Tampilkan postingan dengan label book. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label book. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Oktober 2011

Referensi Liburan

Buku-buku yang baik bisa jadi teman yang paling oke untuk mencari ilmu tentang liburan, tentu selain ranah maya yang sekarang ini telah menyediakan segalanya. Belakangan saya sempat membaca tiga buku tentang jalan-jalan yang meskipun gaya jalan-jalannya agak tidak mungkin untuk diterapkan dengan membawa anak-anak, tapi bisa juga memberi inspirasi.

Flashpacking Keliling Indonesia
Deedee Caniago
Gramedia Pustaka Utama

Berisi cerita sang penulis keliling Indonesia, gaya buku ini hip, gaul, dan modern banget. Deedee banyak menghadapi kesulitan saat bepergian, tapi rupanya bukan Deedee kalau lalu menyerah dan tidak bisa melihat sisi menyenangkan dari petualangannya. Sayangnya, pantai-pantai cantik yang diuraikan dalam buku ini agaknya memiliki jalan yang terlalu menantang bagi ibu beranak balita seperti saya. Pantai-pantai itu rata-rata dicapai dengan perjalanan berjam-jam dengan kondisi jalan yang ajaib, dan dengan fasilitas yang minim. Meskipun saya penganut “jalan-jalan minim”, tapi tingkat keminiman pun ada batasannya bila membawa anak. Tapi buku ini tetap sangat berguna bagi saya dari segi: 1) cerita yang seru dan lucu, membuat ngiler pengin pergi ke tempat-tempat yang dikisahkan Deedee, 2) ada bagian referensi penyedia tur yang cukup lengkap di bagian belakang buku yang bisa saya hubungi untuk menanyakan customized tour bagi keluarga dengan anak kecil 3) bagi destinasi yang terlalu ekstrem tingkat kesulitannya, saya jadi tetap mempunyai impian dan harapan suatu hari nanti saat anak saya sudah lebih besar, lebih dewasa dalam cara pikir, dan lebih kuat secara fisik, dia mau diajak ke sana.

Meraba Indonesia
Ahmad Yunus
Serambi

Ada unsur mau meniru Che Guevara keliling Amerika Selatan dengan sepeda motornya (The Motorcycle Diaries, sudah difilmkan juga dengan bintang *oh* Gael Garcia Bernal *keterangan ini penting gak seh?*) dua wartawan, satu senior---Farid Gaban, dan satu setengah senior---Ahmad Yunus, berangkat keliling Indonesia naik dua sepeda motor tua. Diawali dari Jakarta ke arah barat ke Sumatera lalu melingkar ke Kalimantan, Sulawesi, Ambon, Papua, lalu berakhir di Nusa Tenggara, mereka berdua berusaha mencari titik-titik paling terpencil dan paling sulit dicapai di negara ini. Perjalanan kurang-lebih setahun ini (diselingi beberapa kali kembali ke Jakarta untuk mencari tambahan biaya), mereka menyisiri pelosok paling jauh di negeri ini, bertemu orang-orang yang paling kesulitan, menggunakan alat-alat transportasi yang paling merakyat (selain sepeda motor), menjumpai pemandangan yang paling indah dan pengalaman yang paling murni. The grand scheme-nya luar biasa. Siapa pun harus cukup gila untuk menjalani petualangan ini. Sayang sekali Ahmad kurang detail bercerita. Sering kali Ahmad hanya menyebutkan “kami menginap di rumah tetua kampung A, mengobrol, lalu tidur.” Saya sebagai pembaca merasa, “What? What's the fun of that? Di mana asyiknya? Di mana serunya? Ngobrol terus tidur mah di rumah juga bisa.” Ahmad kurang mengeksplorasi kekayaan pengalamannya. Demikian pula saat bercerita tentang pemandangan tertentu di pulau terpencil mana, Ahmad kurang mengeksplorasi tulisannya. Padahal bila digambarkan dengan lebih detail mungkin bisa membuat orang lebih terpacu untuk mengunjungi pulau itu, dus lebih mengenal Indonesia. Dan terakhir, maafkan saya bila naluri editor muncul, tapi ya ampun... buku ini banyak sekali miss-nya! Mulai dari tipo sampai ke kalimat yang nggak nyambung. Jadi ya sudah, mari kita berfokus pada the grand scheme-nya saja...

Wonderful Europe
Aloys Budi Nugroho
Gramedia Pustaka Utama

Setelah bersusah-susah keliling Indonesia, meskipun yang pertama sambil hura-hura dan bersenang-senang tiada tara, sementara yang kedua susah beneran dengan idealisme tinggi, mari kita melongok ke negeri seberaaaaaaaaaaaang sono. Saya tertarik dengan buku ini karena tempat-tempat yang didatangi si romo (penulis buku ini adalah seorang pastor Katolik) nyaris tepat sama dengan tempat-tempat yang saya datangi dalam perjalanan Eropa saya tahun lalu, yaitu Paris, Lourdes, Roma. Tentu dengan variasinya. Buku ini mengulas tentang perjalanan si romo menjadi pembimbing rohani sebuah tur. Senangnya membaca perjalanan dengan menggunakan jasa tur, saya makin yakin memang gaya perjalanan yang paling pas bagi saya adalah mengatur sendiri. Dengan demikian saya bisa puas menikmati apa pun yang ingin saya nikmati saat jalan-jalan itu. Sedihnya, tentu saja saya jadi tahu ada lumayan banyak juga yang miss dengan gaya jalan saya yang independen itu. Misalnya di Roma saja saya tidak sempat ke tiga basilika besar selain Basilika St. Petrus. Saya juga tidak sempat berputar mengunjungi biara St. Bernadet di Nevers. Meskipun demikian saya lumayan bangga bisa sampai ke Kapel Medali Wasiat di Paris, meski sambil menggendong anak dan pakai jalan 1,5 km, hohoho... Pelajaran dari buku ini bagi saya: sebelum berangkat ke satu tempat, riset riset riset riset lagi. Pastikan tempat-tempat menarik mana yang mau didatangi biar nanti pas pulang tidak menyesal!

Selasa, 21 Desember 2010

My 2010 Book List

Seribu juta maaf, jadi pekerja lepas sekaligus fulltime mom ternyata tidak menyediakan waktu lebih untuk membuat posting. Tapi saya tetap mencuri waktu untuk membaca, dan senangnya... tahun ini bacaan saya lebih beragam, tidak melulu novel dan roman. Beberapa bahkan sangat menggoda untuk diresensi, meskipun akibat minimnya kesempatan, jadi niatan ini tidak bisa terlaksana. So, sementara saya buat saja list buku-buku memorable yang saya baca tahun 2010 ini:

* Family Traveler by Agnes Tri Harjaningrum
Menarik sekali membaca bagaimana Bunda Agnes berinteraksi dengan anak-anaknya, dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam perjalanan. Yang kurang cocok dengan saya rasanya cara Bunda Agnes packing dan makan... hehehe...

* Manjali dan Cakrabirawa by Ayu Utami
Jelas membuat pengin jadi mahasiswa lagi, lalu kemping bareng temen-temen... hehehe...

* Daughter of Fortune by Isabel Allende
Enak sekali dinikmati. Sudah lama nggak ketemu epik sejarah dengan tokoh perempuan yang kuat begini.

* The Short Second Life of Bree Tanner by Stephenie Meyer
Lebih indah daripada Breaking Dawn. Sayang sekali Bree mesti mati begitu cepat.

* Shiver by Maggie Stiefvater
Di antara begitu banyak buku fantasi belakangan ini, Shiver lumayan menghibur. Tapi serigalanya masih "kalah" dibanding serigalanya Jacob Black.

* Recipes for Perfect Marriage by Kate Kerrigan
Indah. Membuat saya jadi lebih menghargai pasangan.

* Glee The Beginning by ???
Ya... ya... ngaku, saya juga kena demam Glee. Tapi novel ini oke banget gak terjebak dengan cerita sinetronnya, malah bisa memberi perspektif baru tentang kisah yang sudah kita tonton dalam sinetronnya. Kekurangannya? Kertas dan tinta tidak bisa menyanyi!

* The Pillars of the Earth by Ken Follet
Salah satu epik paling bagus yang pernah saya baca. Terpaksa dan harus membacanya lagi seusai menonton serinya yang seru banget. Jatuh cinta lagi pada Jack.

* Hidup Hirau Hijau by Rudy Badil dkk
Mengerikan membaca buku ini. Kiamat tinggal 30 tahun lagi! Gosh! Anak saya baru 32 tahun saat itu!

* Travel with Children by Lonely Planet
A must read for a traveling parent with kid(s). Very handy!

* Dropsie Avenue by Will Eisner
Tidak sekuat A Contract with God, tapi yah... satu seri.

* A Contract with God by Will Eisner
Baca ulang dan ulang dan ulang lagi. Sejak punya versi Inggris-nya di tahun 2001, sudah berpuluh kali saya baca, dan selalu terpesona.

* A Life Force by Will Eisner
Komentar sama dengan Dropsie Avenue.

* Naked Traveler 2 by Trinity
Rasanya buku ini lebih bagus daripada buku pertamanya. Tapi cakupan tempat yang didatanginya lebih sempit.

* Around the World in 80 Dinners by ???
Setelah hidangan yang kesekian, semua makanan itu kok tampaknya sama aja. Yang pasti asal dibuat dari bahan yang segar, makanan pasti enak. Sempat sebal kenapa makanan Indonesia kurang banyak diulas, dan kenapa si penulis memuji-muji pisang goreng di Singapura. Cis!

* Tersesat di Byzantium by Duo Hippo Dinamis/Sheila Rooswitha
Lucu banget! Gambar-gambarnya oke dan bisa menghidupkan cerita, meskipun ceritanya udah pernah muncul di Naked Traveler.

* Kidstuff by Tita Larasati
Lucu-lucu banget ceritanya. Sayangnya tulisan tangan Tita suka semrawut, jadi suka susah bacanya. Resep2 ajaibnya menginspirasi saya untuk menirunya.

* Good Omens by Neil Gaiman
Ngakak depan-belakang. Hebat banget Neil Gaiman bermain-main dengan konsep malaikat dan setan, baik dan jahat. Luar biasa!

* Catching Fire by Suzanne Collins
Lanjutan Hunger Games. Rasanya seruan buku 1-nya, tapi ending menjanjikan buku 3 yang juga seru.

* Jurnal Jo 2: Online by Ken Terate
Novel remaja yang segar soal dunia online. Seru dan membumi.

* Lovasket 2 by Luna Torashyngu
Pertandingan-pertandingannya lebih padat daripada buku 1. Sayangnya jarak dengan buku 1 cukup jauh, sehingga agak sulit mengingat karakter2 di buku 1-nya.

* Eurotrip by Matatita
Lumayan banyak tips yang bisa diambil dari buku ini. Tapi yang paling memorable bagi saya malah: kok bisa ya dia ninggal anak batita buat jalan-jalan?

* Paris, Lumiere D'Amour by ???
Cerita tentang muslimah yang menikah dengan orang Prancis. Banyak tips yang berguna bagi Muslim yang mau jalan-jalan ke Paris seperti tempat makan halal, tempat bisa shalat, dll.

* Amsterdam Surprise by Ekky Imanjaya
Gak terlalu suka... hehehe... Artikelnya pendek-pendek dan agak garing. Mungkin topiknya gak sesuai selera aja.

* Surat dari Bude Ochie by Rosie Indira
Agak garing dan politis, tapi overall lumayan untuk pengenalan Amerika Latin.

* Madras on Rainy Days by Samina Ali
Sekali lagi buku yang mengulas budaya India yang masih sangat tradisional di dunia modern ini. Nilai-nilai yang dipegang kukuh sama orang India itu sering membuat saya heran.

* Perfect Match by Jodi Picoult
Cerita ini agak mengerikan. Jodi Picoult sendiri juga aneh, dia bilang dia tidak suka pada tokoh utamanya. Jadi, kenapa dia menuliskannya?

* Rembulan Gading by Sari Safitri Mohan
Angan asyik anak-anak angkatan saya banget. Tokohnya wartawan, seniman, fotografer... hehehe...

* Bridesmaid's Story by Irene
Up town girl banget. Bagi yang suka cerita yang lebih membumi, this definitly not it.

* Mr Commitment by Mike Gayle
Oke, ternyata cowok itu bener-bener susah dibuat berkomitmen. Atau cowok barat aja yang begitu?

* Wisata Kota Tua by Edi Dimyati
Lumayan asyik mengulas Kota Tua Jakarta. Bisa jadi panduan keliling wilayah itu, meskipun mungkin masih ada cerita-cerita yang seharusnya bisa digali lebih jauh lagi.

* Chicken Soul for Preschoolers' Moms' Soul by Jack Canfield dkk
Seperti biasa chicken soup, menyentuh. Ada beberap tips yang bisa diambil juga.

* Finishing Touch by Deanna Kizis
Dibanding buku Deanna Kizis lain yang pernah saya baca, buku ini sangat menyentuh dan bisa membuat berurai air mata juga.

* From Paris to Eternity by Clio Freya
Sambungan Eiffel, Tolong! Seru juga, meskipun buku 1-nya tetap lebih bagus. Anyway, senang sekali melihat pengarang Indonesia bisa berangan-angan demikian hidup dan menuangkannya dengan sempurna.

Urrrmmm... apa lagi ya? Masih ada lagi mestinya, tapi lupa. Anyway, kalau dilupakan berarti mungkin dia tidak sepenting itu... hehehe... Kejam!

Jumat, 23 April 2010

Family Traveler~Agnes Tri Harjaningrum

Ini dia buku yang pas banget buat saya! Pas karena isinya info-info soal traveling di Eropa dan lebih pas lagi karena banyak tips tentang gimana mengajak balita traveling. Gaya bertuturnya pun enak dibaca. Highly recomended buat orangtua yang pengin ngajak jalan-jalan anaknya.

Tips-tips yang dibagi Bunda Agnes dalam buku ini sebenarnya dia sontek juga dari buku lain yang pernah dia baca, tapi yang patut dicontoh adalah kegigihan dan kreatifitasnya menerapkan isi buku-buku yang dia baca itu dalam kehidupan sehari-hari dan kehidupan jalan-jalannya. Jujur aja, sebagai seorang pembaca kelas kakap saya melahap sekitar seratus buku setiap tahun (angka agak menurun sejak punya anak), dan setelah punya anak bacaan tentu bergeser juga pada topik-topik bagaimana membesarkan anak dengan baik, menu makan anak, permainan anak, strategi parenting, dll. Tapi... seberapa persen dari hasil bacaan itu yang saya praktikkan saat mengasuh anak? Hmm... begitu menghadapi dunia nyata, teori-teori yang sebenarnya membantu itu langsung lenyap semua! Sementara Bunda Agnes rupanya cukup keukeuh untuk mempraktikkan apa yang dia baca. Hasilnya seperti yang dia tuturkan dalam buku ini, rupanya sangat membantu dalam menciptakan keceriaan dalam keluarganya.

Misalnya beberapa minggu sebelum bepergian Bunda Agnes sudah mengondisikan anak-anaknya untuk membangun antusiasme akan tempat yang akan mereka datangi dengan cara mencari informasi tentang lokasi, membuat games tentang tempat tersebut, sampai merapikan koper. Anak-anak belajar, mengembangkan imajinasi, sekaligus bersenang-senang. Begitu sampai di tujuan, anak-anak diberi games juga, sehingga tidak keberatan mengunjungi tempat-tempat yang sebenarnya belum tentu menarik bagi anak usia balita. Saat terjepit, misalnya anak lapar atau harus bepergian pada jam yang tidak pas, Bunda Agnes juga bisa kreatif menciptakan bujukan-bujukan bagi anak-anaknya. Sesuatu yang bisa disontek saat mengajak jalan balita.

Kalau ternyata tidak bisa bepergian ke luar kota, Bunda Agnes juga kreatif menciptakan "coach traveling" bagi anak-anaknya. Misalnya dengan main sekolah-sekolahan, atau main mengarang cerita. Keakraban keluarga pun makin terjalin.

Selain memuat banyak tips yang bisa disontek bagi para orangtua yang ingin mengajak jalan-jalan anaknya, buku ini juga memuat tips-tips praktis misalnya cara booking hotel atau tiket, atau cara menghindari copet. Tapi yang saya rasa paling penting disimak adalah, jangan putus asa jadi orangtua, be creative, dan... (bagi para pembaca) jangan ragu untuk mempraktikkan bacaan atau informasi yang kita gali dari berbagai sumber!

Kamis, 05 November 2009

The Hunger Games~Suzanne Collins

Reality show di alam liar. Pasti langsung kebayang Survivor deh. Tapi gimana kalau peserta-peserta reality show itu dipaksa ikut, bukan menawarkan diri? Dan gimana kalau cara keluar hidup-hidup dari acara TV itu hanya dengan menjadi pemenang dan membunuh semua lawan?


Alkisah, tidak ada lagi yang namanya Amerika Serikat. Di lokasi bekas negara itu berdiri negara Panem, yang terdiri atas Capitol (ibu kotanya) dan 12 Distrik. Orang-orang hidup seperti di zaman batu... atau tepatnya seperti dalam film-film Mad Max atau Waterworld—saat di bumi sudah tidak ada apa-apa lagi, cuma padang pasir atau laut tak berbatas atau... yah, penguasa negeri yang keji dan tiran.


Capitol—si penguasa tiran—mengadakan Hunger Games tiap tahun. Tujuan permainan ini adalah memberi peringatan pada 12 Distrik bawahannya, bahwa Capitol-lah yang berkuasa. Dalam permainan ini, ke-12 distrik harus menyumbang sepasang remaja laki-laki dan perempuan sebagai pesertanya. Jadi total peserta 24 orang. Mereka ditempatkan di wilayah imajiner yang dibuat sesuai kepentingan permainan, dan dipersilakan saling membunuh di sana. Yang terakhir hidup adalah pemenangnya.


Tak usah disebutkan lagi, semua orang benci Capitol, tapi tidak berani melawannya. Sedikit yang masih punya keberanian masih bisa mengisi perut. Seperti Katniss Everdeen, cewek 16 tahun, dari Distrik 12, yang masih berani berburu di hutan, meskipun itu terlarang. Sehari-hari sepulang sekolah Katniss berburu ditemani Gale, cowok 17 tahun. Hubungan mereka... mmm... bukan pacar, cuma teman baik sekali.


Di hari pengundian nama peserta Hunger Games tahun itu (yang wajib diikuti oleh semua remaja umur 12-18 tahun), nama Primrose, adik Katniss keluar sebagai peserta. Tanpa pikir panjang Katniss mengajukan diri sebagai gantinya. Bersamanya terpilih Peeta Mellark sebagai wakil Distrik 12.


Mulailah mereka sebagai boneka Capitol. Didandani, disuruh belajar berbagai cara penyelamatan diri di alam liar arena Hunger Games. Dan bersandiwara supaya bisa menarik perhatian para sponsor, karena bantuan sponsorlah yang bisa menentukan hidup/mati mereka di arena.


Peeta hebat sekali saat mengatakan dia jatuh cinta pada Katniss sejak kecil. Segera saja mereka memainkan pasangan cinta tak sampai dan menarik simpati jutaan penonton di Capitol serta seluruh Panem. Ditambah lagi, keunggulan Katniss berburu membuatnya tak terkalahkan dalam arena. Mereka bersembunyi di hutan arena, lari dari kejaran anak-anak distrik lain yang haus darah.


Pada akhirnya mereka mengubah peraturan Hunger Games. Tapi bagaimana hubungan Katniss dan Peeta sebenarnya? Bagaimana hubungan Katniss dengan Gale? Dan bagaimana pendapat Capitol tentang dua remaja dari Distrik 12 ini?


Membaca buku ini membuat kita membayangkan hal-hal yang tak terbayangkan. Misalnya, apa yang akan terjadi puluhan atau ratusan tahun dari sekarang? Apakah negara kita masih berdiri? Apakah negara adikuasa seperti Amerika masih berdiri? Apakah tiran dan kemasabodohan, seperti yang dulu di abad-abad kegelapan terjadi, bisa terjadi lagi? Apakah segala teknologi yang sekarang kita miliki ini bisa terus membantu kita, atau cuma akan membantu kelas-kelas masyarakat tertentu saja nantinya? Apakah kemiskinan akan terus ada, bahkan semakin menjurang dengan masyarakat kelas atas? Apakah selamanya manusia akan haus darah?


Daripada pusing berandai-andai, ikut saja berdebar-debar bersama Katniss dan Peeta dalam Hunger Games. Dan tunggu kelanjutan buku keduanya!

Garudayana~Is Yuniarto

Saya tertarik membeli komik lokal ini setelah membaca ulasannya dalam The Jakarta Globe. Terus terang, saya tertariknya karena tema komik ini soal wayang-wayang Mahabarata, soalnya dari kecil dulu saya sudah jadi penikmat Mahabarata dan Ramayana sih. (Baca ulasan sebelumnya soal The Palace of Illusions~Chitra Banerjee Divakaruni.)


Sekarang wayang dibuat komik modern... hmmm...


Kalau bicara komik, kita mesti bicara gambarnya. Dan gambar-gambar dalam Garudayana ini “Jepang bangeeet”! Hahaha... Tapi lucu-lucu kok. Saya suka tarikan garisnya yang bersih, dan tokoh-tokohnya yang ekspresif. Gambar tokoh-tokohnya juga bagus-bagus, terutama gambar tokoh Mas Ganteng Arjuna, yang pada pandangan pertama jadi... Legolas! Ha? (Kucek-kucek mata!) Legolas? Benar? Tapi kok namanya Arjuna... hahaha... whatever... Jelas Is Yuniarso berhasil banget menuangkan sosok Arjuna yang jadi pujaan kaum perempuan.


Soal kisah dan penceritaan Is Yuniarso juga berhasil banget menciptakan dan menganyam tokoh-tokoh baru ke dalam cerita yang sudah ada pakemnya. Tokoh Kinara dan si burung Garuda kecil ini pas banget untuk jadi sentral cerita. Mereka juga yang menghidupkan cerita dan membuat saya ketawa-ketawa geli melihat gambar-gambar ekspresi mereka.


Kisahnya diawali dari tokoh Kinara muncul di Lembah Para Batara dengan tujuan merampok kuburan. Kinara langsung diserang siluman harimau dan beraksi bak AJo di Tomb Raider. Huh, pokoknya seru bo! Sembari beraksi (plus adegan dagelan, namanya juga komik), Kinara mendengar suara minta tolong. Ternyata suara itu datang dari telur Garuda yang disimpan siap disantap Ashuka (raksasa). Memegang si telur, Kinara lalu dikejar si raksasa. Tapi kemudian muncul Gatotkaca... Sementara Kinara dan si Garuda kecil yang baru menetas selamat. Tapi mereka kemudian terjebak dalam perebutan Garuda antara pihak Pandawa dan Kurawa. Huuu... seru...


Ditutup dalam sesaat santai yang digunakan Garuda untuk belajar terbang, mungkin ini komik Indonesia yang saya rasa sukses dalam hal gambar dan cerita. Tentu jadi nggak sabar baca buku keduanya!

Rabu, 29 Juli 2009

Palace of Illusions ~ Chitra Banerjee Divakaruni

“Mahabarata dari sudut pandang Dropadi.”

Waw! Sebagai penggemar Mahabarata saya sudah membaca berbagai versinya. Mulai dari cerita bergambar, sampai kitab lusuh yang berpanjang-panjang memuat percakapan Arjuna dan Kresna saat Arjuna dilanda kebimbangan di medan perang. Tapi belakangan saya agak malas membaca berbagai versi baru Mahabarata yang muncul di toko buku. What's new?

Inilah yang “new”, Mahabarata dari sudut pandang Dropadi. Tokoh kontroversial yang selama ini sangat sedikit diulas, meskipun perannya dalam mencetuskan perang raya di padang Kurusetra lumayan besar. Dan tentu saja versi Mahabarata yang ini sangat baru, karena dipandang dari mata seorang perempuan. Waw! (Sekali lagi.) Divakaruni benar-benar iseng, nekat, sangat imajinatif, dan berani! Dan hasilnya adalah kisah yang benar-benar baru. Penuh rasa, penuh detail, penuh emosi, sangat perempuan. Saya sangat menikmati membaca Mahabarata yang ini.

Diawali dengan latar belakang Dropadi (saya merasa agak aneh dengan penulisan nama ini karena lebih terbiasa dengan “Drupadi”) yang jarang-jarang terungkap, kisah ini awalnya mengalir mulus dan riang. Dropadi cilik sampai remaja adalah gadis cerdas yang selalu ingin tahu dan tidak sabaran. Juga agak tidak pede karena kulitnya hitam. Tapi dia diselimuti cinta kakaknya, Drestadyumna (susah bener, untung sepanjang cerita dia disebut Dre saja) dan sahabatnya Krishna.

Dre dan Dropadi lahir karena ayah mereka, Raja Dropada, ingin balas dendam pada Dorna, brahmana guru para Pandawa dan Korawa. Oleh karena itu Dre dididik komplet soal pemerintahan dan pertarungan, sementra Dropadi nebeng pendidikannya. Tapi sebagai gadis, Dropadi terpaksa tidak bisa mengikuti seluruh langkah Dre, dan harus juga belajar hal-hal kewanitaan.

Suatu saat Dropadi ikut pengasuhnya ke seorang brahmana peramal. Oleh sang brahmana, Byasa (yang menuliskan kisah Mahabarata, dan ikut berperan di dalamnya) Dropadi diberitahu dia akan memiliki 5 suami, dan masa depannya akan heboh banget, terutama karena sifatnya yang tidak sabaran dan pemarah. Dropadi tentu tidak percaya pada ramalan itu. Ia hanya senang karena sang brahmana memberinya nama baru, Panchali.

Selang beberapa lama, Raja Dropada membuat sayembara untuk menikahkan Dropadi. Sasarannya adalah Arjuna, supaya para Pandawa bisa menjadi sekutu mereka saat konfrontasi dengan Drona datang. Saat sayembara, Dropadi menghina Karna (sahabat Duryudana, Raja Angga dan yang disangka anak kusir kereta). Mulailah hubungan cinta dan benci keduanya. Seperti yang diinginkan, Arjuna memenangkan Dropadi dan membawanya kepada saudara-saudaranya. Tak disangka, di pintu rumah, gurauan Bima disambut Kunti (ibu para Pandawa) dengan “Apa pun yang kalian bawa itu harus dibagi untuk kelima putraku.” Dengan demikian jadilah Dropadi istri kelima Pandawa, sesuai ramalan Byasa. Dengan pengaturan tertentu, Dropadi berganti suami setiap satu tahun sekali.

Para Pandawa membawa Dropadi ke Hastinapura, lalu ke daerah yang diberikan Drestarata si raja buta kepada mereka. Di daerah baru itu mereka membangun Istana Khayalan, tempat yang sangat dicintai Dropadi. Wilayah yang asalnya gersang itu pun segera menjadi makmur, dan disebut Indraprastha.

Bencana datang dalam bentuk permainan dadu. Saat memenuhi undangan Duryudana untuk datang ke Hastinapura, Yudistira kalah main dadu dan kehilangan segalanya; kekayaan, istana, adik-adiknya, dan bahkan Dropadi. Dropadi diseret ke ruang singgasana, dan akan ditelanjangi. Dengan bantuan dewata, niat jahat itu gagal. Dropadi bersumpah tidak akan menyisir rambutnya lagi sebelum mengeramasinya dengan darah para Korawa.

Para Pandawa terbuang ke hutan selama 12 tahun. Dropadi menyertai suami-suaminya. Di tahun ke-13, mereka bersembunyi di istana Wirata. Selanjutnya menyusun kekuatan untuk menyerang para Korawa.

Di bagian ini cerita menjadi gelap karena Divakaruni dengan piawai memaparkan dendam dan kebencian perempuan yang dipermalukan. Perempuan yang harus mendorong para lelakinya untuk membela kehormatan dirinya. Perempuan yang berusaha dengan cara apa pun untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Perempuan yang mengerikan.

Perang pecah, dan berakhir mengerikan. Meskipun Pandawa menang, tapi mereka kehilangan makna kemenangan itu sendiri. Saat mereka memerintah Hastinapura dan menjadikannya kerajaan yang makmur sekalipun, bayang-bayang dosa-dosa perang tidak bisa meninggalkan mereka.

Secara garis besar, kisah ini sama sekali tidak melenceng dari Mahabarata yang saya kenal. Tapi bumbu-bumbunya membuat kisah ini berbeda. Dan makna yang tersirat pada kisah ini sangat jelas. Belajarlah mengontrol emosi, belajarnya menjadi dewasa, buanglah dendam. Dan tentu saja, tidak ada manusia yang sempurna. Selain itu kisah cinta Dropadi dengan lelaki-lelakinya juga sangat menarik. Utamanya hubungannya dengan Karna dan Krishna. Betapa Dropadi mencintai Krishna secara platonis, selalu kehilangan Krishna, selalu ingin didampingi Raja Dwaraka itu. Sementara dengan Karna, hati Dropadi terbelah. Sedari remaja dia naksir sang Raja Angga, tapi takdir menetapkan mereka selalu berseberangan. Di detik terakhir, Dropadi baru tahu bahwa Karna pun mencintainya, tapi sudah takdir Karna untuk mati di padang Kurusetra.

Anyway, siapa pun yang tertarik pada Mahabarata atau pada seluk-beluk gelap pikiran perempuan harus membaca buku ini. It's a page turner, jelas tidak rugi menguliknya.

Minggu, 12 Juli 2009

Khatulistiwa-Edward Stefanus Murdani

Di negara kepulauan terbesar di dunia ini, sebetulnya menyedihkan tidak banyak novel yang menjadikan laut, berenang, berlayar, dan main-main air sebagai latar belakangnya. Syukurlah ada Khatulistiwa.

Tema pelayaran erat sekali membungkus semua alur cerita novel ini. Khatulistiwa adalah nama perahu layar mungil yang dimiliki Alex, tokoh utamanya. Yah, meskipun Indonesia negara kepulauan, tapi nggak semua orang di negara ini bisa punya perahu sih. Alex kebetulan beruntung karena kakeknya yang pengusaha perkapalan besar (jenis tanker gitu kali) mewariskan perahu layar ini pada cucu semata wayangnya.

Alex lebih banyak menghabiskan waktunya di atas Khatulistiwa dan berlayar mengelilingi Kepulauan Seribu di utara Jakarta. Pasalnya, dia memang gerah di rumah karena orangtuanya acap bertengkar soal ini-itu. Selain itu, Alex juga “menghindar” dari Siska, cewek yang ditaksirnya, karena mendapat peringatan dari ibu cewek itu bahwa Siska sudah dijodohkan dengan Randy, anak teman bisnis keluarga mereka.

Saat libur kelulusan SMA, Alex berniat berlayar agak jauh ke Kepulauan Karimun Jawa di utara Semarang, dan pulang untuk minta izin orangtuanya. Tak disangka, begitu sampai di rumah, dia menyaksikan orangtuanya sedang bertengkar dan ayahnya menyebut dirinya anak haram. Bukan hanya itu, ayahnya juga memukul ibunya. Alex balik memukul ayahnya, lalu lari kembali ke Khatulistiwa.

Setelah mengetahui ayah kandungnya ternyata tinggal di Kepulauan Natuna, Alex putar haluan ke utara, berniat pergi ke kepulauan dekat Singapura itu untuk mencari ayahnya. Siska ingin ikut, karena ingin menjauh juga dari Randy.

Mulailah kedua remaja itu menyusun rencana. Alex mengajari Siska berbagai hal mengenai pelayaran dan cara menjalankan kapal. Siska menyetok gudang Khatulistiwa dengan berbagai makanan enak untuk bekal selama perjalanan.

Persiapan mereka diganggu Randy yang sempat meracun Skipper—anjing golden retriever kesayangan Alex. Untung Skipper bisa diselamatkan.

Alex dan Siska bekerja keras supaya bisa berangkat secepatnya, tapi suatu malam Siska muncul dengan keadaan kacau balau, mengaku baru akan diperkosa Randy. Keadaan itu memaksa mereka untuk segera berlayar, siap atau tidak.

Perjalanan sampai ke Kepulauan Seribu cukup lancar. Tapi sampai di Pulau Sepa, Randy dan kawanannya menghadang mereka, memukuli Alex, dan membawa Siska. Dengan upaya keras, Alex berhasil membawa kembali Siska. Mereka langsung berangkat menuju Pulau Bangka.

Pulau Bangka berhasil mereka capai, dan baru mereka menghubungi orangtua mereka. Tidak heran, mereka dimarahi habis-habisan. Orangtua Siska bahkan mau melaporkan Alex ke polisi. Tapi di luar masalah itu, kedua remaja ini bersenang-senang menikmati laut Pulau Bangka yang jernih, dan kekayaan kuliner pempek, ikan bakar, dll, yang nikmat.

Perjalanan dilanjutkan ke Kepulauan Natuna. Mereka sempat dihadang perompak, cuaca buruk, juga sempat mengalami masalah di jalur laut yang padat. Tapi, sampai di Natuna, mereka ternyata berhasil menemukan ayah kandung Alex!

Apakah kisah ini berakhir bahagia? Masih ada kejutan seru di ujung cerita.

Si pengarang yang rupanya juga bukan anak laut (data diri menyebutkan dia tinggal di Bogor dan Bandung) pasti bekerja keras sehingga cerita pelayaran, bentuk kapal, kejadian-kejadian di laut, dan rute pelayaran Jakarta – Kepulauan Natuna bisa tampil sangat mendetail dan hidup. Bukan hanya itu, detail-detail kapal layar dan data teknis, deskripsi tentang laut dan kekayaan alam tempat-tempat yang dikunjungi Alex dan Siska juga sangat menggugah dan enak dinikmati. Selain itu deskripsi yang enak dinikmati juga deskripsi tentang makanan. Bekal kornet buatan Siska, spageti, lontong sayur buat sarapan, dan makanan yang mereka santap di Bangka. After all, bukankah kata orang angin laut itu membuat lapar?

Howl's Moving Castle-Diana Wynne Jones

Ini buku yang aneh. Tapi begitulah kebanyakan buku fantasi, bukan? Satu hal yang saya sukai dari buku ini (selain cover versi Indonesia-nya yang brilian banget!), adalah dia berbeda dengan filmnya. Terus terang, di tengah membaca Howl's Moving Castle, saya menonton animasinya. Animasinya, menurut saya, yah... jelek. Payah. Tidak menggugah. Dan jauh lebih aneh daripada bukunya. Sedih deh pokoknya.
Sementara bukunya, sebetulnya lucu. Lucu banget malah! Dan mengeksplorasi cerita yang sangat bisa dinikmati oleh pembaca anak-anak. Meskipun aneh... hahaha...

Jadi, begini... Cerita ini berlangsung di Ingary, negeri sihir, tempat nenek sihir atau penyihir itu hal yang wajar, dan orang biasa minta jampi-jampi untuk hidup sehari-hari dan takdir ini-itu merupakan hal biasa. Demikian pula takdir, Sophie Hatter, tokoh utama buku ini. Sophie ditakdirkan sial karena lahir sebagai anak pertama dari 3 bersaudara yang cewek semua. Takdir sial itu menjadi nyata saat Nenek Sihir dari Waste yang jahat karena satu dan lain hal yang baru ketauan di ujuuuuuuuuuuuung cerita, benci padanya, dan menyihirnya menjadi nenek-nenek.

Sophie yang aslinya masih remaja itu pergi dari rumah dan terpaksa berlindung di Istana Bergerak milik Penyihir Howl. Sebenarnya penduduk sekitar takut pada penyihir ini karena gosipnya dia suka memangsa gadis-gadis muda. Ndilalah, ternyata Howl cuma penyihir pemalas yang playboy cap duren tiga! Segala tingkah Howl yang bolak-balik naksir cewek dan patah hati inilah yang membuat kelucuan sepanjang cerita.

Sementara itu istana bergerak bisa berjalan terus karena ada Michael, murid Howl, yang bersih-bersih dan mengurus istana, serta Calcifer, si jin api yang tinggal di perapian dan membuat sihir supaya istana bisa berpindah-pindah tempat. Sophie segera bergabung dengan keduanya, dan berusaha keras supaya istana bisa terlihat rapi, bersih, dan mengurus Howl supaya tidak lupa mencari nafkah bagi mereka (dengan menjual mantra). Tentu saja, diam-diam Sophie membuat perjanjian saling membebaskan dengan Calcifer. Sophie akan mencoba mematahkan mantra yang mengikat Calcifer pada Howl, dan sebagai imbalannya Calcifer akan mengembalikan Sophie ke wujudnya yang gadis remaja.

Dalam perjalanan waktu, Sophie mendapati bahwa Howl mungkin naksir adik perempuannya. Oh, gawat! Sophie berusaha menggagalkan niat Howl. Tapi kemudian mendapati Michael ternyata pacaran dengan adik perempuannya yang lain! Sementara itu Howl pergi ke tanah Wales, lewat pintu ajaib, dan sepertinya naksir Miss Angorian. Sophie makin kelabakan. Di lain pihak, Howl mendapat perintah dari Raja untuk mencari adiknya, Pangeran Justin dan penyihir kerajaan, Suliman, yang hilang. Kemungkinan mereka hilang disihir Nenek Sihir dari Waste. Howl yang pemalas berusaha menghindar dari tugas itu dan melibatkan Sophie supaya berpura-pura jadi ibunya di depan raja dan memberikan rekomendasi buruk.

Cerita makin ruwet dan aneh saat ibu tiri Sophie serta adik-adiknya muncul, dan Nenek Sihir dari Waste berhasil melacak dan menyandera keluarga Howl supaya penyihir itu mau bertarung dengannya. Dan akhirnya Sophie memberanikan diri masuk ke markas besar Nenek Sihir dari Waste.

Ujungnya? Biarpun aneh dan ruwet, sebetulnya novel ini lucu dan menghibur dan penuh hal ajaib—bahkan bunga-bunga indah yang mekar dengan sihir. Jelas, berbeda jauh dengan animasinya yang tiba-tiba bercerita tentang perang. Perang? Hah? Di Ingary? Hahaha... Dalam cerita tentang para penyihir yang malas dan nenek-remaja yang sok tahu ini, kayaknya perang membutuhkan komitmen yang terlalu besar.

Senin, 08 Juni 2009

Travelers' Tale: Belok Kanan Barcelona

Meskipun awalnya agak ogah-ogahan baca novel ini, ternyata setelah baca, novel ini lucu banget! Ceritanya jalan (meskipun selesai baca saya jadi, hah, segitu aja? hehehe...) dan menghibur. Yah, tema utama membaca novel dapet banget: terhibur. Plus dapat juga beberapa tips tentang travelling.

Alkisah ada 4 sahabat sejak kecil. Sekarang mereka sudah terpencar ke berbagai penjuru dunia. Francis si pianis tinggal di Amerika, Retno kerja di badan PBB di Copenhagen, Jusuf si gila kerja di perusahaan transportasi dan kirim-mengirim di Cote d'Ivoire (kalo gak salah), dan si cantik keturunan Arab, Farah kerja bikin resort di Hoi An, Vietnam.

Di antara keempatnya terjalin cinta yang ribet: Francis naksir Retno dan ditolak-tolak, Farah naksir Francis tapi gak bisa ngaku karena Retno curhat ke dia. Dan Jusuf alias Ucup naksir Farah, tapi gak bisa ngaku karena Farah curhat ke dia. Klasik masalah anak muda dah.

Ketentraman mereka di tempat kerja masing-masing diganggu undangan kawinan Francis di Barcelona. Bergeraklah keempatnya menuju Barcelona dari tempat kerja masing-masing. Retno karena merasa sayang pada Francis (alasannya menolak pinangan Francis karena agama, bukan karena gak sayang). Farah untuk menggagalkan kawinan itu dan mengajukan dirinya jadi pengantin perempuan. Ucup untuk melamar Farah. Dan Francis, yaaa buat kawin sama cewek Spanyol itulah yaw.

Perjalanan paling seru dan kocak dialami Ucup. Sementara perjalanan Francis dan Retno sebenarnya dipenuhi pertanyaan apa sebenarnya cinta itu? Apa pilihan mereka benar? Dan perjalanan Farah paling penuh tekad.

Anyway, buat orang yang senang jalan-jalan, plus-plus novel ini adalah tips-tips travelling yang disembunyikan dan diselipkan dengan sangat baik dalam cerita. Yah, ada juga sih yang ditambahkan jelas-jelas dalam boks-boks. Misalnya cara packing, pilihan transportasi, sampai kondisi politik di Afrika. As if, saya akan ke Afrika dalam waktu dekat aja... hahaha...

Yah, anyway lagi, kalau cari bacaan menghibur yang lumayan... yaaahh... novel ini lumayan lah... hehehe...

Selasa, 05 Mei 2009

Brisingr~Christopher Paolini

“Buku yang membuat saya rela bergadang.”---Washington Post.

Dan tepat itulah yang saya lakukan satu setengah minggu ini. Brisingr edisi Indonesia yang tebalnya kurang-lebih 900 halaman itu membuat saya tidur tengah malam selama berhari-hari karena adegan-adegannya yang seru.

Saat membaca Eragon, saya merasa wagu karena banyak kemiripannya dengan The Lord of the Rings---mungkin juga karena masa itu trilogi LOTR juga lagi naik daun. Selain itu, tulisan Paolini pun masih terasa sangat kekanakan. Saat Eldest, dialog-dialog panjang pelajaran Eragon terasa membosankan, dan petualangan Roran terasa lebih seru. Tapi pada Brisingr, semua elemen cerita terasa seru dan perlu. Brisingr menyuguhkan petualangan demi petualangan, perang demi perang, perkelahian demi perkelahian baik secara fisik langsung maupun dengan sihir. Semuanya seru dan intens, dan meskipun ukuran bukunya yang hampir 900 halaman tampak masif, secara keseluruhan buku ini sama sekali tidak membosankan.

Paolini jelas telah berkembang dengan baik sebagai penulis (dan kalau dilihat dari fotonya, sebagai pemuda juga... hehehe). Ia bisa menautkan simpul-simpul lepas dan menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan tak terjawab yang ada pada buku-buku sebelumnya. Ia bisa memberi kilas balik dan penjelasan dengan sangat baik dengan menyelipkannya pada dialog-dialog, sehingga pembaca mengerti dan tidak merasa digurui. Ia bisa memberi gambaran sejelas film action pada adegan-adegan laganya. Dan utamanya, ia berhasil menciptakan dunia Alagaësia yang utuh, baik itu dunia sihirnya maupun dunia manusianya. Saat membaca Brisingr, saya tidak lagi berusaha membanding-bandingkan Kull dengan Uruk Hai atau elf di Alagaësia dengan elf di Middle Earth.

Cerita dibuka dengan seru saat Eragon membantu Roran merebut kembali Katrina dari tangan para Ra'zac. Tekanan kengerian ditambah Paolini dengan meninggalkan Eragon di Helgrind, sarang Ra'zac tanpa Saphira yang harus membawa pulang Roran dan Katrina ke markas Varden. Pertempuran Eragon dan Ra'zac yang seru diikuti kisah Eragon (dan Arya) menjelajah Kekaisaran untuk kembali ke Varden serta apa yang dialaminya saat itu sangat patut disimak.

Sementara itu di markas kaum Varden, Nasuada harus mempertahankan wibawa dan kepemimpinannya dengan Duel Pisau Panjang yang mengerikan. Dan Roran memutuskan untuk mengabdikan diri padanya (kedua hal ini sebetulnya tidak berkaitan secara langsung). Roran lalu terlibat dalam berbagai pertempuran “kecil” dan membuktikan dirinya pantas menjadi pejuang dan pemimpin.

Saat kembali ke Varden, Eragon (dan Saphira) harus menghadapi Murtagh dan Thorn sekali lagi. Dalam pertempuran kali ini Eragon dan Saphira yang dibantu dua belas elf perapal mantra dan Arya berhasil mengusir dan mengalahkan Murtagh dan Thorn. Tapi pertempuran “di tanah” mengalami kekacauan besar, saat pasukan Varden mendapati Galbatorix telah menciptakan prajurit-prajurit perang yang tak bisa mati kecuali dipenggal. Meskipun berhasil menghancurkan pasukan Galbatorix, kaum Varden mengalami kerugian besar.

Usai menikahkan Roran dan Katrina, Eragon ditugasi oleh Nasuada untuk pergi kepada kaum kurcaci di Pegunungan Beor untuk memastikan raja kurcaci yang baru mendukung perjuangan kaum Varden. Sekali lagi Eragon dan Saphira harus berpisah. Eragon pergi ditemani Nar Garhzvog, pemimpin Kull. Sampai di tempat saudara angkatnya, Grimzborith Orik yang mengepalagi klan Ingeitum, Eragon mendapati bahwa ia mungkin harus mengikuti rapat kaum kurcaci yang bisa berlangsung berminggu-minggu dan tidak bisa melakukan apa-apa untuk mempercepat prosesnya.

Saat tiba di kota bawah tanah kaum kurcaci, ternyata secara tidak langsung Eragon dapat mempercepat proses pemilihan raja itu karena percobaan pembunuhan yang dilancarkan padanya oleh salah satu pemimpin klan. Orik terpilih menjadi raja baru, dan dukungannya pada kaum Varden bisa dipastikan. Eragon dan Saphira menghadiri upacara penobatannya, lalu terbang ke kota kaum elf, Ellesmera, di tengah hutan Du Weldenvarden.

Di sana, saat bertemu dengan gurunya, Oromis dan naganya Glaedr, Eragon mendapati bahwa ternyata dirinya bukan putra Morzan dan adik Murtagh. Dengan lega, Eragon mengetahui bahwa ayahnya ternyata Brom, yang ia anggap gurunya yang pertama. Berikutnya, Eragon---yang sepanjang berbagai pertempuran merasa tidak memiliki senjata yang tepat sejak Za'roc diambil Murtagh dari tangannya---berusaha membujuk elf tua Rhunon untuk membuatkan pedang baginya. Rhunon sudah bersumpah tidak akan membuat pedang lagi sejak senjata buatannya dipakai untuk membantai naga dan penunggangnya oleh Galbatorix. Tapi, kalaupun ia mau melanggar sumpahnya, ia tidak memiliki bahan untuk membuat pedang lagi karena bahan tersebut besi yang terkandung dalam komet yang jatuh di Du Weldenvarden.

Mengikuti saran Solembum, si kucing jadi-jadian, Eragon dan Saphira mencari besi tersebut di bawah akar pohon Menoa yang tertua di Du Weldenvarden. Mereka membangkitkan kemarahan pohon tersebut, tapi berhasil meyakinkannya untuk menyerahkan besi itu. Semalaman Eragon menjadi “alat” Rhunon, yang untuk menjaga sumpahnya tidak menempa sendiri besi tersebut, untuk membuat pedangnya sendiri. Paginya, pedang biru seperti sisik Saphira telah jadi. Pedang terindah yang “dibuat” Rhunon. Eragon menamai pedang itu Brisingr, alias api dalam bahasa kuno. Setiap kali ia mengucapkan nama pedang tersebut, pedang itu menyalakan api biru.

Kunjungan Eragon dan Saphira pada guru-guru mereka juga memberikan pengetahuan baru tentang Eldunari naga, jantung dari jantung naga, tempat mereka menyimpan seluruh kesadaran dan pengetahuan mereka. Mereka juga mengetahui bahwa kekuatan Galbatorix datang dari kumpulan Eldunari yang ditawannya. Pada akhirnya, sebelum Oromis dan Glaedr ikut terbang untuk berperang bersama Ratu Islanzadi, Glaedr memberikan Eldunari-nya untuk dijaga Eragon dan Saphira.

Kembali ke kaum Varden, Eragon dan Saphira segera terlibat dalam perang menjatuhkan kota Feinster. Reuni dengan Arya, Roran, dan yang lain yang awalnya gembira harus diakhiri dengan sedih saat lewat Eldunari Glaedr, mereka mendapat kejutan besar.

Demikian buku ketiga ini ditutup dengan baik oleh Paolini, meninggalkan banyak pertanyaan untuk dijawab pada buku keempat. Antara lain pertanyaan yang berkaitan dengan ramalan mengenai nasib Eragon yang beberapa kali dikutuk untuk meninggalkan Alagaësia. Apakah setelah menaklukkan Galbatorix, satu-satunya penunggang naga yang merdeka itu harus meninggalkan tanahnya? Atau jangan-jangan Galbatorix memang tak terkalahkan? Rasanya pertanyaan terakhir ini---meskipun apa pun mungkin saja terjadi di dunia fiksi---tidak mungkin terjadi. Semua kisah epik kebaikan vs. kejahatan pasti berakhir dengan kekalahan pihak yang jahat. Tapi bagaimana si jahat mati? Semua pasti menunggu-nunggu pertempuran akhir antara Eragon dan Saphira vs. Galbatorix dan Shruikan. Sssshhh... penantian yang panjang pun dimulai...

Breaking Dawn~Stephenie Meyer

Mungkin agak telat dibandingkan die hard fans-nya Twilight Saga, saya baru membaca Breaking Dawn bulan lalu. Dan... yah, terus terang saya kecewa dengan ending kisah cinta Bella dan Edward ini. Why so?

Saya merasa terlalu banyak poin yang dipaksakan dalam novel ini. Saya merasa novel ini ditulis oleh seorang remaja yang bercerita karena ya memang dia mau ceritanya begitu. Logika ditempel dan dikarang di sana-sini, hanya supaya ceritanya bisa jalan.

Dan menganggap resensi ini sudah ketinggalan zaman, saya akan langsung to the point saja merujuk pada bagian-bagian yang menurut saya terlalu maksa. Spoiler alert.

Bella dan Edward harus punya anak (manusia dan vampir? Ini mah bener-bener supaya yang ngarang happy aja.). Anak itu namanya harus Renesmee (dari ibu Bella, Rennee, dan ibu Edward, Esme—oh oh oh, kalo anaknya cowok, namanya E.J.--Edward Jacob... Ya ampun! Plis deh, namain anak dengan nama “mantan”?). Dan Jacob harus imprint pada anak itu (yeah, right, married sama anak cewek yang dia taksir? Hmm... jadi inget filmnya Kevin Costner sama Jennifer Aniston itu... apa judulnya? Oh iya, Rumor Has It). Saat kehadiran anak itu menimbulkan kehebohan di dunia vampir, keluarga Cullen kudu mengumpulkan berbagai vampir dari segala penjuru dunia untuk mendukung mereka... hhmm... ini remaja banget, ngumpulin semua tokoh untuk mendukung tokoh utama. Ehem, kalau setting-nya di SMA, mungkin ngumpulin semua cowok demi si tokoh utama cewek. Seru, kan? Mengingatkan saya pada film kartun jadul yang ngumpulin banyak tokoh superhero dan anak-anak mereka, kalo gak salah judulnya Defenders of the Earth. Oh ya, omong-omong superhero, Bella terus punya kekuatan super membuat tameng. Tentu saja awalnya cuma untuk menamengi dirinya sendiri, tapi lalu tiba-tiba dia bisa menamengi semua vampir. Dan di detik terakhir, saat mestinya ada perkelahian mati-matian, tiba-tiba muncul makhluk setengah manusia-setengah vampir, sejenis Renesmee... dan damai turun di Bumi. Mana berantemnya? Mana? Setelah semua konflik dan ketegangan menuju ke sana, setelah pembaca membayangkan seluruh klan Cullen berikut teman-teman mereka bakal dihapus dari muka Bumi, dan... tidak ada seujung kuku pun yang patah... aaaaaaaaaaaa... rasanya mo marah!!! At least biarkan Emmett atau Jasper atau siapa itu vampir yang baru muncul itu berantem dulu kek!!! Meskipun tentu saja pasti pembaca mengharapkan Edward atau Jacob yang berantem.

Anyway, cerita novel ini berlanjut dari bagian yang terpotong di Eclipse—pernikahan Edward dan Bella. Yang dilanjutkan dengan bulan madu mereka, yang diceritakan dengan sangat aneh. Maksud saya, c'mon pas bulan madu, dan lagi hot-hot-nya, Bella cuma diceritakan bangun pagi-pagi dengan tubuh memar-memar dan nggak ingat apa-apa kejadian malamnya? Huh? Emangnya ini adegan perkosaan? Which was itulah sudut pandang Edward, dia terlalu menyakiti Bella. Tapi ya sudahlah, apa pun yang mereka lakukan, Bella end up hamil, dan namanya anak vampir, kehamilannya abnormal. Anaknya berkembang dengan sangat cepat dan membuat tubuhnya babak belur dari dalam. Edward dan Carlisle berusaha membujuk Bella untuk aborsi, tapi tentu saja Bella nggak mau. Keinginan Bella didukung Rosalie yang sebenarnya pengin punya anak.

Di La Push, Jacob berusaha menggunakan kesepakatan bahwa werewolf tidak akan menyerang vampir kalau tidak ada manusia yang disakiti atau dibunuh untuk membuka front dengan klan Cullen. Alasannya Bella kan pasti sudah dijadikan vampir, alias dibunuh. Jacob tidak peduli kata teman-temannya bahwa Bella jadi vampir atas keinginan sendiri. Tapi saat Jacob menengok Bella di rumah keluarga Cullen, kondisinya ternyata jauh lebih mengerikan dari kematian, karena semakin hari bayi yang dikandungnya semakin membuat kondisi tubuhnya payah. Melihat kondisi gadis yang dicintainya, Jacob jadi kebingungan. Di satu sisi dia tidak ingin Bella mati, di sisi lain dia hanya ingin Bella bahagia. Masalah Jacob bertambah saat para werewolf yang tadinya tidak mau menyerang klan Cullen malah berbalik jadi agresif karena menganggap anak Bella dan Edward—yang tidak ketahuan jenis makhluk apa itu—bisa jadi ancaman baru. Jacob lalu melepaskan ikatan dengan kelompoknya. Tindakannya ini diikuti Seth dan Leah, membuat Jacob jadi punya kelompok baru.

Akhirnya anak Bella-Edward pun lahir dengan proses yang mengerikan. Edward langsung menjadikan Bella vampir untuk “menyelamatkan nyawanya”. Dan Jacob langsung tahu Renesmee adalah belahan jiwanya.

Masa indah setelah Bella mendapatkan segala yang diinginkannya—menjadi vampir dan punya anak dari Edward, plus tidak kehilangan Jacob—berlangsung singkat. Kehadiran Renesmee tercium oleh klan Volturi, polisi dunia vampir. Akibatnya klan Volturi, yang sebenarnya sudah lama iri pada klan Cullen pun bergerak untuk menumpas klan saingan ini, dengan alasan mereka punya anak vampir, sementara kehadiran anak vampir telah di-banned dari dunia pervampiran karena anak vampir tidak bisa dikontrol tindak-tanduknya.

Carlisle segera mengatur strategi. Mereka harus mengumpulkan sekutu yang mau bersaksi bahwa Renesmee bukanlah anak vampir. Renesmee masih tumbuh bak anak kecil lainnya, meskipun dengan lebih cepat. Renesmee bisa belajar dan mengontrol dirinya. Datanglah vampir-vampir dari segala penjuru dunia. Alaska, Mesir, Brazil, Rumania, dll. Selain menjadi saksi, mereka juga mempersiapkan diri untuk berperang melawan klan Volturi.

Jacob dan para werewolf tentu juga siap membantu. Apalagi setelah Jacob imprint pada Renesmee.

Sedikit twist yang menambah ketegangan tercipta saat Alice dan Jasper malah pergi meninggalkan keluarga mereka di saat genting. Anggota keluarga yang lain menganggap mereka mencari selamat, tapi ternyata di akhir cerita Alice dan Jasper yang membawa makhluk setengah vampir-setengah manusia seperti Renesmee yang menyelamatkan klan Cullen dan sekutu mereka.

Oh ya, satu lagi yang mengganggu dan lame banget. Adegan akhir, adegan happily ever after itu loh... Aduh! Dengan banyak kata forever-nya itu. Aduh!

Sebenarnya Stephenie Meyer mungkin seharusnya tidak melanjutkan Twilight. Novel pertama itu sangat kuat dan membuai. Membuat semua orang ikut tersengat listrik kisah cinta Edward dan Bella. Buku keduanya bisa dibilang payah, meskipun bagi saya porsi Jacob yang cukup besar di situ memberi nuansa yang lebih membumi bagi kisah ini. Eclipse lebih bagus dan seru daripada New Moon. Mulai dari sejarah vampirnya (hahaha... Anne Rice pasti sempet misuh-misuh kenapa nggak memikirkan sejarah vampir seperti Meyer) yang seru, sampai ke adegan cinta segitiga yang bikin geli-geli tapi mau (adegan dalam tenda itu loooh). Tapi Breaking Dawn ini... yaaaaaaaah... mungkin tepatnya membuat saya jadi heart broken ya membacanya...

Kamis, 19 Februari 2009

Eiffel, Tolong!~Clio Freya

Ada beberapa buku yang membuat saya bangga terlibat dalam kelahirannya. Novel ini salah satunya. Bangganya saya itu berkaitan dengan betapa rapinya novel ini. Sebenarnya, selain untuk meluruskan beberapa titik-koma, novel ini tidak perlu editor.

Kenapa rekomendasi saya bisa begitu berbunga-bunga? Saya tidak biasa memuji, bahkan agak muak dengan novel-novel yang dipuja-puji orang. Euh, apa novel-novel itu tidak bisa "Speak for themselves"? Jadi, moga-moga puji-pujian saya ini tidak membuat yang membaca resensi ini malah jadi muak pada "Eiffel, Tolong!"

Bisa dibilang menjual kata "Eiffel", yang jadi magnet buat pembaca di mana-mana di seluruh dunia, novel ini memulai dirinya dengan judul yang tepat. Judul juga bisa mengantar pembaca kecele menduga ini novel cinta macam "Eiffel, I'm in Love". Tapi, tidak!

Bersiapkan terseret dalam dunia thriller yang seru, penuh adegan laga, dan spionase macam serial Alias, CSI, atau Mission Impossible. (Salah satu pertanyaan saya waktu bertemu pengarangnya adalah, "Kamu suka nonton Alias, ya?"--soalnya saya suka sekali serial itu.) Tokoh-tokohnya yang masih remaja--dan mengakibatkan buku ini terpaksa masuk genre teenlit--tidak mengurangi keseruan cerita. Tapi jangan bayangkan juga ceritanya jadi kayak teen spy atau seri Alex Rider-nya Horrowitz.

Anyway, adalah Fay, remaja Jakarta kelas 2 SMA yang berlibur ke Paris sendirian. Tadinya dia ke Paris karena ikut ibunya yang tugas ke sana, tapi detik terakhir tugas ibunya dipindah ke Brazil. Rencananya Fay akan ikut sekolah bahasa Prancis selama 2 minggu, lalu ikut tur selama 3 hari.

Semangat, semangat, semangat! Bagi orang yang pernah menghabiskan 3 hari di Paris, saya langsung membayangkan kegiatan Fay. Apa dia ke Eiffel, Louvre, dkk?

Salah besar, sodara-sodara! Fay ternyata terjebak dalam konspirasi bisnis dan militer mengerikan yang dijalankan oleh Andrew, konglomerat yang mau menghalalkan segala cara demi berhasilnya bisnis yang dijalankannya.

Dianggap mirip sekali dengan keponakan saingan bisnisnya yang orang Malaysia, Andrew menculik Fay dan men-trainingnya sehingga menjadi fotokopi sang keponakan. Dua minggu yang seharusnya jadi 2 minggu terindah dalam hidup Fay berubah bersimbah air mata.

Fay yang gak hobi olahraga dipaksa lari lintas alam dan push-up setiap hari. Fay yang gak pernah dandan dipaksa belajar memoles wajah dan memakai sepatu hak tinggi. Dan Andrew tidak segan-segan menerapkan hukuman fisik bila Fay menolak.

Tapi bukannya tidak ada sparks yang menyenangkan. Fay berjumpa Reno dan Ken. Ken, keponakan Andrew, menjadi mentornya. Sementara Reno adalah teman les bahasanya. Meski awal hubungannya dengan Ken suram, pemuda ini malah membuatnya merasakan sekilas summer love. Sementara Reno selalu melindunginya bak kakak.

Saat Fay sudah sempurna berubah menjadi Sheena, si gadis Malaysia, ia diterjunkan masuk ke rumah saingan bisnis Andrew. Tapi tugas yang mustahil itu akhirnya...

Wah, seru bin asyik banget membaca novel yang sangat rapi ini. Serasa nonton film! Dan... baiklah saya hentikan resensi ini sebelum lebih memuji lagi.

Sabtu, 29 November 2008

Vanishing Acts~Jodi Picoult

Memiliki anak benar-benar membuat saya bisa menghayati novel ini. Premis dasarnya, “kalau kau harus melanggar hukum demi anakmu, akankah kau melakukannya?” benar-benar jadi pertanyaan besar bagi semua orangtua.

Alkisah Delia Hopkins yang tinggal di New Hampshire punya kehidupan yang sempurna. Dia dibesarkan oleh ayah yang mengasihinya (Andrew), punya tunangan yang pengacara (Eric), punya putri berusia 5 tahun dari tunangannya itu (Sophie), dan sahabat masa kecil yang setia (Fitz). Dia juga punya pekerjaan Search-and-Rescue, mencari orang hilang dengan bantuan anjingnya, Greta.

Tapi saat Delia mempersiapkan pernikahannya, datang kejutan besar yang memorakporandakan hidupnya. Andrew ditahan dengan tuduhan menculik Delia waktu kecil. Awalnya Delia tidak percaya dan meminta Eric membela ayahnya, tapi kemudian terungkap Andrew memang membawa pergi Delia dari ibu kandungnya saat Delia berusia 4 tahun. Apa alasan Andrew? Ibu kandung Delia ternyata pemabuk, dan tidak bisa mengurus dirinya sendiri, apalagi mengurus anak kecil. Tapi apakah itu sudah cukup untuk membawa pergi Delia, memisahkannya dari ibu kandungnya? Pengadilan bergulir di negara bagian Arizona, tempat kejadian perkara. Delia bertemu lagi dengan ibunya, belajar lagi tentang masa lalunya yang hilang, berpusar dalam pertanyaan-pertanyaan, juga mengkaji ulang hubungannya dengan Eric dan Fitz, dan perannya sebagai ibu Sophie. Dia merasa kehilangan dirinya, mempertanyakan jati dirinya yang sesungguhnya.

Metafora-metafora yang digunakan Jodi Picoult dalam novel ini (dan sepertinya pada novel-novelnya yang lain juga) sangat kuat dan menyentuh. Misalnya Delia yang bekerja mencari orang hilang, tapi ternyata dirinya sendiri “hilang”. Lalu pernikahan Delia dan Eric yang terus-menerus tertunda karena ternyata Eric pemabuk—sementara Delia dibawa pergi dari ibunya karena wanita itu pemabuk.

Novel-novel Jodi Picoult selalu menyentuh masalah keluarga dan mempertanyakan hal-hal besar yang bisa terjadi di keseharian kita. Meskipun demikian tema yang diangkatnya sangat tidak umum. Misalkan saja dalam My Sister's Keeper, Jodi Picoult mengangkat tema anak yang dilahirkan untuk menjadi penolong kakaknya yang sakit-sakitan. Ini tema yang sangat khusus, tapi bukannya tidak mungkin terjadi dalam kehidupan nyata. Demikian pula tema dalam Vanishing Acts ini, penculikan oleh orangtua kandung sendiri, yang bukannya mustahil terjadi dalam hidup sehari-hari. Jodi juga sangat piawai meramu emosi-emosi yang mungkin muncul dan dialami oleh tokoh-tokoh ceritanya. Sisi keseharian tema tapi keuletan Jodi mengolahnya ini membuat saya jadi mengaguminya. Inilah pengarang profesional yang bukan sekadar menuliskan ide, tapi mengolah, meriset, mengulik segala sisi ide itu sebelum merangkaikannya menjadi narasi yang indah dan membuai pembacanya.

Senin, 13 Oktober 2008

Trilogi D’Angel ~ Luna Torashyngu





Tak terasa dalam 3 tahun sejarah penerbitan karyanya di GPU, Luna sudah menerakan angka 9. Pukul rata itu berarti ada 3 buku per tahun. Sungguh produktif untuk ukuran penulis cerita remaja Indonesia.

Tak heran, namanya pun mulai dikenal akrab di kalangan pecinta TeenLit Indonesia. Pooling majalah GADIS bahkan memilihnya jadi salah satu dari tiga pengarang cerita remaja lokal yang paling ngetop (dua lainnya adalah Esti Kinasih dan Rachmania Arunita).

Menurut saya, Luna mengawali karier menulisnya dengan strategi yang baik---entah disengaja ataupun tidak---yaitu merebut pasar dengan cerita-cerita cinta yang ringan, agak dorama, lembut, dan sangat berselera pasar remaja. Begitu pasar sudah di tangan, Luna mulai mengeksplorasi ranah yang tidak awam bagi pasar remaja: science fiction.

Luna mulai menunjukkan kelasnya pada Beauty and the Best (2006) dan mengulangi lagi kepiawaiannya merangkai cerita pada Lovasket (2007). Kedua novel ini sangat mengalir, alurnya padat, logika ceritanya terjaga baik. Memang kekuatan utama novel-novel Luna ada pada logika cerita yang sangat masuk akal dan alur yang padat hingga membuat pembaca menolak meletakkan novelnya hingga tamat. Ini juga yang disajikannya pada trilogi D’Angel.

Trilogi ini membawa Luna ke ranah science fiction, tanpa meninggalkan naungannya pada genre TeenLit. Dengan tokoh Fika yang masih remaja kelas 1 SMA (pada buku pertama, D’Angel), Luna tetap bisa bebas menggunakan bahasa yang tidak kaku dan lincah, meskipun tema yang ditawarkan bisa saja jadi berat bila pemilihan tokohnya bukan remaja. Kesan lincah khas remaja ini juga tidak hilang meskipun tema lalu meluas kepada spionase, militer, konspirasi internasional, dan percobaan ilmiah. Luna juga tidak berpanjang-panjang memusingkan pembacanya dengan teori-teori sulit. Teori ilmiah sekadar memenuhi logika cerita, sehingga cerita tidak timpang, dan novelnya masih sangat bisa dinikmati tanpa mengerutkan dahi.

Alkisah Rafika Handayani adalah siswi unggulan di sekolahnya. Bintang lapangan voli, juga bintang kelas. Fisiknya pun cantik bening, hingga memikat salah satu kakak kelasnya dan akhirnya mereka pacaran. Tapi saat merayakan peristiwa jadian itu, Fika diculik. Mulailah thriller kejar-kejaran dari basement salah satu mal di Jakarta yang diwarnai adegan tembak-tembakan. Kenapa Fika diculik? Andika, cowok yang menolongnya memberitahu bahwa Fika sebenarnya bukan manusia. Dia bisa sangat sempurna secara fisik dan otak karena dia adalah Genoid hasil percobaan yang mencoba membuat manusia sempurna. Saat ini nyawanya terancam karena Jenderal Rastaji ingin membuat pasukan yang terdiri atas Genoid, dan membutuhkan Fika sebagai contoh. Kejar-mengejar makin seru, dan ditutup dengan hancurnya laboratorium Genoid di dekat Bogor. Fika yang kehidupannya hancur lari ke Malaysia.

Buku kedua, D’Angel: Rose, dibuka dengan ditemukannya Fika di Malaysia. Fika diminta pulang ke Indonesia (meskipun dia dituduh melakukan pembunuhan) untuk membantu polisi menemukan putri seorang koruptor. Fika kembali menjadi anak SMA. Meskipun tugasnya berat, Fika merasa kembali menemukan dunianya. Fika mendapatkan sahabat-sahabat baru, tapi di lain pihak musuh lamanya, Jenderal Rastaji muncul lagi, semakin kuat serta sadis. Jenderal Rastaji juga mengincar putri koruptor yang dicari Fika, demi mendapatkan dana yang tersimpan di salah satu bank di Swiss. Akhirnya jenderal keji ini menculik sahabat-sahabat baru Fika. Ia harus menggunakan kemampuan Genoid-nya dan berkelahi habis-habisan dengan Genoid lain untuk menyelamatkan teman-temannya. Tapi di penghujung cerita, Jenderal Rastaji terbunuh.

Layaknya kisah thriller bersambung, benarkah sang musuh besar sudah mati? Pada D’Angel: Princess, Fika diminta menjadi pengawal putri presiden, karena ada ancaman pembunuhan keluarga presiden. Sekali lagi Fika menyamar jadi anak SMA supaya bisa membayangi sang putri, Gya. Tapi Gya bukan pribadi yang menyenangkan. Merasa teman-teman hanya mendekatinya untuk mencari keuntungan, Gya memasang topeng judes dan dingin. Fika berusaha mencairkan kebekuan hati Gya sambil menjalankan tugasnya. Dan akhirnya Fika menghadapi konfrontasi final dengan musuh besarnya. Kali ini Fika harus melawan Genoid yang lebih kuat. Juga menata hatinya lagi karena Andika kembali muncul.

Dilirik dari sudut cerita, kisah trilogi D’Angel sangat berbeda dengan TeenLit pop yang merajai pasar. D’Angel yang full action ala film Hollywood ini benar-benar bisa jadi pilihan bacaan seru yang menghibur.

Rupanya kiprah Luna di ranah science fiction-action-TeenLit ini belum akan usai. Atau mungkin tepatnya, Luna justru “pulang ke rumah”. Dan membawa warna baru bagi dunia TeenLit Indonesia.