw! Sebagai penggemar Mahabarata saya sudah membaca berbagai versinya. Mulai dari cerita bergambar, sampai kitab lusuh yang berpanjang-panjang memuat percakapan Arjuna dan Kresna saat Arjuna dilanda kebimbangan di medan perang. Tapi belakangan saya agak malas membaca berbagai versi baru Mahabarata yang muncul di toko buku. What's new?
Inilah yang “new”, Mahabarata dari sudut pandang Dropadi. Tokoh kontroversial yang selama ini sangat sedikit diulas, meskipun perannya dalam mencetuskan perang raya di padang Kurusetra lumayan besar. Dan tentu saja versi Mahabarata yang ini sangat baru, karena dipandang dari mata seorang perempuan. Waw! (Sekali lagi.) Divakaruni benar-benar iseng, nekat, sangat imajinatif, dan berani! Dan hasilnya adalah kisah yang benar-benar baru. Penuh rasa, penuh detail, penuh emosi, sangat perempuan. Saya sangat menikmati membaca Mahabarata yang ini.
Diawali dengan latar belakang Dropadi (saya merasa agak aneh dengan penulisan nama ini karena lebih terbiasa dengan “Drupadi”) yang jarang-jarang terungkap, kisah ini awalnya mengalir mulus dan riang. Dropadi cilik sampai remaja adalah gadis cerdas yang selalu ingin tahu dan tidak sabaran. Juga agak tidak pede karena kulitnya hitam. Tapi dia diselimuti cinta kakaknya, Drestadyumna (susah bener, untung sepanjang cerita dia disebut Dre saja) dan sahabatnya Krishna.
Dre dan Dropadi lahir karena ayah mereka, Raja Dropada, ingin balas dendam pada Dorna, brahmana guru para Pandawa dan Korawa. Oleh karena itu Dre dididik komplet soal pemerintahan dan pertarungan, sementra Dropadi nebeng pendidikannya. Tapi sebagai gadis, Dropadi terpaksa tidak bisa mengikuti seluruh langkah Dre, dan harus juga belajar hal-hal kewanitaan.
Suatu saat Dropadi ikut pengasuhnya ke seorang brahmana peramal. Oleh sang brahmana, Byasa (yang menuliskan kisah Mahabarata, dan ikut berperan di dalamnya) Dropadi diberitahu dia akan memiliki 5 suami, dan masa depannya akan heboh banget, terutama karena sifatnya yang tidak sabaran dan pemarah. Dropadi tentu tidak percaya pada ramalan itu. Ia hanya senang karena sang brahmana memberinya nama baru, Panchali.
Selang beberapa lama, Raja Dropada membuat sayembara untuk menikahkan Dropadi. Sasarannya adalah Arjuna, supaya para Pandawa bisa menjadi sekutu mereka saat konfrontasi dengan Drona datang. Saat sayembara, Dropadi menghina Karna (sahabat Duryudana, Raja Angga dan yang disangka anak kusir kereta). Mulailah hubungan cinta dan benci keduanya. Seperti yang diinginkan, Arjuna memenangkan Dropadi dan membawanya kepada saudara-saudaranya. Tak disangka, di pintu rumah, gurauan Bima disambut Kunti (ibu para Pandawa) dengan “Apa pun yang kalian bawa itu harus dibagi untuk kelima putraku.” Dengan demikian jadilah Dropadi istri kelima Pandawa, sesuai ramalan Byasa. Dengan pengaturan tertentu, Dropadi berganti suami setiap satu tahun sekali.
Para Pandawa membawa Dropadi ke Hastinapura, lalu ke daerah yang diberikan Drestarata si raja buta kepada mereka. Di daerah baru itu mereka membangun Istana Khayalan, tempat yang sangat dicintai Dropadi. Wilayah yang asalnya gersang itu pun segera menjadi makmur, dan disebut Indraprastha.
Bencana datang dalam bentuk permainan dadu. Saat memenuhi undangan Duryudana untuk datang ke Hastinapura, Yudistira kalah main dadu dan kehilangan segalanya; kekayaan, istana, adik-adiknya, dan bahkan Dropadi. Dropadi diseret ke ruang singgasana, dan akan ditelanjangi. Dengan bantuan dewata, niat jahat itu gagal. Dropadi bersumpah tidak akan menyisir rambutnya lagi sebelum mengeramasinya dengan darah para Korawa.
Para Pandawa terbuang ke hutan selama 12 tahun. Dropadi menyertai suami-suaminya. Di tahun ke-13, mereka bersembunyi di istana Wirata. Selanjutnya menyusun kekuatan untuk menyerang para Korawa.
Di bagian ini cerita menjadi gelap karena Divakaruni dengan piawai memaparkan dendam dan kebencian perempuan yang dipermalukan. Perempuan yang harus mendorong para lelakinya untuk membela kehormatan dirinya. Perempuan yang berusaha dengan cara apa pun untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Perempuan yang mengerikan.
Perang pecah, dan berakhir mengerikan. Meskipun Pandawa menang, tapi mereka kehilangan makna kemenangan itu sendiri. Saat mereka memerintah Hastinapura dan menjadikannya kerajaan yang makmur sekalipun, bayang-bayang dosa-dosa perang tidak bisa meninggalkan mereka.
Secara garis besar, kisah ini sama sekali tidak melenceng dari Mahabarata yang saya kenal. Tapi bumbu-bumbunya membuat kisah ini berbeda. Dan makna yang tersirat pada kisah ini sangat jelas. Belajarlah mengontrol emosi, belajarnya menjadi dewasa, buanglah dendam. Dan tentu saja, tidak ada manusia yang sempurna. Selain itu kisah cinta Dropadi dengan lelaki-lelakinya juga sangat menarik. Utamanya hubungannya dengan Karna dan Krishna. Betapa Dropadi mencintai Krishna secara platonis, selalu kehilangan Krishna, selalu ingin didampingi Raja Dwaraka itu. Sementara dengan Karna, hati Dropadi terbelah. Sedari remaja dia naksir sang Raja Angga, tapi takdir menetapkan mereka selalu berseberangan. Di detik terakhir, Dropadi baru tahu bahwa Karna pun mencintainya, tapi sudah takdir Karna untuk mati di padang Kurusetra.
Anyway, siapa pun yang tertarik pada Mahabarata atau pada seluk-beluk gelap pikiran perempuan harus membaca buku ini. It's a page turner, jelas tidak rugi menguliknya.
Waw! Sebagai penggemar Mahabarata saya sudah membaca berbagai versinya. Mulai dari cerita bergambar, sampai kitab lusuh yang berpanjang-panjang memuat percakapan Arjuna dan Kresna saat Arjuna dilanda kebimbangan di medan perang. Tapi belakangan saya agak malas membaca berbagai versi baru Mahabarata yang muncul di toko buku. What's new?
Inilah yang “new”, Mahabarata dari sudut pandang Dropadi. Tokoh kontroversial yang selama ini sangat sedikit diulas, meskipun perannya dalam mencetuskan perang raya di padang Kurusetra lumayan besar. Dan tentu saja versi Mahabarata yang ini sangat baru, karena dipandang dari mata seorang perempuan. Waw! (Sekali lagi.) Divakaruni benar-benar iseng, nekat, sangat imajinatif, dan berani! Dan hasilnya adalah kisah yang benar-benar baru. Penuh rasa, penuh detail, penuh emosi, sangat perempuan. Saya sangat menikmati membaca Mahabarata yang ini.
Diawali dengan latar belakang Dropadi (saya merasa agak aneh dengan penulisan nama ini karena lebih terbiasa dengan “Drupadi”) yang jarang-jarang terungkap, kisah ini awalnya mengalir mulus dan riang. Dropadi cilik sampai remaja adalah gadis cerdas yang selalu ingin tahu dan tidak sabaran. Juga agak tidak pede karena kulitnya hitam. Tapi dia diselimuti cinta kakaknya, Drestadyumna (susah bener, untung sepanjang cerita dia disebut Dre saja) dan sahabatnya Krishna.
Dre dan Dropadi lahir karena ayah mereka, Raja Dropada, ingin balas dendam pada Dorna, brahmana guru para Pandawa dan Korawa. Oleh karena itu Dre dididik komplet soal pemerintahan dan pertarungan, sementra Dropadi nebeng pendidikannya. Tapi sebagai gadis, Dropadi terpaksa tidak bisa mengikuti seluruh langkah Dre, dan harus juga belajar hal-hal kewanitaan.
Suatu saat Dropadi ikut pengasuhnya ke seorang brahmana peramal. Oleh sang brahmana, Byasa (yang menuliskan kisah Mahabarata, dan ikut berperan di dalamnya) Dropadi diberitahu dia akan memiliki 5 suami, dan masa depannya akan heboh banget, terutama karena sifatnya yang tidak sabaran dan pemarah. Dropadi tentu tidak percaya pada ramalan itu. Ia hanya senang karena sang brahmana memberinya nama baru, Panchali.
Selang beberapa lama, Raja Dropada membuat sayembara untuk menikahkan Dropadi. Sasarannya adalah Arjuna, supaya para Pandawa bisa menjadi sekutu mereka saat konfrontasi dengan Drona datang. Saat sayembara, Dropadi menghina Karna (sahabat Duryudana, Raja Angga dan yang disangka anak kusir kereta). Mulailah hubungan cinta dan benci keduanya. Seperti yang diinginkan, Arjuna memenangkan Dropadi dan membawanya kepada saudara-saudaranya. Tak disangka, di pintu rumah, gurauan Bima disambut Kunti (ibu para Pandawa) dengan “Apa pun yang kalian bawa itu harus dibagi untuk kelima putraku.” Dengan demikian jadilah Dropadi istri kelima Pandawa, sesuai ramalan Byasa. Dengan pengaturan tertentu, Dropadi berganti suami setiap satu tahun sekali.
Para Pandawa membawa Dropadi ke Hastinapura, lalu ke daerah yang diberikan Drestarata si raja buta kepada mereka. Di daerah baru itu mereka membangun Istana Khayalan, tempat yang sangat dicintai Dropadi. Wilayah yang asalnya gersang itu pun segera menjadi makmur, dan disebut Indraprastha.
Bencana datang dalam bentuk permainan dadu. Saat memenuhi undangan Duryudana untuk datang ke Hastinapura, Yudistira kalah main dadu dan kehilangan segalanya; kekayaan, istana, adik-adiknya, dan bahkan Dropadi. Dropadi diseret ke ruang singgasana, dan akan ditelanjangi. Dengan bantuan dewata, niat jahat itu gagal. Dropadi bersumpah tidak akan menyisir rambutnya lagi sebelum mengeramasinya dengan darah para Korawa.
Para Pandawa terbuang ke hutan selama 12 tahun. Dropadi menyertai suami-suaminya. Di tahun ke-13, mereka bersembunyi di istana Wirata. Selanjutnya menyusun kekuatan untuk menyerang para Korawa.
Di bagian ini cerita menjadi gelap karena Divakaruni dengan piawai memaparkan dendam dan kebencian perempuan yang dipermalukan. Perempuan yang harus mendorong para lelakinya untuk membela kehormatan dirinya. Perempuan yang berusaha dengan cara apa pun untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Perempuan yang mengerikan.
Perang pecah, dan berakhir mengerikan. Meskipun Pandawa menang, tapi mereka kehilangan makna kemenangan itu sendiri. Saat mereka memerintah Hastinapura dan menjadikannya kerajaan yang makmur sekalipun, bayang-bayang dosa-dosa perang tidak bisa meninggalkan mereka.
Secara garis besar, kisah ini sama sekali tidak melenceng dari Mahabarata yang saya kenal. Tapi bumbu-bumbunya membuat kisah ini berbeda. Dan makna yang tersirat pada kisah ini sangat jelas. Belajarlah mengontrol emosi, belajarnya menjadi dewasa, buanglah dendam. Dan tentu saja, tidak ada manusia yang sempurna. Selain itu kisah cinta Dropadi dengan lelaki-lelakinya juga sangat menarik. Utamanya hubungannya dengan Karna dan Krishna. Betapa Dropadi mencintai Krishna secara platonis, selalu kehilangan Krishna, selalu ingin didampingi Raja Dwaraka itu. Sementara dengan Karna, hati Dropadi terbelah. Sedari remaja dia naksir sang Raja Angga, tapi takdir menetapkan mereka selalu berseberangan. Di detik terakhir, Dropadi baru tahu bahwa Karna pun mencintainya, tapi sudah takdir Karna untuk mati di padang Kurusetra.
Anyway, siapa pun yang tertarik pada Mahabarata atau pada seluk-beluk gelap pikiran perempuan harus membaca buku ini. It's a page turner, jelas tidak rugi menguliknya.
Minggu, 12 Juli 2009
Belajar Mengarang
Cukup sering orang bertanya bagaimana caranya jadi pengarang kepada saya. Pertanyaan yang agak sulit saya jawab, karena saya “menjadi pengarang” dengan learning by doing. Saya tidak pernah ikut kursus, tidak pernah benar-benar hafal apa bedanya deskripsi, narasi, persuasi, dkk itu, dan tidak pernah benar-benar punya guru juga. Tapi secara umum, inilah yang saya lakukan.
1.Fokus
Maksudnya, kamu mau jadi pengarang apa? Zaman sekarang pengarang dan jenisnya tumbuh kayak jamur di musim penghujan (hah, ungkapannya lame banget!) Ada pengarang novel, ada pengarang blog, ada pengarang artikel di koran, ada pengarang cerita sinetron, ada pengarang skenario film. Masing-masingnya masih bercabang lagi, ada pengarang cerita horor, ada pengarang artikel olahraga, ada pengarang artikel perjalanan, ada pengarang ulasan gadget terbaru, and so on, and so on. Banyak banget. Kamu mau yang mana? Tentu kamu harus pilih mana yang paling kamu suka. Mana yang paling kamu kenal. Zaman saya baru lulus SMA dulu, saya suka banget sama musik dan cerita fiksi, jadi saya pengin banget kerja di Rolling Stone, jadi penulis musik yang kerjanya ngeliput konser-konser (imbas kebanyakan baca HAI yang waktu itu asyik banget juga sih.) So, saat itu saya fokus untuk jadi penulis artikel musik. Saya mendengarkan banyak kaset (yap, masih zaman kaset) dan berusaha memberi komentar cerdas bagi apa yang saya dengar. Saya juga banyak membaca soal musik masa kini dan sejarahnya. Blablabla... Pokoknya itu “era musik” dalam hidup saya.
2.Jangan berhenti, terus menulis
Begitu berhenti, mulai lagi akan terasa kaku. Contoh paling jelas yang saat ini saya alami. Mengurus anak membuat saya berhenti nge-blog. Alhasil, tulisan pun menurun dalam hal kualitas dan kuantitasnya.
Sebaliknya, tahun 2005, saat saya mengalami ledakan kreatifitas, tulisan mengalir tiada henti. Cerpen-cerpen saya beberapa berhasil dipublikasikan, meskipun bukan di media kelas satu juga. Artikel-artikel perjalanan saya pun beberapa berhasil nampang di majalah.
Jadi, teruslah menulis, mau itu cuma catatan harian, mau itu tulisan serius. Atau bahkan daftar belanja sekalipun. Menulis membuat kamu berpikir, dan semakin banyak kamu berpikir semakin lancar kamu menulis. Ini efek bola salju yang diinginkan, bukan?
3.Be creative
Lihat ungkapan “jamur di musim penghujan” di poin 1? Basi banget, kan? Mestinya kamu bisa lebih kreatif dari saya dan menciptakan ungkapan baru untuk “banyak banget”. Apa kek, laron ngerubungin lampu, misalnya. Atau ikan teri dalam tampah di pasar. Atau beras di lumbung. Apa pun deh. Terus terang tahun-tahun belakangan ini kreatifitas saya menurun drastis. Zaman saya masih kuliah dulu, saya bisa menciptakan ucapan yang benar-benar asyik dalam kartu ulang tahun untuk teman-teman saya. Sekarang? Bah, paling-paling saya cuma bilang “semoga segala yang indah-indah ya!” Menyedihkan.
4.Baca, baca, baca
Terutama bacaan yang ingin kamu jadikan sasaran. Maksud saya, kalau kayak saya zaman dulu itu, pengin jadi penulis musik, ya kamu mesti banyak-banyak baca soal musik. Kalau pengin jadi pengarang novel kayak Agatha Christie, ya bacalah novel-novel dia. Kalau pengin jadi penulis politik, bacalah buku “Interview with History”-nya Oriana Fallaci atau biografinya Barrack Obama. Selain itu baca juga artikel-artikel atau buku-buku yang menunjang. Semakin banyak kamu membaca, semakin banyak pengetahuan kamu, dan semakin kaya dan asyik tulisan kamu nanti.
5.Riset
Mungkin contoh riset yang bagus adalah Bilangan Fu-nya Ayu Utami. Bukan sekadar membaca dan meng-google, Ayu Utami sekalian jadi pemanjat tebing. Cuma mungkin riset dia agak terlalu lama sih. Lama atau cepatnya riset ini ya mesti tergantung sama jenis tulisan juga. Misalnya wartawan yang nulis soal meninggalnya Michael Jackson kemarin paling-paling mengambil bahan tulisannya dari artikel-artikel yang dia google, tapi kalau kamu mau menulis soal kisah cinta atlet berkuda gitu mungkin ya kamu mesti belajar naik kuda juga, sama kayak Ayu Utami belajar panjat tebing. Anyway, sebenarnya riset Ayu Utami tidak sekadar panjat tebingnya sih, tapi juga soal keadaan sosial politik agama seksualitas dll dsb.
Selain riset bacaan, tontonan, dll., kamu juga mesti jadi pengamat kehidupan. After all, itu kan yang akan kamu tulis?
6.Ambil jarak dan terima kritik
Kalau tulisan kamu sekadar artikel, yang artinya masa hidupnya agak pendek, maka mungkin kamu tidak sempat ambil jarak. Tapi kamu tetap bisa terima kritik. Biasanya saya agak manyun kalau dikritik... hehehe... Tapi setelahnya, saya biasa akan memikirkan kritik itu lagi dan berusaha menerapkannya pada tulisan berikutnya.
Lain halnya kalau yang kamu tulis itu novel panjang. Dalam bukunya, On Writing, Stephen King mengaku bahwa setelah selesai menulis satu novel, dia akan menggudangkan naskah itu paling tidak selama enam bulan. Selama enam bulan itu dia berusaha tidak memikirkan novel tersebut. Dia akan menulis novel baru, jalan-jalan, main-main, nonton film, ngapain aja deh asalkan tidak berkaitan dengan novel itu. Setelah ada jarak, baru dia membuka lagi novel yang bersangkutan. Biasa dia jadi punya perspektif baru tentang novel itu, dan bisa melakukan autokritik yang bagus. Dia bisa melihat kelemahan-kelemahan novel itu, dan memperbaikinya. Dia bisa melihat bagian-bagian yang harus ditambah, simpul yang masih belum erat, dll. Masalahnya, saya tahu banget para pengarang Indonesia—terutama yang muda-muda ini, semuanya tidak sabaran!
7.Jejaring dan teman-teman
SKSD alias sok-kenal-sok-dekat sering kali berguna juga untuk membuat tulisan kamu jadi dimuat. Pertama kali saya berhasil menulis dan dimuat di majalah karena awalnya saya menulis surat pada redaktur majalah yang saya kagumi. Bukan hanya itu, dengan SKSD-nya, saya lalu menelepon redaktur yang bersangkutan, menanyakan apakah dia sudah menerima surat dan contoh tulisan saya. Berikutnya, saya mendapat order untuk membuat tulisan bagi dia! Yay!
Di luar urusan muat-memuat dan terbit-menerbitkan tulisan, teman-teman juga berguna sekali sebagai pembaca pertama. Siapa lagi korban kita kalau bukan mereka? Sahabat saya dengan tanpa perasaannya berkata, “Lo harus bercerita dong, Say...” saat saya minta dia membaca novel saya (yang sampai sekarang belum terbit juga) Kejamnya dirinya! Tapi dia membuat saya kemudian menyadari novel itu masih kurang berdaging.
8.Kirim-kirim
Jangan malu-malu untuk mengirim tulisan. Risiko paling jelek apaan sih? Setelah setahun tidak ada kabar, tulisan kamu terus ditolak? Biasaaaaaaa... Yang penting kamu tidak mati, kan? Masih ada napas berarti masih ada kesempatan buat menulis lagi. Jangan berhenti! Maju terus!
Yang penting dalam hal kirim-mengirim ini, perhatikan karakter penerbit yang kamu tuju. Kalau kamu menulis artikel berbau agama, jangan kirim ke majalah remaja (kecuali memang untuk edisi khusus hari raya agama yang bersangkutan). Kalau kamu menulis artikel tentang memancing ya jangan dikirim ke majalah ibu-ibu. Tanpa menunggu berbulan-bulan, artikel kamu pasti ditolak.
Itu cuma contoh ekstrem. Perhatikan detailnya, perhatikan tema apa yang biasa diterbitkan, perhatikan gaya penulisan yang diterbitkan. Buka situs penerbit tujuan kamu, cari tahu syarat-syarat mengirim naskah ke sana. Dan akhirnya, kirimkan naskah yang “bersih”. Soal naskah yang bersih ini pernah saya bahas dalam posting sebelumnya.
Jadi, mungkin tips-tips ini agak basi. Tapi inti besarnya adalah, jangan menyerah dan terus berlatih! Tetap semangat!
1.Fokus
Maksudnya, kamu mau jadi pengarang apa? Zaman sekarang pengarang dan jenisnya tumbuh kayak jamur di musim penghujan (hah, ungkapannya lame banget!) Ada pengarang novel, ada pengarang blog, ada pengarang artikel di koran, ada pengarang cerita sinetron, ada pengarang skenario film. Masing-masingnya masih bercabang lagi, ada pengarang cerita horor, ada pengarang artikel olahraga, ada pengarang artikel perjalanan, ada pengarang ulasan gadget terbaru, and so on, and so on. Banyak banget. Kamu mau yang mana? Tentu kamu harus pilih mana yang paling kamu suka. Mana yang paling kamu kenal. Zaman saya baru lulus SMA dulu, saya suka banget sama musik dan cerita fiksi, jadi saya pengin banget kerja di Rolling Stone, jadi penulis musik yang kerjanya ngeliput konser-konser (imbas kebanyakan baca HAI yang waktu itu asyik banget juga sih.) So, saat itu saya fokus untuk jadi penulis artikel musik. Saya mendengarkan banyak kaset (yap, masih zaman kaset) dan berusaha memberi komentar cerdas bagi apa yang saya dengar. Saya juga banyak membaca soal musik masa kini dan sejarahnya. Blablabla... Pokoknya itu “era musik” dalam hidup saya.
2.Jangan berhenti, terus menulis
Begitu berhenti, mulai lagi akan terasa kaku. Contoh paling jelas yang saat ini saya alami. Mengurus anak membuat saya berhenti nge-blog. Alhasil, tulisan pun menurun dalam hal kualitas dan kuantitasnya.
Sebaliknya, tahun 2005, saat saya mengalami ledakan kreatifitas, tulisan mengalir tiada henti. Cerpen-cerpen saya beberapa berhasil dipublikasikan, meskipun bukan di media kelas satu juga. Artikel-artikel perjalanan saya pun beberapa berhasil nampang di majalah.
Jadi, teruslah menulis, mau itu cuma catatan harian, mau itu tulisan serius. Atau bahkan daftar belanja sekalipun. Menulis membuat kamu berpikir, dan semakin banyak kamu berpikir semakin lancar kamu menulis. Ini efek bola salju yang diinginkan, bukan?
3.Be creative
Lihat ungkapan “jamur di musim penghujan” di poin 1? Basi banget, kan? Mestinya kamu bisa lebih kreatif dari saya dan menciptakan ungkapan baru untuk “banyak banget”. Apa kek, laron ngerubungin lampu, misalnya. Atau ikan teri dalam tampah di pasar. Atau beras di lumbung. Apa pun deh. Terus terang tahun-tahun belakangan ini kreatifitas saya menurun drastis. Zaman saya masih kuliah dulu, saya bisa menciptakan ucapan yang benar-benar asyik dalam kartu ulang tahun untuk teman-teman saya. Sekarang? Bah, paling-paling saya cuma bilang “semoga segala yang indah-indah ya!” Menyedihkan.
4.Baca, baca, baca
Terutama bacaan yang ingin kamu jadikan sasaran. Maksud saya, kalau kayak saya zaman dulu itu, pengin jadi penulis musik, ya kamu mesti banyak-banyak baca soal musik. Kalau pengin jadi pengarang novel kayak Agatha Christie, ya bacalah novel-novel dia. Kalau pengin jadi penulis politik, bacalah buku “Interview with History”-nya Oriana Fallaci atau biografinya Barrack Obama. Selain itu baca juga artikel-artikel atau buku-buku yang menunjang. Semakin banyak kamu membaca, semakin banyak pengetahuan kamu, dan semakin kaya dan asyik tulisan kamu nanti.
5.Riset
Mungkin contoh riset yang bagus adalah Bilangan Fu-nya Ayu Utami. Bukan sekadar membaca dan meng-google, Ayu Utami sekalian jadi pemanjat tebing. Cuma mungkin riset dia agak terlalu lama sih. Lama atau cepatnya riset ini ya mesti tergantung sama jenis tulisan juga. Misalnya wartawan yang nulis soal meninggalnya Michael Jackson kemarin paling-paling mengambil bahan tulisannya dari artikel-artikel yang dia google, tapi kalau kamu mau menulis soal kisah cinta atlet berkuda gitu mungkin ya kamu mesti belajar naik kuda juga, sama kayak Ayu Utami belajar panjat tebing. Anyway, sebenarnya riset Ayu Utami tidak sekadar panjat tebingnya sih, tapi juga soal keadaan sosial politik agama seksualitas dll dsb.
Selain riset bacaan, tontonan, dll., kamu juga mesti jadi pengamat kehidupan. After all, itu kan yang akan kamu tulis?
6.Ambil jarak dan terima kritik
Kalau tulisan kamu sekadar artikel, yang artinya masa hidupnya agak pendek, maka mungkin kamu tidak sempat ambil jarak. Tapi kamu tetap bisa terima kritik. Biasanya saya agak manyun kalau dikritik... hehehe... Tapi setelahnya, saya biasa akan memikirkan kritik itu lagi dan berusaha menerapkannya pada tulisan berikutnya.
Lain halnya kalau yang kamu tulis itu novel panjang. Dalam bukunya, On Writing, Stephen King mengaku bahwa setelah selesai menulis satu novel, dia akan menggudangkan naskah itu paling tidak selama enam bulan. Selama enam bulan itu dia berusaha tidak memikirkan novel tersebut. Dia akan menulis novel baru, jalan-jalan, main-main, nonton film, ngapain aja deh asalkan tidak berkaitan dengan novel itu. Setelah ada jarak, baru dia membuka lagi novel yang bersangkutan. Biasa dia jadi punya perspektif baru tentang novel itu, dan bisa melakukan autokritik yang bagus. Dia bisa melihat kelemahan-kelemahan novel itu, dan memperbaikinya. Dia bisa melihat bagian-bagian yang harus ditambah, simpul yang masih belum erat, dll. Masalahnya, saya tahu banget para pengarang Indonesia—terutama yang muda-muda ini, semuanya tidak sabaran!
7.Jejaring dan teman-teman
SKSD alias sok-kenal-sok-dekat sering kali berguna juga untuk membuat tulisan kamu jadi dimuat. Pertama kali saya berhasil menulis dan dimuat di majalah karena awalnya saya menulis surat pada redaktur majalah yang saya kagumi. Bukan hanya itu, dengan SKSD-nya, saya lalu menelepon redaktur yang bersangkutan, menanyakan apakah dia sudah menerima surat dan contoh tulisan saya. Berikutnya, saya mendapat order untuk membuat tulisan bagi dia! Yay!
Di luar urusan muat-memuat dan terbit-menerbitkan tulisan, teman-teman juga berguna sekali sebagai pembaca pertama. Siapa lagi korban kita kalau bukan mereka? Sahabat saya dengan tanpa perasaannya berkata, “Lo harus bercerita dong, Say...” saat saya minta dia membaca novel saya (yang sampai sekarang belum terbit juga) Kejamnya dirinya! Tapi dia membuat saya kemudian menyadari novel itu masih kurang berdaging.
8.Kirim-kirim
Jangan malu-malu untuk mengirim tulisan. Risiko paling jelek apaan sih? Setelah setahun tidak ada kabar, tulisan kamu terus ditolak? Biasaaaaaaa... Yang penting kamu tidak mati, kan? Masih ada napas berarti masih ada kesempatan buat menulis lagi. Jangan berhenti! Maju terus!
Yang penting dalam hal kirim-mengirim ini, perhatikan karakter penerbit yang kamu tuju. Kalau kamu menulis artikel berbau agama, jangan kirim ke majalah remaja (kecuali memang untuk edisi khusus hari raya agama yang bersangkutan). Kalau kamu menulis artikel tentang memancing ya jangan dikirim ke majalah ibu-ibu. Tanpa menunggu berbulan-bulan, artikel kamu pasti ditolak.
Itu cuma contoh ekstrem. Perhatikan detailnya, perhatikan tema apa yang biasa diterbitkan, perhatikan gaya penulisan yang diterbitkan. Buka situs penerbit tujuan kamu, cari tahu syarat-syarat mengirim naskah ke sana. Dan akhirnya, kirimkan naskah yang “bersih”. Soal naskah yang bersih ini pernah saya bahas dalam posting sebelumnya.
Jadi, mungkin tips-tips ini agak basi. Tapi inti besarnya adalah, jangan menyerah dan terus berlatih! Tetap semangat!
Khatulistiwa-Edward Stefanus Murdani
Di negara kepulauan terbesar di dunia ini, sebetulnya menyedihkan tidak banyak novel yang menjadikan laut, berenang, berlayar, dan main-main air sebagai latar belakangnya. Syukurlah ada Khatulistiwa.
Tema pelayaran erat sekali membungkus semua alur cerita novel ini. Khatulistiwa adalah nama perahu layar mungil yang dimiliki Alex, tokoh utamanya. Yah, meskipun Indonesia negara kepulauan, tapi nggak semua orang di negara ini bisa punya perahu sih. Alex kebetulan beruntung karena kakeknya yang pengusaha perkapalan besar (jenis tanker gitu kali) mewariskan perahu layar ini pada cucu semata wayangnya.
Alex lebih banyak menghabiskan waktunya di atas Khatulistiwa dan berlayar mengelilingi Kepulauan Seribu di utara Jakarta. Pasalnya, dia memang gerah di rumah karena orangtuanya acap bertengkar soal ini-itu. Selain itu, Alex juga “menghindar” dari Siska, cewek yang ditaksirnya, karena mendapat peringatan dari ibu cewek itu bahwa Siska sudah dijodohkan dengan Randy, anak teman bisnis keluarga mereka.
Saat libur kelulusan SMA, Alex berniat berlayar agak jauh ke Kepulauan Karimun Jawa di utara Semarang, dan pulang untuk minta izin orangtuanya. Tak disangka, begitu sampai di rumah, dia menyaksikan orangtuanya sedang bertengkar dan ayahnya menyebut dirinya anak haram. Bukan hanya itu, ayahnya juga memukul ibunya. Alex balik memukul ayahnya, lalu lari kembali ke Khatulistiwa.
Setelah mengetahui ayah kandungnya ternyata tinggal di Kepulauan Natuna, Alex putar haluan ke utara, berniat pergi ke kepulauan dekat Singapura itu untuk mencari ayahnya. Siska ingin ikut, karena ingin menjauh juga dari Randy.
Mulailah kedua remaja itu menyusun rencana. Alex mengajari Siska berbagai hal mengenai pelayaran dan cara menjalankan kapal. Siska menyetok gudang Khatulistiwa dengan berbagai makanan enak untuk bekal selama perjalanan.
Persiapan mereka diganggu Randy yang sempat meracun Skipper—anjing golden retriever kesayangan Alex. Untung Skipper bisa diselamatkan.
Alex dan Siska bekerja keras supaya bisa berangkat secepatnya, tapi suatu malam Siska muncul dengan keadaan kacau balau, mengaku baru akan diperkosa Randy. Keadaan itu memaksa mereka untuk segera berlayar, siap atau tidak.
Perjalanan sampai ke Kepulauan Seribu cukup lancar. Tapi sampai di Pulau Sepa, Randy dan kawanannya menghadang mereka, memukuli Alex, dan membawa Siska. Dengan upaya keras, Alex berhasil membawa kembali Siska. Mereka langsung berangkat menuju Pulau Bangka.
Pulau Bangka berhasil mereka capai, dan baru mereka menghubungi orangtua mereka. Tidak heran, mereka dimarahi habis-habisan. Orangtua Siska bahkan mau melaporkan Alex ke polisi. Tapi di luar masalah itu, kedua remaja ini bersenang-senang menikmati laut Pulau Bangka yang jernih, dan kekayaan kuliner pempek, ikan bakar, dll, yang nikmat.
Perjalanan dilanjutkan ke Kepulauan Natuna. Mereka sempat dihadang perompak, cuaca buruk, juga sempat mengalami masalah di jalur laut yang padat. Tapi, sampai di Natuna, mereka ternyata berhasil menemukan ayah kandung Alex!
Apakah kisah ini berakhir bahagia? Masih ada kejutan seru di ujung cerita.
Si pengarang yang rupanya juga bukan anak laut (data diri menyebutkan dia tinggal di Bogor dan Bandung) pasti bekerja keras sehingga cerita pelayaran, bentuk kapal, kejadian-kejadian di laut, dan rute pelayaran Jakarta – Kepulauan Natuna bisa tampil sangat mendetail dan hidup. Bukan hanya itu, detail-detail kapal layar dan data teknis, deskripsi tentang laut dan kekayaan alam tempat-tempat yang dikunjungi Alex dan Siska juga sangat menggugah dan enak dinikmati. Selain itu deskripsi yang enak dinikmati juga deskripsi tentang makanan. Bekal kornet buatan Siska, spageti, lontong sayur buat sarapan, dan makanan yang mereka santap di Bangka. After all, bukankah kata orang angin laut itu membuat lapar?
Tema pelayaran erat sekali membungkus semua alur cerita novel ini. Khatulistiwa adalah nama perahu layar mungil yang dimiliki Alex, tokoh utamanya. Yah, meskipun Indonesia negara kepulauan, tapi nggak semua orang di negara ini bisa punya perahu sih. Alex kebetulan beruntung karena kakeknya yang pengusaha perkapalan besar (jenis tanker gitu kali) mewariskan perahu layar ini pada cucu semata wayangnya.
Alex lebih banyak menghabiskan waktunya di atas Khatulistiwa dan berlayar mengelilingi Kepulauan Seribu di utara Jakarta. Pasalnya, dia memang gerah di rumah karena orangtuanya acap bertengkar soal ini-itu. Selain itu, Alex juga “menghindar” dari Siska, cewek yang ditaksirnya, karena mendapat peringatan dari ibu cewek itu bahwa Siska sudah dijodohkan dengan Randy, anak teman bisnis keluarga mereka.
Saat libur kelulusan SMA, Alex berniat berlayar agak jauh ke Kepulauan Karimun Jawa di utara Semarang, dan pulang untuk minta izin orangtuanya. Tak disangka, begitu sampai di rumah, dia menyaksikan orangtuanya sedang bertengkar dan ayahnya menyebut dirinya anak haram. Bukan hanya itu, ayahnya juga memukul ibunya. Alex balik memukul ayahnya, lalu lari kembali ke Khatulistiwa.
Setelah mengetahui ayah kandungnya ternyata tinggal di Kepulauan Natuna, Alex putar haluan ke utara, berniat pergi ke kepulauan dekat Singapura itu untuk mencari ayahnya. Siska ingin ikut, karena ingin menjauh juga dari Randy.
Mulailah kedua remaja itu menyusun rencana. Alex mengajari Siska berbagai hal mengenai pelayaran dan cara menjalankan kapal. Siska menyetok gudang Khatulistiwa dengan berbagai makanan enak untuk bekal selama perjalanan.
Persiapan mereka diganggu Randy yang sempat meracun Skipper—anjing golden retriever kesayangan Alex. Untung Skipper bisa diselamatkan.
Alex dan Siska bekerja keras supaya bisa berangkat secepatnya, tapi suatu malam Siska muncul dengan keadaan kacau balau, mengaku baru akan diperkosa Randy. Keadaan itu memaksa mereka untuk segera berlayar, siap atau tidak.
Perjalanan sampai ke Kepulauan Seribu cukup lancar. Tapi sampai di Pulau Sepa, Randy dan kawanannya menghadang mereka, memukuli Alex, dan membawa Siska. Dengan upaya keras, Alex berhasil membawa kembali Siska. Mereka langsung berangkat menuju Pulau Bangka.
Pulau Bangka berhasil mereka capai, dan baru mereka menghubungi orangtua mereka. Tidak heran, mereka dimarahi habis-habisan. Orangtua Siska bahkan mau melaporkan Alex ke polisi. Tapi di luar masalah itu, kedua remaja ini bersenang-senang menikmati laut Pulau Bangka yang jernih, dan kekayaan kuliner pempek, ikan bakar, dll, yang nikmat.
Perjalanan dilanjutkan ke Kepulauan Natuna. Mereka sempat dihadang perompak, cuaca buruk, juga sempat mengalami masalah di jalur laut yang padat. Tapi, sampai di Natuna, mereka ternyata berhasil menemukan ayah kandung Alex!
Apakah kisah ini berakhir bahagia? Masih ada kejutan seru di ujung cerita.
Si pengarang yang rupanya juga bukan anak laut (data diri menyebutkan dia tinggal di Bogor dan Bandung) pasti bekerja keras sehingga cerita pelayaran, bentuk kapal, kejadian-kejadian di laut, dan rute pelayaran Jakarta – Kepulauan Natuna bisa tampil sangat mendetail dan hidup. Bukan hanya itu, detail-detail kapal layar dan data teknis, deskripsi tentang laut dan kekayaan alam tempat-tempat yang dikunjungi Alex dan Siska juga sangat menggugah dan enak dinikmati. Selain itu deskripsi yang enak dinikmati juga deskripsi tentang makanan. Bekal kornet buatan Siska, spageti, lontong sayur buat sarapan, dan makanan yang mereka santap di Bangka. After all, bukankah kata orang angin laut itu membuat lapar?
Langganan:
Postingan (Atom)
