“Just keep swimming! Just keep swimming!” Itu kata Dory si ikan Napoleon dalam film “Finding Nemo”. Pernah nonton, kan? Dalam film itu Dory menyemangati Marlin yang selalu pesimis dan punya aura “Gue pasti gagal! Gue pasti gagal!” Intinya nyanyian si Dory, ayo, jangan patah semangat, jangan berhenti, terus lakukan!
Petuah si Dory bisa juga diaplikasikan ke kegiatan menulis (dan banyak hal lain dalam hidup ini); jangan berhenti, terus lakukan, jangan patah semangat! Dalam hal menulis, just keep writing menjadi jauh lebih penting daripada sekadar membakar semangat kita, para penulis. Just keep writing membuat kita jadi semakin luwes, ide-ide kita semakin berkembang dan bermunculan, pilihan kata kita juga jadi makin variatif.
So, luangkan waktu untuk menulis tiap hari! Jangan malas! Jangan malu! Disiplin! Disiplin! Disiplin! (Sejujurnya, ini teriakan-teriakan untuk diri sendiri.)
Contoh paling mudah dari kegagalan menulis sedikit setiap harinya adalah... ta-daaa... Saya sendiri. Tentu saja sebagai ibu rumah tangga banyak urusan, saya ya... banyak urusan yang membuat saya jadi bisa mencari-cari alasan untuk tidak menulis, misalnya... anak rewel, anak merebut komputer, anak minta ditemenin, setelah anak tidur, ibunya capek, ibunya ngantuk, saat nemenin tidur ikut ketiduran dll dsb dst.
Sama seperti banyak hal lain di dunia ini, alasan-alasan itu bisa dinulifikasikan asalkan ada niat dan semangat untuk melakukannya. Argh.
So, step one: niat untuk membuang semua alasan dan mulai menulis.
Step two: memilih media menulis. Bagi saya mudah, saya sudah punya blog ini. Jadi tinggal mendisiplinkan diri untuk mengisinya dengan tulisan. Bagi orang lain bisa saja dia memilih buku tulis, diary cantik, atau ketak-ketik di komputernya, baik di-share dengan orang lain ataupun tidak. Media sosial seperti facebook atau twitter bisa membantu juga. Tapi saya pribadi merasa twitter tidak membantu seseorang menjadi penulis, karena ruang yang disediakannya hanya cukup untuk lontaran pendapat.
Step three: mengisi media itu dengan tulisan. Mulailah kita menghadapi masalah pertama... Mau nulis apa? Semua orang yang mulai menulis pasti menghadapi ini. Mau dia itu penulis andal dan berbakat, mau dia penulis pemula. Maka muncullah pertanyaan standar bagi para pengarang: Idenya datang dari mana? Dan jawaban standar (tapi benar) pun muncul: dari mana-mana...
Mind mapping seperti yang diajarkan oleh Tony Buzan sangat membantu. Sayang saya agak gaptek sehingga tidak bisa memasang gambarnya di sini, tapi moga-moga saya bisa menjelaskan dengan cukup baik. Mind mapping seperti brain storming, menuliskan segala hal yang berkaitan dengan topik yang ingin kita tulis, tetapi dengan lebih rapi. Misalnya kita ingin menulis soal kamar tidur, apa yang muncul dalam kepala kita saat mendengar kata kamar tidur? Tempat tidur, lemari, nakas. Apa yang terpikir saat mendengar kata tempat tidur? Bantal, seprai, kasurnya latex atau kapuk, letaknya di tengah ruangan atau dekat jendela, ukurannya dobel atau singel, pencahayaan yang mengenai tempat tidur itu terang atau remang-remang. Apa yang terpikir saat mendengar kata bantal? Jumlahnya berapa, sarung bantalnya motifnya apa... Dst dst. Itu baru satu topik kamar tidur (tempat tidur) yang dipecah-pecah. Nah, bayangkan betapa banyak yang bisa “dipecah-pecah” lagi dari topik kamar tidur. Jadi, teknik mind map adalah salah satu teknik menarik untuk mencari ide.
Just keep writing juga membuat kita lebih luwes dalam mencari ide. Soalnya begini, semakin banyak kita menulis, semakin banyak kita menyinggung berbagai topik, semakin luas kita bereksplorasi dengan pengetahuan kita, otomatis makin banyak juga ide yang muncul. Itulah gunanya latihan dan tidak berhenti menulis.
So, mari kita kembali ke step one: niat.
Oke, niat saja tidak cukup. Untuk membakar niat dan semangat kita, terus terang harus ada semacam reward. Sesungguhnya, bisa membuat tulisan yang baik itu sudah membawa kepuasan yang bisa menjadi reward bagi kita. Tapi bisa juga kita menciptakan reward yang lain. Salah satu reward yang menyenangkan bagi saya adalah... ternyata tulisan saya dibaca orang! Yay! Ada follower blog saya! Yay! Biarpun masih sedikit, gak papa... tapi ya, itu salah satu contoh reward.
So... ayo rajin... ayo rajin... disiplin... jangan setengah-setengah... AYO!
Tampilkan postingan dengan label editing and publishing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label editing and publishing. Tampilkan semua postingan
Minggu, 29 Januari 2012
Senin, 16 Januari 2012
Do the Talk
Haaaaiii... Sudah lama ya saya tidak sempat menulis blog, ada beberapa pekerjaan kejar tayang selain tentu saja liburan akhir tahun (Nggak... saya nggak ke mana-mana, bahkan staycation pun gagal memberi suatu pengalaman yang lumayan menarik, karena kami hanya ke mal, ke mal, dan ke mal lagi... Very not inspiring as a self-claimed travel writer). Selama masa-masa tidak sempat menulis itu, sebenarnya ada beberapa pengalaman yang ingin saya share di blog ini. Salah satunya adalah MENULIS PERCAKAPAN.
Hah?
Betul. Masalahnya begini, kemarin-kemarin ini saya kebetulan mengedit naskah novel pengarang Indonesia. Kebetulan naskah ini punya masalah yang sama dengan banyak naskah lain yang pernah saya tangani: adegan percakapannya parah banget. Maksudnya parah bukan percakapannya bolong-bolong, atau tokoh A bertanya tokoh B tidak menjawab, tapi nyaris tidak ada keterangan apa pun tentang nuansa, situasi, latar belakang, perasaan-perasaan si tokoh-tokoh yang terlibat dalam percakapan itu. Jadi percakapan dalam novel hanya terdiri atas kalimat-kalimat dalam tanda petik yang sambung-menyambung berderetan ke bawah. Ini menyebalkan saya sebagai editor, karena saya jadi harus memoles banyak sekali (atau mengembalikan naskah ke pengarang, yang artinya memperlama waktu penerbitan).
Masih bingung? Begini contohnya (contoh ini murni karangan saya, bukan mengutip dari novel mana pun):
Ani masuk kelas dan meletakkan tasnya di bangku. Budi mengekor di belakangnya.
“Hai, Ani!”
“Hai, Budi. Selamat pagi...”
“Kamu sudah buat PR fisika belum?”
“Sudah sih, tapi aku bingung yang nomor empat...”
“Wah, asyik... Aku boleh pinjam gak?”
“Yah, jangan dooong... Buat PR sendiri, kenapa sih?”
“Ah, kamu nggak asyik ah, anaknya! Hei, Cici sudah buat PR fisika, belum?”
“Belum tuh...”
“Wah, kalian payah ah, aku mau ke kantin aja, sarapan!”
“Hei, ikut dooong!”
Nah, setelah “Hai, Ani” dan “Hai, Budi” sebenarnya jelas nggak sih siapa yang ngomong? Nggak jelas, kan... Apalagi setelah tokoh ketiga, si Cici, memasuki arena percakapan dan percakapan menjadi panjang. Gawat, gawat, gawat. Semakin nggak jelas. Itu masih percakapan pendek, bagaimana percakapan dalam novel yang sering kali panjangnya berhalaman-halaman?
Pengarang sering kali merasa sudah cukup memaparkan dan menjelaskan adegan-adegan yang ada di dalam kepalanya. Padahal belum cukup. Pembaca bukanlah pengarang, pembaca tidak tinggal dalam kepala pengarang, dan pembaca buku bukanlah pembaca pikiran. Dengan demikian pengarang yang ingin naskahnya dinikmati pembaca punya kewajiban untuk menggambarkan sejelas mungkin adegan-adegan dan percakapan-percakapan dalam novelnya. Pendeknya, jangan membuat bingung pembaca. Bermurah-hatilah dengan kata-kata dan huruf-huruf, buatlah deskripsi sebaik mungkin dan sejelas mungkin. Ajaklah pembaca masuk ke alam pikiranmu, wahai Pengarang! Ajak mereka ikut merasakan terik matahari atau sepoi angin, buat mereka ikut merasakan kemarahan dan kekesalan si tokoh, buat mereka juga tersipu-sipu saat si tokoh melirik pujaan hatinya.
Anyway, coba bandingkan adegan si Ani, si Budi, dan si Cici kalau sudah dipermak seperti ini:
Ani masuk kelas dan meletakkan tasnya di bangku. Budi mengekor di belakangnya.
“Hai, Ani!” sapa Budi dengan mata berbinar nakal.
“Hai, Budi. Selamat pagi...,” jawab Ani sambil duduk di bangkunya. Wajahnya datar-datar saja.
“Kamu sudah buat PR fisika belum?” tanya Budi sambil nangkring di meja Ani. Sikapnya sih sok cuek, tapi sebenarnya dadanya berdebar-debar. Budi bahkan merasa wajahnya agak menghangat, padahal pagi berhujan ini lumayan dingin.
“Sudah sih, tapi aku bingung yang nomor empat...,” jawab Ani, tetap dengan datar.
“Wah, asyik... Aku boleh pinjam gak?” seru Budi gembira. Seruannya mengisi kelas yang baru berisi beberapa murid saja.
“Yah, jangan dooong... Buat PR sendiri, kenapa sih?” Kali ini Ani melirik Budi, bahkan sedikit mendelik. Dia memang pintar, tapi pelit meminjamkan pekerjaannya. Bukannya pelit sih, tapi Ani merasa tiap murid harus berusaha mengerjakan PR-nya sendiri, kalau tidak kapan pintarnya?
“Ah, kamu nggak asyik ah, anaknya! Hei, Cici sudah buat PR fisika, belum?” Budi cemberut dan melorot turun dari meja Ani, langsung mengalihkan perhatiannya pada Cici yang baru masuk kelas.
“Belum tuh...,” jawab Cici santai.
“Wah, kalian payah ah, aku mau ke kantin aja, sarapan!” Budi berbalik dan berjalan ke pintu kelas.
“Hei, ikut dooong!” Tak diduga, Ani bangkit dari bangkunya dan mengejar Budi.
Percakapan yang sudah ditambah-tambahi ini lebih “seru”, kan? Pembaca bisa menangkap bahwa si Budi sebenarnya mungkin ada hati pada si Ani, dan mungkin perasaan itu tidak bertepuk sebelah tangan. Nuansa kelas di pagi hari saat murid-murid mulai berdatangan lumayan ada, dan perasaan-perasaan tokoh-tokoh juga digambarkan.
Saya bisa membayangkan dalam alam pikiran pengarang percakapan Ani dan Budi ini memang terjadi begitu saja. Pagi yang hujan, suasana kelas yang masih sepi, semua mengabur menjadi latar belakang, yang penting adalah dua tokoh utama si Ani dan si Budi. Dalam alam pikiran pengarang, Ani dan Budi berbalasan kata-kata secara langsung. Dan perasaan si Budi yang berdebar-debar, wah, itu kan sudah jelas banget... (dalam pikiran si pengarang).
Semua itu memang sudah jelas bagi si pengarang, tapi belum tentu pembaca bisa menangkap dan mengertinya.
Memang perlu latihan dan latihan serta kejelian untuk menangkap “bolong” ini. Selain itu, tentu saja pembaca awal sangat membantu untuk memberitahu di mana saja letak “bolong” pada naskah. Orang-orang dekat biasanya mau menyediakan waktu untuk menjadi pembaca awal. Mintalah para pembaca awal ini untuk mencermati “bolong” seperti ini.
Semoga obrolan pagi ini lumayan berguna ya... Sampai nanti!
Hah?
Betul. Masalahnya begini, kemarin-kemarin ini saya kebetulan mengedit naskah novel pengarang Indonesia. Kebetulan naskah ini punya masalah yang sama dengan banyak naskah lain yang pernah saya tangani: adegan percakapannya parah banget. Maksudnya parah bukan percakapannya bolong-bolong, atau tokoh A bertanya tokoh B tidak menjawab, tapi nyaris tidak ada keterangan apa pun tentang nuansa, situasi, latar belakang, perasaan-perasaan si tokoh-tokoh yang terlibat dalam percakapan itu. Jadi percakapan dalam novel hanya terdiri atas kalimat-kalimat dalam tanda petik yang sambung-menyambung berderetan ke bawah. Ini menyebalkan saya sebagai editor, karena saya jadi harus memoles banyak sekali (atau mengembalikan naskah ke pengarang, yang artinya memperlama waktu penerbitan).
Masih bingung? Begini contohnya (contoh ini murni karangan saya, bukan mengutip dari novel mana pun):
Ani masuk kelas dan meletakkan tasnya di bangku. Budi mengekor di belakangnya.
“Hai, Ani!”
“Hai, Budi. Selamat pagi...”
“Kamu sudah buat PR fisika belum?”
“Sudah sih, tapi aku bingung yang nomor empat...”
“Wah, asyik... Aku boleh pinjam gak?”
“Yah, jangan dooong... Buat PR sendiri, kenapa sih?”
“Ah, kamu nggak asyik ah, anaknya! Hei, Cici sudah buat PR fisika, belum?”
“Belum tuh...”
“Wah, kalian payah ah, aku mau ke kantin aja, sarapan!”
“Hei, ikut dooong!”
Nah, setelah “Hai, Ani” dan “Hai, Budi” sebenarnya jelas nggak sih siapa yang ngomong? Nggak jelas, kan... Apalagi setelah tokoh ketiga, si Cici, memasuki arena percakapan dan percakapan menjadi panjang. Gawat, gawat, gawat. Semakin nggak jelas. Itu masih percakapan pendek, bagaimana percakapan dalam novel yang sering kali panjangnya berhalaman-halaman?
Pengarang sering kali merasa sudah cukup memaparkan dan menjelaskan adegan-adegan yang ada di dalam kepalanya. Padahal belum cukup. Pembaca bukanlah pengarang, pembaca tidak tinggal dalam kepala pengarang, dan pembaca buku bukanlah pembaca pikiran. Dengan demikian pengarang yang ingin naskahnya dinikmati pembaca punya kewajiban untuk menggambarkan sejelas mungkin adegan-adegan dan percakapan-percakapan dalam novelnya. Pendeknya, jangan membuat bingung pembaca. Bermurah-hatilah dengan kata-kata dan huruf-huruf, buatlah deskripsi sebaik mungkin dan sejelas mungkin. Ajaklah pembaca masuk ke alam pikiranmu, wahai Pengarang! Ajak mereka ikut merasakan terik matahari atau sepoi angin, buat mereka ikut merasakan kemarahan dan kekesalan si tokoh, buat mereka juga tersipu-sipu saat si tokoh melirik pujaan hatinya.
Anyway, coba bandingkan adegan si Ani, si Budi, dan si Cici kalau sudah dipermak seperti ini:
Ani masuk kelas dan meletakkan tasnya di bangku. Budi mengekor di belakangnya.
“Hai, Ani!” sapa Budi dengan mata berbinar nakal.
“Hai, Budi. Selamat pagi...,” jawab Ani sambil duduk di bangkunya. Wajahnya datar-datar saja.
“Kamu sudah buat PR fisika belum?” tanya Budi sambil nangkring di meja Ani. Sikapnya sih sok cuek, tapi sebenarnya dadanya berdebar-debar. Budi bahkan merasa wajahnya agak menghangat, padahal pagi berhujan ini lumayan dingin.
“Sudah sih, tapi aku bingung yang nomor empat...,” jawab Ani, tetap dengan datar.
“Wah, asyik... Aku boleh pinjam gak?” seru Budi gembira. Seruannya mengisi kelas yang baru berisi beberapa murid saja.
“Yah, jangan dooong... Buat PR sendiri, kenapa sih?” Kali ini Ani melirik Budi, bahkan sedikit mendelik. Dia memang pintar, tapi pelit meminjamkan pekerjaannya. Bukannya pelit sih, tapi Ani merasa tiap murid harus berusaha mengerjakan PR-nya sendiri, kalau tidak kapan pintarnya?
“Ah, kamu nggak asyik ah, anaknya! Hei, Cici sudah buat PR fisika, belum?” Budi cemberut dan melorot turun dari meja Ani, langsung mengalihkan perhatiannya pada Cici yang baru masuk kelas.
“Belum tuh...,” jawab Cici santai.
“Wah, kalian payah ah, aku mau ke kantin aja, sarapan!” Budi berbalik dan berjalan ke pintu kelas.
“Hei, ikut dooong!” Tak diduga, Ani bangkit dari bangkunya dan mengejar Budi.
Percakapan yang sudah ditambah-tambahi ini lebih “seru”, kan? Pembaca bisa menangkap bahwa si Budi sebenarnya mungkin ada hati pada si Ani, dan mungkin perasaan itu tidak bertepuk sebelah tangan. Nuansa kelas di pagi hari saat murid-murid mulai berdatangan lumayan ada, dan perasaan-perasaan tokoh-tokoh juga digambarkan.
Saya bisa membayangkan dalam alam pikiran pengarang percakapan Ani dan Budi ini memang terjadi begitu saja. Pagi yang hujan, suasana kelas yang masih sepi, semua mengabur menjadi latar belakang, yang penting adalah dua tokoh utama si Ani dan si Budi. Dalam alam pikiran pengarang, Ani dan Budi berbalasan kata-kata secara langsung. Dan perasaan si Budi yang berdebar-debar, wah, itu kan sudah jelas banget... (dalam pikiran si pengarang).
Semua itu memang sudah jelas bagi si pengarang, tapi belum tentu pembaca bisa menangkap dan mengertinya.
Memang perlu latihan dan latihan serta kejelian untuk menangkap “bolong” ini. Selain itu, tentu saja pembaca awal sangat membantu untuk memberitahu di mana saja letak “bolong” pada naskah. Orang-orang dekat biasanya mau menyediakan waktu untuk menjadi pembaca awal. Mintalah para pembaca awal ini untuk mencermati “bolong” seperti ini.
Semoga obrolan pagi ini lumayan berguna ya... Sampai nanti!
Kamis, 17 November 2011
Editor dan Pengarang
Suatu hari dulu, waktu saya masih bekerja penuh waktu di kantor penerbitan, saya pernah diminta tolong “mengajari” seorang mahasiswa. Bukan pekerjaan yang aneh sebetulnya, karena kantor kami sering menerima mahasiswa magang atau mahasiswa yang membuat skripsi. Jadi, sesekali para editor diminta mendampingi mahasiswa-mahasiswa seperti ini.
Yang agak spesial, kali ini yang meminta bukan bos saya langsung, melainkan seorang rekan editor yang rupanya mendapat titah langsung potong kompas. “Mahasiswa ini anaknya temannya si bapak yang di lantai enam,” kata rekan saya itu. Oh, oke, bukan masalah (sedikit membuat sakit perut sih...). “Dia mahasiswa Harvard loh!” Oh, wow, what an honor! Mahasiswa Harvard mau belajar sama saya? Oh, wow! Siapalah saya ini?
Dan datanglah si mahasiswa. Mungil, mungkin baru dua puluh tahun, kelihatan malu-malu juga.
Saya dengan penuh semangat memulai pembicaraan---tentu setelah basa-basi, sudah berapa lama di Harvard, senang nggak di Amerika, dll dsb---jadi, apa yang bisa saya bantu?
“Saya mau jadi editor, Mbak,” katanya.
“Menarik!” kata saya, tentu senang mendengar orang mau jadi editor seperti saya. Masalahnya, profesi editor kan bukan profesi yang ngetop seperti dokter, pilot, polisi, guru, atau presiden. Tapi, kalau ini bukan profesi ngetop, jadi, “Kenapa mau jadi editor?”
“Supaya bisa marahin pengarang, Mbak! Kayaknya seru tuh,” katanya dengan bersemangat.
Hah, apa? Maaf, coba diulang? – Serius, saya mengatakan itu!
Dengan santai si mahasiswa Harvard mengulanginya, “Supaya bisa marahin pengarang, Mbak!”
Saya terdiam. Segala semangat ingin mengajar (kalau naskah diterima di sini prosesnya gini, gini, terus diedit gini, gini, lalu kita desain cover gini, gini, blablabla dst dsb) lenyap.
“Ooo... gitu ya?” Lalu percakapan jadi tersendat-sendat, dan kaku, dan aneh. Sampai akhirnya si mahasiswa Harvard dijemput oleh teman yang menitipkannya pada saya.
Oke, ketika saya mulai mencari kerja di tahun 2000 duluuuu... cita-cita saya adalah menjadi pengarang. Kenapa saya ingin jadi pengarang? Karena saya sangat suka sekali banget membaca. Jadi, ketika kemudian terbuka kesempatan untuk menjadi editor—which is sebenarnya waktu itu saya juga kurang mengerti apa pekerjaannya, selain bahwa saya akan membaca novel setiap hari—langsung saya meraihnya. Bukan pekerjaan tanpa minus. Yang pasti pekerjaan saya sebelumnya memberi saya gaji dua kali lipat daripada pekerjaan menjadi editor ini (capeknya juga dua kali lipat). Tapi rupanya panggilan hati itu tidak salah. Sebelas tahun kemudian saya tetap menjadi editor, dan terus belajar.
Langkah saya menjadi editor tidaklah mulus. Benar saya lulus tes penerimaan, yang artinya penguasaan bahasa Indonesia saya lumayan lebih bagus daripada rekan-rekan pelamar lain. Tapi, saya sungguh belum memahami esensi mengedit. Tugas pertama saya yang diperiksa rekan senior mendapat bisik-bisik merdu ke telinga bos, “Kayak belum diedit saja!” Syukurlah bos saya bijaksana, “Namanya juga baru belajar. Kamu dong ngajarin dia.” Berkas naskah pertama dan kedua dan terus sepanjang tahun pertama selalu kembali ke tangan saya dengan penuh coretan. Mungkin bisa dibilang coretan para senior pada berkas naskah yang saya kerjakan baru agak sedikit berkurang di tahun keempat saya menjadi editor. Sedemikian sulitnya tugas seorang editor, sedemikian tingginya tuntutan akan ketelitian bagi seorang editor.
Pun demikian saya tidak luput dari kesombongan. Dalam suatu rapat redaksi pernah saya berkomentar tentang para editor junior saya, “Yah, saya saja mencapai tahap ini, bisa seperti ini setelah sekian tahun!” Untunglah rekan editor, Hetih Rusli, cepat menyergah saya, “Dan kita masih terus belajar kan, Don?” Ehem. Benar. Saya masih harus terus belajar menajamkan mata melihat selipan-selipan huruf yang salah, menemukan kalimat-kalimat yang aneh. Saya juga masih harus terus mengikuti perkembangan bahasa (dulu memperhatikan, kemarin memerhatikan, dan hari ini kembali jadi memperhatikan!).
As for the editor-author relationship? Saya sungguh beruntung tahun 2005, kantor tempat saya bekerja mengadakan lomba novel remaja. Dari sanalah saya kemudian menjadi sangat terlibat dengan para pengarang lokal. Indahnya bekerja sama dengan pengarang lokal sangat banyak.
Pertama, saya harus berhubungan langsung dengan mereka. Mulai dari yang manis, ramah, sopan, dan penurut, sampai yang sombong, bebal, dan hanya mementingkan diri sendiri. Sungguh, ilmu kehidupan saya teruji saat harus berhubungan dengan aneka pengarang ini—terutama mereka yang karakternya sulit. Bila harus berhubungan dengan mereka-mereka yang sulit ini, terkadang saya menunda-nunda-nunda sampai tidak bisa ditunda lagi, dan akhirnya menghubungi mereka dengan sakit perut.
Kedua, saya bisa ikut membentuk naskah. Terkadang naskah yang tiba di tangah saya dari pengarang lokal masih mentah, masih harus dipoles kanan-kiri. Memikirkan usulan-usulan apa saja yang bisa diberikan untuk memperbagus suatu novel merupakan proses kreatif tersendiri yang sangat menarik dan membangkitkan semangat. Sungguh seru. Menemukan naskah rapi yang sudah jadi pun menjadi keasyikan tersendiri, karena sama seperti bos saya dulu menemukan Marga T. dan mengangkat Karmila, saya seolah menemukan mutiara terpendam pada novel-novel yang sudah rapi.
Ketiga, proses hubungan antara editor dan pengarang tidak berhenti pada urusan naskah. Proses berlanjut dengan bentuk setting dan tampilan cover, dan tentu juga proses promosi dan penjualan. Sering kali alasan menemani pengarang talkshow di radio anu atau di mal itu jadi alasan yang tokcer untuk keluar kantor... hehehe...
Lalu, masalah marahin pengarang, sesuai cita-cita si mahasiswa Harvard itu. Sepanjang sejarah saya menjadi editor, saya rasa saya belum pernah berkonfrontasi terbuka dengan pengarang. Alias saya belum pernah marahin para pengarang yang bekerja sama dengan saya. Sejauh ini saya masih berhasil mengomunikasikan apa yang saya inginkan, sehingga si pengarang bisa menerima dan mengerti. Ada memang beberapa pengarang yang... ya ampun, susahnya dihadapi. Saya pun pernah dimarahi pengarang senior akibat pekerjaan saya kurang sempurna. Tapi saya rasa sikap menghargai pengarang ini merupakan salah satu ajaran almarhum bos saya, Listiana Srisanti. Meskipun saat menghadapi pengarang yang sulit saya merasa “kenapa sih gak boleh balas marah ke pengarang ini, wong dia yang sombong kok!” tapi saya rasa dasar menghargai pengarang itu ada benarnya. Pertama, hukum emas: hargailah orang lain seperti kamu menghargai diri sendiri. Kedua, si pengarang yang punya ide dan tulisan. Ketiga, editor mungkin ensiklopedia berjalan atau menguasai empat bahasa, tapi tetap saja editor berfungsi membantu pengarang. Keempat, hubungan tanpa marah-marah pasti lebih enak, bukan? Sesungguhnya bukankah editor dan pengarang saling membutuhkan?
Yang agak spesial, kali ini yang meminta bukan bos saya langsung, melainkan seorang rekan editor yang rupanya mendapat titah langsung potong kompas. “Mahasiswa ini anaknya temannya si bapak yang di lantai enam,” kata rekan saya itu. Oh, oke, bukan masalah (sedikit membuat sakit perut sih...). “Dia mahasiswa Harvard loh!” Oh, wow, what an honor! Mahasiswa Harvard mau belajar sama saya? Oh, wow! Siapalah saya ini?
Dan datanglah si mahasiswa. Mungil, mungkin baru dua puluh tahun, kelihatan malu-malu juga.
Saya dengan penuh semangat memulai pembicaraan---tentu setelah basa-basi, sudah berapa lama di Harvard, senang nggak di Amerika, dll dsb---jadi, apa yang bisa saya bantu?
“Saya mau jadi editor, Mbak,” katanya.
“Menarik!” kata saya, tentu senang mendengar orang mau jadi editor seperti saya. Masalahnya, profesi editor kan bukan profesi yang ngetop seperti dokter, pilot, polisi, guru, atau presiden. Tapi, kalau ini bukan profesi ngetop, jadi, “Kenapa mau jadi editor?”
“Supaya bisa marahin pengarang, Mbak! Kayaknya seru tuh,” katanya dengan bersemangat.
Hah, apa? Maaf, coba diulang? – Serius, saya mengatakan itu!
Dengan santai si mahasiswa Harvard mengulanginya, “Supaya bisa marahin pengarang, Mbak!”
Saya terdiam. Segala semangat ingin mengajar (kalau naskah diterima di sini prosesnya gini, gini, terus diedit gini, gini, lalu kita desain cover gini, gini, blablabla dst dsb) lenyap.
“Ooo... gitu ya?” Lalu percakapan jadi tersendat-sendat, dan kaku, dan aneh. Sampai akhirnya si mahasiswa Harvard dijemput oleh teman yang menitipkannya pada saya.
Oke, ketika saya mulai mencari kerja di tahun 2000 duluuuu... cita-cita saya adalah menjadi pengarang. Kenapa saya ingin jadi pengarang? Karena saya sangat suka sekali banget membaca. Jadi, ketika kemudian terbuka kesempatan untuk menjadi editor—which is sebenarnya waktu itu saya juga kurang mengerti apa pekerjaannya, selain bahwa saya akan membaca novel setiap hari—langsung saya meraihnya. Bukan pekerjaan tanpa minus. Yang pasti pekerjaan saya sebelumnya memberi saya gaji dua kali lipat daripada pekerjaan menjadi editor ini (capeknya juga dua kali lipat). Tapi rupanya panggilan hati itu tidak salah. Sebelas tahun kemudian saya tetap menjadi editor, dan terus belajar.
Langkah saya menjadi editor tidaklah mulus. Benar saya lulus tes penerimaan, yang artinya penguasaan bahasa Indonesia saya lumayan lebih bagus daripada rekan-rekan pelamar lain. Tapi, saya sungguh belum memahami esensi mengedit. Tugas pertama saya yang diperiksa rekan senior mendapat bisik-bisik merdu ke telinga bos, “Kayak belum diedit saja!” Syukurlah bos saya bijaksana, “Namanya juga baru belajar. Kamu dong ngajarin dia.” Berkas naskah pertama dan kedua dan terus sepanjang tahun pertama selalu kembali ke tangan saya dengan penuh coretan. Mungkin bisa dibilang coretan para senior pada berkas naskah yang saya kerjakan baru agak sedikit berkurang di tahun keempat saya menjadi editor. Sedemikian sulitnya tugas seorang editor, sedemikian tingginya tuntutan akan ketelitian bagi seorang editor.
Pun demikian saya tidak luput dari kesombongan. Dalam suatu rapat redaksi pernah saya berkomentar tentang para editor junior saya, “Yah, saya saja mencapai tahap ini, bisa seperti ini setelah sekian tahun!” Untunglah rekan editor, Hetih Rusli, cepat menyergah saya, “Dan kita masih terus belajar kan, Don?” Ehem. Benar. Saya masih harus terus belajar menajamkan mata melihat selipan-selipan huruf yang salah, menemukan kalimat-kalimat yang aneh. Saya juga masih harus terus mengikuti perkembangan bahasa (dulu memperhatikan, kemarin memerhatikan, dan hari ini kembali jadi memperhatikan!).
As for the editor-author relationship? Saya sungguh beruntung tahun 2005, kantor tempat saya bekerja mengadakan lomba novel remaja. Dari sanalah saya kemudian menjadi sangat terlibat dengan para pengarang lokal. Indahnya bekerja sama dengan pengarang lokal sangat banyak.
Pertama, saya harus berhubungan langsung dengan mereka. Mulai dari yang manis, ramah, sopan, dan penurut, sampai yang sombong, bebal, dan hanya mementingkan diri sendiri. Sungguh, ilmu kehidupan saya teruji saat harus berhubungan dengan aneka pengarang ini—terutama mereka yang karakternya sulit. Bila harus berhubungan dengan mereka-mereka yang sulit ini, terkadang saya menunda-nunda-nunda sampai tidak bisa ditunda lagi, dan akhirnya menghubungi mereka dengan sakit perut.
Kedua, saya bisa ikut membentuk naskah. Terkadang naskah yang tiba di tangah saya dari pengarang lokal masih mentah, masih harus dipoles kanan-kiri. Memikirkan usulan-usulan apa saja yang bisa diberikan untuk memperbagus suatu novel merupakan proses kreatif tersendiri yang sangat menarik dan membangkitkan semangat. Sungguh seru. Menemukan naskah rapi yang sudah jadi pun menjadi keasyikan tersendiri, karena sama seperti bos saya dulu menemukan Marga T. dan mengangkat Karmila, saya seolah menemukan mutiara terpendam pada novel-novel yang sudah rapi.
Ketiga, proses hubungan antara editor dan pengarang tidak berhenti pada urusan naskah. Proses berlanjut dengan bentuk setting dan tampilan cover, dan tentu juga proses promosi dan penjualan. Sering kali alasan menemani pengarang talkshow di radio anu atau di mal itu jadi alasan yang tokcer untuk keluar kantor... hehehe...
Lalu, masalah marahin pengarang, sesuai cita-cita si mahasiswa Harvard itu. Sepanjang sejarah saya menjadi editor, saya rasa saya belum pernah berkonfrontasi terbuka dengan pengarang. Alias saya belum pernah marahin para pengarang yang bekerja sama dengan saya. Sejauh ini saya masih berhasil mengomunikasikan apa yang saya inginkan, sehingga si pengarang bisa menerima dan mengerti. Ada memang beberapa pengarang yang... ya ampun, susahnya dihadapi. Saya pun pernah dimarahi pengarang senior akibat pekerjaan saya kurang sempurna. Tapi saya rasa sikap menghargai pengarang ini merupakan salah satu ajaran almarhum bos saya, Listiana Srisanti. Meskipun saat menghadapi pengarang yang sulit saya merasa “kenapa sih gak boleh balas marah ke pengarang ini, wong dia yang sombong kok!” tapi saya rasa dasar menghargai pengarang itu ada benarnya. Pertama, hukum emas: hargailah orang lain seperti kamu menghargai diri sendiri. Kedua, si pengarang yang punya ide dan tulisan. Ketiga, editor mungkin ensiklopedia berjalan atau menguasai empat bahasa, tapi tetap saja editor berfungsi membantu pengarang. Keempat, hubungan tanpa marah-marah pasti lebih enak, bukan? Sesungguhnya bukankah editor dan pengarang saling membutuhkan?
Kamis, 26 November 2009
Tentang Plagiarisme
Wah! Ini topik yang lumayan berat, tapi biarlah jadi sekadar curhat.
Ceritanya begini, sekitar 2 minggu yang lalu saya mendapati buku yang sebenarnya lebih tepat disebut biografi, tapi oleh penulis dan penerbitnya disebut novel. Okelah. Tokohnya sudah saya kenal dari artikel majalah Intisari tahun 1980-an (artinya saya baca waktu saya masih SD, jadi maaf-maaf kalau ternyata ingatan saya sudah banyak bolongnya). Saya masih ingat tokoh ini pasti karena waktu saya membaca soal dirinya dulu kisah hidupnya menarik sekali. Sebut inisialnya OHL. Dia putri OTH, orang terkaya di Indonesia zaman Belanda dulu. Pastinya kisah hidupnya membuat silau saya dulu, saking dia punya segala macam yang tidak dipunyai saya yang masih kecil dulu (sampai sekarang juga sih... hehehe...).
Penulisnya yang mencantumkan embel-embel penulis pilihan, blogger pilihan, dll dsb pun menarik bagi saya. Apakah tulisan orang pilihan ini benar-benar oke?
Hmm... waktu saya mulai membaca, insting editor saya mulai bekerja. Siapa sih yang milih orang ini jadi penulis pilihan? *Gosh, emosi mulai terlibat... hehehe...* Anyway, saya tidak mau membahas itu dan gaya menulisnya yang... yaaaah... Membuktikan bahwa asal punya keberanian untuk mem-publish tulisan, kamu bisa terpilih jadi yang "pilihan" itulah.
Yang ingin saya bahas adalah... saya merasa membaca ulang artikel Intisari zaman dulu itu. Entah bagaimana--mungkin sebenarnya saya punya photography memory, cuma selama ini nggak sadar--semua yang saya baca di buku itu sama persis dengan yang saya baca di artikel Intisari. Padahal saya berharap mendapat sudut pandang yang berbeda, mendapat hasil riset lebih jauh tentang hidup tokoh OHL ini. Mmm... nggak... Saya merasa sekali si penulis cuma menulis ulang, entah dari artikel Intisari itu atau dari buku yang mendasari penulisan artikel tersebut.
Ya sudahlah. Sisi baiknya adalah saya jadi bisa membaca ulang (meskipun dengan sedikit misuh-misuh dan sakit kepala) kisah hidup si tokoh OHL.
Cerita berikut tentang plagiarisme adalah novel Jody Picoult yang baru-baru ini ada film Hollywood-nya, "My Sister's Keeper". Mmm... Hollywood kalah cepat sama sinetron lokal, bo! Novel ini sudah tayang sekitar satu setengah tahun yang lalu di salah satu TV lokal Indonesia. Dan yang lucunya, setelah sinetron tersebut tayang dan jadi bahan omongan di kantor, saya mendapat tugas mengedit buku soal penulisan skenario sinetron. Dan oh la la! Skenario "My Sister's Keeper" ini jadi bahan contoh skenario di dalam buku tersebut! Sama persis per adegan... yaaa okelah... si penulis skenario sinetron mengembangkan ide cerita (hihihi...). Tapi, kok bisa ya?
Sudah beberapa kali saya tulis bahwa semua ide itu sudah basi. Di blog ini, di blog friendster saya. Ide sudah basi, karena... apa yang belum dieksplorasi di zaman ini? Yang baru cara penyampaiannya. Dan... kalau kamu mendapat ide dari sesuatu yang lama, ingin mengeksplorasinya lagi, menuliskannya lagi... please, do it your own way. It may save your face some day. Yah, paling nggak kalau kamu menuliskannya dengan cara dan pikiran kamu sendiri, nggak akan ada orang iseng menuliskan sesuatu seperti ini tentang kamu.
Ceritanya begini, sekitar 2 minggu yang lalu saya mendapati buku yang sebenarnya lebih tepat disebut biografi, tapi oleh penulis dan penerbitnya disebut novel. Okelah. Tokohnya sudah saya kenal dari artikel majalah Intisari tahun 1980-an (artinya saya baca waktu saya masih SD, jadi maaf-maaf kalau ternyata ingatan saya sudah banyak bolongnya). Saya masih ingat tokoh ini pasti karena waktu saya membaca soal dirinya dulu kisah hidupnya menarik sekali. Sebut inisialnya OHL. Dia putri OTH, orang terkaya di Indonesia zaman Belanda dulu. Pastinya kisah hidupnya membuat silau saya dulu, saking dia punya segala macam yang tidak dipunyai saya yang masih kecil dulu (sampai sekarang juga sih... hehehe...).
Penulisnya yang mencantumkan embel-embel penulis pilihan, blogger pilihan, dll dsb pun menarik bagi saya. Apakah tulisan orang pilihan ini benar-benar oke?
Hmm... waktu saya mulai membaca, insting editor saya mulai bekerja. Siapa sih yang milih orang ini jadi penulis pilihan? *Gosh, emosi mulai terlibat... hehehe...* Anyway, saya tidak mau membahas itu dan gaya menulisnya yang... yaaaah... Membuktikan bahwa asal punya keberanian untuk mem-publish tulisan, kamu bisa terpilih jadi yang "pilihan" itulah.
Yang ingin saya bahas adalah... saya merasa membaca ulang artikel Intisari zaman dulu itu. Entah bagaimana--mungkin sebenarnya saya punya photography memory, cuma selama ini nggak sadar--semua yang saya baca di buku itu sama persis dengan yang saya baca di artikel Intisari. Padahal saya berharap mendapat sudut pandang yang berbeda, mendapat hasil riset lebih jauh tentang hidup tokoh OHL ini. Mmm... nggak... Saya merasa sekali si penulis cuma menulis ulang, entah dari artikel Intisari itu atau dari buku yang mendasari penulisan artikel tersebut.
Ya sudahlah. Sisi baiknya adalah saya jadi bisa membaca ulang (meskipun dengan sedikit misuh-misuh dan sakit kepala) kisah hidup si tokoh OHL.
Cerita berikut tentang plagiarisme adalah novel Jody Picoult yang baru-baru ini ada film Hollywood-nya, "My Sister's Keeper". Mmm... Hollywood kalah cepat sama sinetron lokal, bo! Novel ini sudah tayang sekitar satu setengah tahun yang lalu di salah satu TV lokal Indonesia. Dan yang lucunya, setelah sinetron tersebut tayang dan jadi bahan omongan di kantor, saya mendapat tugas mengedit buku soal penulisan skenario sinetron. Dan oh la la! Skenario "My Sister's Keeper" ini jadi bahan contoh skenario di dalam buku tersebut! Sama persis per adegan... yaaa okelah... si penulis skenario sinetron mengembangkan ide cerita (hihihi...). Tapi, kok bisa ya?
Sudah beberapa kali saya tulis bahwa semua ide itu sudah basi. Di blog ini, di blog friendster saya. Ide sudah basi, karena... apa yang belum dieksplorasi di zaman ini? Yang baru cara penyampaiannya. Dan... kalau kamu mendapat ide dari sesuatu yang lama, ingin mengeksplorasinya lagi, menuliskannya lagi... please, do it your own way. It may save your face some day. Yah, paling nggak kalau kamu menuliskannya dengan cara dan pikiran kamu sendiri, nggak akan ada orang iseng menuliskan sesuatu seperti ini tentang kamu.
Kamis, 19 Februari 2009
Tiga Pekerjaan Besar Editor
Mulai mengasong membuat saya merenungkan lagi apa tugas-tugas editor. Ternyata (bagi saya) ada tiga tugas utama editor:
1. Membaca dan menilai naskah
Inilah tugas TERBERAT editor. Editor harus menentukan kelayak terbit suatu naskah. Apakah cerita yang terkandung dalam naskah tersebut cukup berbobot untuk dibagikan pada pembaca? Apakah gaya berceritanya cukup enak dibaca sehingga tidak membingungkan yang membacanya? Selalu timbul pertanyaan, kalau buat saya naskah ini tidak menarik, apakah buat orang lain menarik? Kalau memang naskah ini tidak layak terbit, bagaimana menyampaikannya pada si pengarang?
2. Mengedit
Inilah tugas TERBESAR editor. Tugas ini makan waktu paling lama juga. Memerhatikan detail, meluruskan alur, memperbaiki percakapan, memoles, mengubah. Dan tentu saja juga memerhatikan tata bahasa dan ejaan.
3. Membaca dan mengoreksi proof
Meskipun bisa dibilang lebih ringan daripada dua temannya di atas, membaca proof tidak boleh diremehkan. Justru di sini dibutuhkan ketelitian ganda: bagaimana caranya mencermati dan mencari kesalahan dari apa yang sudah (nyaris) sempurna?
Dari tiga tugas besar ini editor seharusnya dihargai.
1. Membaca dan menilai naskah
Inilah tugas TERBERAT editor. Editor harus menentukan kelayak terbit suatu naskah. Apakah cerita yang terkandung dalam naskah tersebut cukup berbobot untuk dibagikan pada pembaca? Apakah gaya berceritanya cukup enak dibaca sehingga tidak membingungkan yang membacanya? Selalu timbul pertanyaan, kalau buat saya naskah ini tidak menarik, apakah buat orang lain menarik? Kalau memang naskah ini tidak layak terbit, bagaimana menyampaikannya pada si pengarang?
2. Mengedit
Inilah tugas TERBESAR editor. Tugas ini makan waktu paling lama juga. Memerhatikan detail, meluruskan alur, memperbaiki percakapan, memoles, mengubah. Dan tentu saja juga memerhatikan tata bahasa dan ejaan.
3. Membaca dan mengoreksi proof
Meskipun bisa dibilang lebih ringan daripada dua temannya di atas, membaca proof tidak boleh diremehkan. Justru di sini dibutuhkan ketelitian ganda: bagaimana caranya mencermati dan mencari kesalahan dari apa yang sudah (nyaris) sempurna?
Dari tiga tugas besar ini editor seharusnya dihargai.
Sabtu, 29 November 2008
Kiriman Naskah
Salah satu pertanyaan yang paling sering saya jawab di milis maupun di e-mail kantor adalah: “Apa persyaratan mengirim naskah novel ke GPU?”
Oke, mari kita bahas persyaratan umumnya:
1.naskah novel remaja panjangnya sekitar 100-150 halaman, novel dewasa 150-200 halaman
2.ukuran kertas A4
3.ketik komputer rapi dengan spasi 1,5
4.jenis font yang mudah dibaca, misalnya Times New Roman ukuran 12
5.sertakan data diri
6.sertakan sinopsis
7.kirim ke alamat redaksi fiksi GPU yang ada di sampul belakang tiap novelnya
Tapi pukul rata setiap bulan kira-kira ada sekitar 100 naskah yang masuk ke meja sekretariat redaksi. Kalau semuanya—termasuk naskah kamu—berukuran A4, ketik 1.5 spasi, dengan jenis font tersebut di atas, bagaimana mencuri perhatian editor?
Jawabannya jadilah kreatif. Kamu bisa mengirim naskah kamu dalam amplop khusus. Atau kamu bisa menjilid naskah kamu dengan rapi, bukan sekadar dengan lakban hitam. Kamu juga bisa menyertakan desain cover yang lucu. Selain itu tidak usah terpaku pada jenis font yang dianjurkan. Sebenarnya yang dianjurkan adalah font yang enak dibaca, dan font yang enak dibaca bukan hanya Times New Roman ukuran 12 poin.
Tapi bila menjilid dengan ring besi rasanya terlalu mahal, atau mencetak cover desain pribadi terlalu rumit, apa yang bisa kamu lakukan? Sederhana saja sebetulnya. Jadilah penulis yang rapi. Kirimkan naskah yang bersih dari kesalahan ejaan. Bila saat kamu periksa ulang hasil cetakan ternyata masih ada kesalahan, jangan di-tip-ex lalu diperbaiki dengan tulisan tangan, tapi print ulang halaman tersebut. Gunakan printer dengan tinta memadai sehingga hasil cetakannya tegas dan bersih, enak dilihat. Susun semua kelengkapan dengan runut dan rapi. Misalnya, data diri, sinopsis, baru kemudian masuk ke isi novel.
Bila mendesain dan menghias memang bukan sisi kuatmu (tentu saja kalau bisa mendesain, kamu jadi desainer grafis, bukan pengarang), gunakan yang memang menjadi bakatmu untuk mencuri perhatian editor. Tulislah data diri kamu semenarik mungkin. Saya pernah membaca curriculum vitae yang dibuat seolah si penulisnya sedang menjadi terdakwa di pengadilan—kreatif dan menarik sekali, kan? Kadang data diri yang lucu dan menarik (sebutkan saja semua pengalaman kamu terutama yang mendukung novel kamu) sudah membuat “a foot in the door” bagi novel kamu.
Selanjutnya tentu saja sinopsis. Sinopsis pendek sangat penting. Panjangnya sekitar setengah halaman atau 3-5 alinea saja. Buatlah semenarik mungkin. Tokoh-tokoh dan poin-poin penting cerita harus ada. Tunjukkan di mana serunya novel kamu. Saat menulis sinopsis pendek ini, bayangkan si pembaca ada di toko buku yang hiruk-pikuk dengan pilihan beragam buku. Bagaimana cara kamu menariknya untuk membeli buku kamu?
Lalu karena kiriman naskah ini ditujukan untuk dibaca editor, ada baiknya juga kamu sertakan sinopsis panjang. Sinopsis panjang ini isinya lebih mendetail, menguraikan seluruh alur cerita, dan membeberkan rahasianya, tapi panjangnya jangan lebih dari 3 halaman. Jangan membuat si editor belum-belum sudah bosan dengan tulisan yang berpanjang-panjang.
Dan akhirnya, menginjak bagian yang paling penting: naskah. Bila kamu sudah melakukan saran saya di atas, yaitu mengirimkan naskah yang “bersih”, maka secara sekilas tampilan naskah kamu pasti sudah lumayan enak dilihat. Selanjutnya, harap kamu perhatikan bahwa novel biasa menggunakan indent paragraph, bukan hanging. Perhatikan juga kebiasaan penerbit tujuan kamu dalam hal ejaan, bahasa selingkung, gaya penulisan percakapan, dll. Bila kamu sanggup, terapkan gaya penerbit tersebut pada naskah kamu.
Editor pasti lebih senang menilai naskah yang bersih dan menarik, dan dengan begitu tentu saja kans tembusnya naskah kamu untuk diterbitkan jadi lebih besar.
Oke, mari kita bahas persyaratan umumnya:
1.naskah novel remaja panjangnya sekitar 100-150 halaman, novel dewasa 150-200 halaman
2.ukuran kertas A4
3.ketik komputer rapi dengan spasi 1,5
4.jenis font yang mudah dibaca, misalnya Times New Roman ukuran 12
5.sertakan data diri
6.sertakan sinopsis
7.kirim ke alamat redaksi fiksi GPU yang ada di sampul belakang tiap novelnya
Tapi pukul rata setiap bulan kira-kira ada sekitar 100 naskah yang masuk ke meja sekretariat redaksi. Kalau semuanya—termasuk naskah kamu—berukuran A4, ketik 1.5 spasi, dengan jenis font tersebut di atas, bagaimana mencuri perhatian editor?
Jawabannya jadilah kreatif. Kamu bisa mengirim naskah kamu dalam amplop khusus. Atau kamu bisa menjilid naskah kamu dengan rapi, bukan sekadar dengan lakban hitam. Kamu juga bisa menyertakan desain cover yang lucu. Selain itu tidak usah terpaku pada jenis font yang dianjurkan. Sebenarnya yang dianjurkan adalah font yang enak dibaca, dan font yang enak dibaca bukan hanya Times New Roman ukuran 12 poin.
Tapi bila menjilid dengan ring besi rasanya terlalu mahal, atau mencetak cover desain pribadi terlalu rumit, apa yang bisa kamu lakukan? Sederhana saja sebetulnya. Jadilah penulis yang rapi. Kirimkan naskah yang bersih dari kesalahan ejaan. Bila saat kamu periksa ulang hasil cetakan ternyata masih ada kesalahan, jangan di-tip-ex lalu diperbaiki dengan tulisan tangan, tapi print ulang halaman tersebut. Gunakan printer dengan tinta memadai sehingga hasil cetakannya tegas dan bersih, enak dilihat. Susun semua kelengkapan dengan runut dan rapi. Misalnya, data diri, sinopsis, baru kemudian masuk ke isi novel.
Bila mendesain dan menghias memang bukan sisi kuatmu (tentu saja kalau bisa mendesain, kamu jadi desainer grafis, bukan pengarang), gunakan yang memang menjadi bakatmu untuk mencuri perhatian editor. Tulislah data diri kamu semenarik mungkin. Saya pernah membaca curriculum vitae yang dibuat seolah si penulisnya sedang menjadi terdakwa di pengadilan—kreatif dan menarik sekali, kan? Kadang data diri yang lucu dan menarik (sebutkan saja semua pengalaman kamu terutama yang mendukung novel kamu) sudah membuat “a foot in the door” bagi novel kamu.
Selanjutnya tentu saja sinopsis. Sinopsis pendek sangat penting. Panjangnya sekitar setengah halaman atau 3-5 alinea saja. Buatlah semenarik mungkin. Tokoh-tokoh dan poin-poin penting cerita harus ada. Tunjukkan di mana serunya novel kamu. Saat menulis sinopsis pendek ini, bayangkan si pembaca ada di toko buku yang hiruk-pikuk dengan pilihan beragam buku. Bagaimana cara kamu menariknya untuk membeli buku kamu?
Lalu karena kiriman naskah ini ditujukan untuk dibaca editor, ada baiknya juga kamu sertakan sinopsis panjang. Sinopsis panjang ini isinya lebih mendetail, menguraikan seluruh alur cerita, dan membeberkan rahasianya, tapi panjangnya jangan lebih dari 3 halaman. Jangan membuat si editor belum-belum sudah bosan dengan tulisan yang berpanjang-panjang.
Dan akhirnya, menginjak bagian yang paling penting: naskah. Bila kamu sudah melakukan saran saya di atas, yaitu mengirimkan naskah yang “bersih”, maka secara sekilas tampilan naskah kamu pasti sudah lumayan enak dilihat. Selanjutnya, harap kamu perhatikan bahwa novel biasa menggunakan indent paragraph, bukan hanging. Perhatikan juga kebiasaan penerbit tujuan kamu dalam hal ejaan, bahasa selingkung, gaya penulisan percakapan, dll. Bila kamu sanggup, terapkan gaya penerbit tersebut pada naskah kamu.
Editor pasti lebih senang menilai naskah yang bersih dan menarik, dan dengan begitu tentu saja kans tembusnya naskah kamu untuk diterbitkan jadi lebih besar.
Jadilah Pembaca
Minggu lalu seorang sahabat saya menyatakan dia ingin menulis buku. Tentu saja saya sambut baik keinginan itu, siapa tahu cocok, saya bisa merekomendasikan buku karyanya itu ke kantor, lalu terbit, dan terjadilah yang namanya win-win situation—semua senang.
Maka kami membahas buku yang ingin dia tulis tersebut, yang adalah buku kumpulan resep. Dalam bayangannya, dia ingin membuat buku hard cover ukuran besar, dan memuat sekitar 100 resep. Tapi dia ingin menujukan buku tersebut bagi ibu-ibu muda yang baru menikah dan belajar masak.
Waduh, saya langsung menebak bahwa sahabat saya ini kurang mengenal target market-nya. Sekarang bayangkan dulu buku hard cover berukuran besar yang luks, isinya 100 resep sehingga tentu cukup tebal. Bayangkan harganya. Saya taksir harganya mungkin sekitar Rp100.000.
Setelahnya bayangkan ibu muda yang baru belajar masak. Buku macam apa yang akan dia beli? Mungkin buku tipis yang bisa dilipat dan dibawa ke dapurnya untuk disandarkan di dinding, tempat dia bisa membaca langkah demi langkah memasak yang harus dia lakukan. Mungkin buku yang spesifik membahas jenis masakan tertentu seperti masakan sayuran, masakan ayam, atau masakan sea food. Dan karena dia ibu muda yang mungkin baru menikah dan mungkin keuangan keluarganya belum stabil, maka saya rasa dia akan memilih membeli buku masak yang range harganya sekitar Rp15.000-30.000.
Sekarang apa hubungannya ilustrasi ini dengan judul posting di atas? Kembali ke pemikiran saya bahwa sahabat saya itu tidak mengenal target market-nya. Menurut saya, setiap pengarang harus mengerti target tulisannya. Pengarang novel remaja mesti mengenal dunia remaja. Pengarang novel percintaan harus kenal dunia ibu-ibu atau perempuan dewasa muda yang banyak membeli jenis novel begitu. Pengarang travel writings harus tahu kesukaan para backpacker. Dan sebagainya.
Sebelum mulai menulis, sebaiknya seorang penulis menempatkan diri atau membayangkan dirinya menjadi pembaca buku yang akan ditulisnya itu. Atau okelah, kalau terlalu lama membayang-bayangkan nanti ide tulisannya lenyap. Jadi, oke, buatlah dulu tulisan itu. Tumpahkanlah dulu semua keluar. Setelahnya, sebelum minta pendapat orang terdekat (bukankah pembaca pertama selalu orang-orang terdekat?), coba bayangkan diri kamu jadi pembacanya. Bukan sebagai diri kamu—kamu harus keluar dari diri kamu, harus jadi orang lain (karena pengarang kadang tidak bisa melihat lubang-lubang pada tulisannya sendiri). Bayangkan diri kamu ada di toko buku dan melihat buku karya kamu itu sudah terbit dan dipajang di rak. Apa yang akan kamu lakukan? Apakah kamu akan mengambilnya? Membaca sinopsisnya? Atau... melewatinya begitu saja?
Kalau kira-kira yang terjadi yang terakhir, waks! Pahitnya, lebih baik kamu simpan saja naskah itu. Tapi yang lumayan asem saja, yah, kamu jadi bisa melontarkan pertanyaan, kenapa kira-kira naskah itu jadi naskah yang dilewati? Dari situ mungkin kamu bisa memperbaikinya.
Dari sudut pandang pembaca/pembeli buku, kamu bisa mendapat poin-poin penting bagi naskah kamu. Kamu bisa menelaah ulang apakah tema yang kamu angkat dalam tulisan kamu cukup menarik? Apakah pembaca mendapat keuntungan tertentu setelah membaca karya kamu (tambahan pengetahuan atau kepuasan)? Apakah cover yang kamu bayangkan cukup eye-catching untuk bersaing dengan ribuan atau bahkan jutaan buku lain di toko buku? Apakah sinopsis yang kamu rancang bisa menarik perhatian calon pembaca sehingga mau membeli buku kamu? Bahkan sampai ke hal-hal praktis seperti apakah buku ini nanti akan terlalu tebal sehingga pembaca malas mulai membacanya (meskipun Twilight Saga sudah begitu ngetop, salah satu teman tetap malas membacanya karena melihat ketebalannya), apakah kamu bisa minta pada penerbit untuk men-setting ukuran khusus sehingga buku kamu gampang dibawa-bawa oleh pembaca? Atau apakah kamu bisa minta jenis kertas khusus sehingga buku kamu ringan bila dibawa atau harganya bisa lebih murah?
Semua ini akan lebih membantu kamu saat mencipta. Kamu jadi punya bayangan yang utuh akan karya akan akan kamu ciptakan, dalam bahasan ini adalah buku yang kamu karang. Kalau kamu punya gambaran yang utuh, kamu akan lebih semangat mengerjakan naskah kamu, dan naskah kamu juga akan lebih mudah tembus ke penerbit. Jadilah pembaca pertama naskah kamu sendiri, bayangkan kekurangan dan kelebihannya, dan selamat berkarya!
Maka kami membahas buku yang ingin dia tulis tersebut, yang adalah buku kumpulan resep. Dalam bayangannya, dia ingin membuat buku hard cover ukuran besar, dan memuat sekitar 100 resep. Tapi dia ingin menujukan buku tersebut bagi ibu-ibu muda yang baru menikah dan belajar masak.
Waduh, saya langsung menebak bahwa sahabat saya ini kurang mengenal target market-nya. Sekarang bayangkan dulu buku hard cover berukuran besar yang luks, isinya 100 resep sehingga tentu cukup tebal. Bayangkan harganya. Saya taksir harganya mungkin sekitar Rp100.000.
Setelahnya bayangkan ibu muda yang baru belajar masak. Buku macam apa yang akan dia beli? Mungkin buku tipis yang bisa dilipat dan dibawa ke dapurnya untuk disandarkan di dinding, tempat dia bisa membaca langkah demi langkah memasak yang harus dia lakukan. Mungkin buku yang spesifik membahas jenis masakan tertentu seperti masakan sayuran, masakan ayam, atau masakan sea food. Dan karena dia ibu muda yang mungkin baru menikah dan mungkin keuangan keluarganya belum stabil, maka saya rasa dia akan memilih membeli buku masak yang range harganya sekitar Rp15.000-30.000.
Sekarang apa hubungannya ilustrasi ini dengan judul posting di atas? Kembali ke pemikiran saya bahwa sahabat saya itu tidak mengenal target market-nya. Menurut saya, setiap pengarang harus mengerti target tulisannya. Pengarang novel remaja mesti mengenal dunia remaja. Pengarang novel percintaan harus kenal dunia ibu-ibu atau perempuan dewasa muda yang banyak membeli jenis novel begitu. Pengarang travel writings harus tahu kesukaan para backpacker. Dan sebagainya.
Sebelum mulai menulis, sebaiknya seorang penulis menempatkan diri atau membayangkan dirinya menjadi pembaca buku yang akan ditulisnya itu. Atau okelah, kalau terlalu lama membayang-bayangkan nanti ide tulisannya lenyap. Jadi, oke, buatlah dulu tulisan itu. Tumpahkanlah dulu semua keluar. Setelahnya, sebelum minta pendapat orang terdekat (bukankah pembaca pertama selalu orang-orang terdekat?), coba bayangkan diri kamu jadi pembacanya. Bukan sebagai diri kamu—kamu harus keluar dari diri kamu, harus jadi orang lain (karena pengarang kadang tidak bisa melihat lubang-lubang pada tulisannya sendiri). Bayangkan diri kamu ada di toko buku dan melihat buku karya kamu itu sudah terbit dan dipajang di rak. Apa yang akan kamu lakukan? Apakah kamu akan mengambilnya? Membaca sinopsisnya? Atau... melewatinya begitu saja?
Kalau kira-kira yang terjadi yang terakhir, waks! Pahitnya, lebih baik kamu simpan saja naskah itu. Tapi yang lumayan asem saja, yah, kamu jadi bisa melontarkan pertanyaan, kenapa kira-kira naskah itu jadi naskah yang dilewati? Dari situ mungkin kamu bisa memperbaikinya.
Dari sudut pandang pembaca/pembeli buku, kamu bisa mendapat poin-poin penting bagi naskah kamu. Kamu bisa menelaah ulang apakah tema yang kamu angkat dalam tulisan kamu cukup menarik? Apakah pembaca mendapat keuntungan tertentu setelah membaca karya kamu (tambahan pengetahuan atau kepuasan)? Apakah cover yang kamu bayangkan cukup eye-catching untuk bersaing dengan ribuan atau bahkan jutaan buku lain di toko buku? Apakah sinopsis yang kamu rancang bisa menarik perhatian calon pembaca sehingga mau membeli buku kamu? Bahkan sampai ke hal-hal praktis seperti apakah buku ini nanti akan terlalu tebal sehingga pembaca malas mulai membacanya (meskipun Twilight Saga sudah begitu ngetop, salah satu teman tetap malas membacanya karena melihat ketebalannya), apakah kamu bisa minta pada penerbit untuk men-setting ukuran khusus sehingga buku kamu gampang dibawa-bawa oleh pembaca? Atau apakah kamu bisa minta jenis kertas khusus sehingga buku kamu ringan bila dibawa atau harganya bisa lebih murah?
Semua ini akan lebih membantu kamu saat mencipta. Kamu jadi punya bayangan yang utuh akan karya akan akan kamu ciptakan, dalam bahasan ini adalah buku yang kamu karang. Kalau kamu punya gambaran yang utuh, kamu akan lebih semangat mengerjakan naskah kamu, dan naskah kamu juga akan lebih mudah tembus ke penerbit. Jadilah pembaca pertama naskah kamu sendiri, bayangkan kekurangan dan kelebihannya, dan selamat berkarya!
Rabu, 22 Oktober 2008
Awan Ide Melayang-Layang
“Dari mana sih idenya?” Itu pertanyaan standar yang selalu dilontarkan pada pengarang mana pun di mana pun di seluruh dunia ini. Saya bukan published novelist---yet (harapan selalu ada... hehehe), tapi mungkin saya bisa berbagi sedikit soal dari mana datangnya ide itu.
Buat saya, datangnya ide bisa dibagi dalam dua kelompok besar: yang dipaksa dan yang datang begitu saja.
Yang datang begitu saja hampir selalu datang dalam suasana santai:
· saat mandi
Jangan salah, kamar mandi bisa mendatangkan banyak ide cerita lho. Mungkin karena suasananya yang dingin, mungkin karena saat membersihkan diri kita juga membersihkan aura kita hingga ide mudah datang. Saat ngebom di wc pun jadi saat yang tepat bagi munculnya ide, mungkin karena saat ngebom kita sering melamun.
Konon kabarnya, wapres pertama kita, Bung Hatta juga penganut aliran kamar mandi ini. Di kamar mandinya sampai disediakan meja tulis, kertas, dan alat tulisnya sekalian, biar ide-ide segar yang muncul bisa cepat dituangkan di atas kertas dan tidak kabur entah ke mana.
· setengah tidur
Tidur-tidur ayam bisa membuat kita melamun ngalor-ngidul, akibatnya ide-ide cerita tiba-tiba bermunculan. Salah satu teman saya bilang dia menyimpan buku catatan dekat tempat tidurnya supaya kalau ada ide cerita, dia bisa langsung bangun dan menuliskannya. Saya pernah mencoba sih, tapiii... kemudian rasanya lebih enak bablas tidur ya... (makanya sampai sekarang belum jadi published novelist... hehehe)
· saat jalan kaki sendirian
Saat jalan kaki sendirian tanpa teman ngobrol, tanpa sadar kamu akan mengamati sekitarmu. Apakah mobil tua di sana benar-benar sudah teronggok lima tahun tanpa tersentuh? Apakah bakul jamu itu sebenarnya orang kaya di desanya? Pertanyaan-pertanyaan yang tanpa sadar muncul bisa jadi awal cerita.
· saat baca buku, nonton film, atau mendengarkan lagu
Saat menemukan tokoh yang unik di buku atau film mungkin kita jadi teringat ada tokoh yang kurang-lebih sama dalam kehidupan kita, lalu ingin menulis tentang dia. Atau mungkin ada jalan cerita buku atau film yang melenceng dari keinginan kita hingga ingin kita reka ulang sendiri. Sementara saat mendengar lagu tertentu, mungkin tanpa sengaja perasaan kita jadi mellow atau riang, yang menimbulkan ide baru untuk tulisan kita.
Yang dipaksa:
· dengan brainstorming dan mind maping
Tulis semua ide di kertas, jelek-bagus, cetek-deep, semua saja (brain storming). Atau tulis satu ide, lalu kaitannya ide itu dengan hal lain, sambungkan dengan yang lain lagi (mind maping).
· sengaja nonton film, baca buku, atau mendengarkan lagu
Punya ide tapi masih kasar banget dan bingung bagaimana mengembangkannya, atau punya perasaan tertentu dan pengin nulis tapi nggak jelas arahnya ke mana? Cari buku, film, atau lagu yang mendukung ide atau perasaan itu, nikmati dan mungkin membantu. Atau lebih blank lagi, benar-benar tidak punya ide? Cari buku, film, atau lagu yang lagi in atau dibilang orang bagus, mungkin ada satu atau dua ide yang bisa dicuri dari sana.
· mengamati lingkungan sekitar
Lingkungan kita punya banyak potensi cerita. Paling dekat saja, orangtua atau saudara di rumah, pasti ada tingkah polah atau pemikiran mereka yang bisa jadi sumber ide. Itu baru lingkungan terdekat, bagaimana lingkungan yang lebih luas? Sekolah, kampus, tempat kerja?
· membongkar peti kenangan
Ingat-ingat lagi pas pertama kali pacaran rasanya kayak apa atau bagaimana asyiknya ngegeng pas SMA. Mungkin ada satu-dua detail yang layak dikembangkan jadi cerita.
· latihan menulis
Tulislah sesuatu sedikit setiap hari. Dengan memaksa diri menulis, pelan-pelan ide akan muncul dengan lancar.
· baca koran/majalah
Setiap hari ada aja peristiwa yang menimbulkan pertanyaan-pertanyaan di kepala kita. Kenapa anak orang utan bisa lahir di kebun binatang di Austria, misalnya. Dari pertanyaan ini bisa aja muncul ide cerita tentang kisah cinta si pengasuh orang utan itu lho...
Nah, moga-moga tips ini bisa berguna buat menggali ide dari gumpalan abu-abu dalam kepala kita itu. Soal menuangkannya dengan runut, mengalir, dan menggugah rasa... hmm... itu nanti mungkin bisa dikulik di postingan yang lain. Ciao!
Buat saya, datangnya ide bisa dibagi dalam dua kelompok besar: yang dipaksa dan yang datang begitu saja.
Yang datang begitu saja hampir selalu datang dalam suasana santai:
· saat mandi
Jangan salah, kamar mandi bisa mendatangkan banyak ide cerita lho. Mungkin karena suasananya yang dingin, mungkin karena saat membersihkan diri kita juga membersihkan aura kita hingga ide mudah datang. Saat ngebom di wc pun jadi saat yang tepat bagi munculnya ide, mungkin karena saat ngebom kita sering melamun.
Konon kabarnya, wapres pertama kita, Bung Hatta juga penganut aliran kamar mandi ini. Di kamar mandinya sampai disediakan meja tulis, kertas, dan alat tulisnya sekalian, biar ide-ide segar yang muncul bisa cepat dituangkan di atas kertas dan tidak kabur entah ke mana.
· setengah tidur
Tidur-tidur ayam bisa membuat kita melamun ngalor-ngidul, akibatnya ide-ide cerita tiba-tiba bermunculan. Salah satu teman saya bilang dia menyimpan buku catatan dekat tempat tidurnya supaya kalau ada ide cerita, dia bisa langsung bangun dan menuliskannya. Saya pernah mencoba sih, tapiii... kemudian rasanya lebih enak bablas tidur ya... (makanya sampai sekarang belum jadi published novelist... hehehe)
· saat jalan kaki sendirian
Saat jalan kaki sendirian tanpa teman ngobrol, tanpa sadar kamu akan mengamati sekitarmu. Apakah mobil tua di sana benar-benar sudah teronggok lima tahun tanpa tersentuh? Apakah bakul jamu itu sebenarnya orang kaya di desanya? Pertanyaan-pertanyaan yang tanpa sadar muncul bisa jadi awal cerita.
· saat baca buku, nonton film, atau mendengarkan lagu
Saat menemukan tokoh yang unik di buku atau film mungkin kita jadi teringat ada tokoh yang kurang-lebih sama dalam kehidupan kita, lalu ingin menulis tentang dia. Atau mungkin ada jalan cerita buku atau film yang melenceng dari keinginan kita hingga ingin kita reka ulang sendiri. Sementara saat mendengar lagu tertentu, mungkin tanpa sengaja perasaan kita jadi mellow atau riang, yang menimbulkan ide baru untuk tulisan kita.
Yang dipaksa:
· dengan brainstorming dan mind maping
Tulis semua ide di kertas, jelek-bagus, cetek-deep, semua saja (brain storming). Atau tulis satu ide, lalu kaitannya ide itu dengan hal lain, sambungkan dengan yang lain lagi (mind maping).
· sengaja nonton film, baca buku, atau mendengarkan lagu
Punya ide tapi masih kasar banget dan bingung bagaimana mengembangkannya, atau punya perasaan tertentu dan pengin nulis tapi nggak jelas arahnya ke mana? Cari buku, film, atau lagu yang mendukung ide atau perasaan itu, nikmati dan mungkin membantu. Atau lebih blank lagi, benar-benar tidak punya ide? Cari buku, film, atau lagu yang lagi in atau dibilang orang bagus, mungkin ada satu atau dua ide yang bisa dicuri dari sana.
· mengamati lingkungan sekitar
Lingkungan kita punya banyak potensi cerita. Paling dekat saja, orangtua atau saudara di rumah, pasti ada tingkah polah atau pemikiran mereka yang bisa jadi sumber ide. Itu baru lingkungan terdekat, bagaimana lingkungan yang lebih luas? Sekolah, kampus, tempat kerja?
· membongkar peti kenangan
Ingat-ingat lagi pas pertama kali pacaran rasanya kayak apa atau bagaimana asyiknya ngegeng pas SMA. Mungkin ada satu-dua detail yang layak dikembangkan jadi cerita.
· latihan menulis
Tulislah sesuatu sedikit setiap hari. Dengan memaksa diri menulis, pelan-pelan ide akan muncul dengan lancar.
· baca koran/majalah
Setiap hari ada aja peristiwa yang menimbulkan pertanyaan-pertanyaan di kepala kita. Kenapa anak orang utan bisa lahir di kebun binatang di Austria, misalnya. Dari pertanyaan ini bisa aja muncul ide cerita tentang kisah cinta si pengasuh orang utan itu lho...
Nah, moga-moga tips ini bisa berguna buat menggali ide dari gumpalan abu-abu dalam kepala kita itu. Soal menuangkannya dengan runut, mengalir, dan menggugah rasa... hmm... itu nanti mungkin bisa dikulik di postingan yang lain. Ciao!
Minggu, 19 Oktober 2008
Kisah Cinta Editor dan Pengarang
Kisah ini tidak selalu manis. Kadang hubungan editor dan pengarang bisa juga diwarnai adegan piring terbang dan gelas pecah.
Tapi apakah benar sehari-harinya pekerjaan saya lempar-lemparan piring bersama pengarang? Sebetulnya tidak. Sebetulnya hubungan saya dan pengarang-pengarang saya (kecuali beberapa) lumayan harmonis. Saya sempat jalan-jalan bersama beberapa pengarang saya. Beberapa dari mereka juga main ke rumah saat saya melahirkan.
Jadi bagaimana supaya kisah cinta editor dan pengarang berakhir bahagia? Saya akan menceritakannya dari sisi editor dan tugas-tugasnya.
Pertama-tama, tentu saja datanglah sebundel naskah di meja editor (saya). Saya membacanya dan menilainya layak terbit. Lalu saya mengontak si pengarang (karena itu jangan lupa cantumkan nomor telepon yang mudah dihubungi--ehm, HP maksudnya, jangan kasih nomor telepon tetangga lagi--dan alamat e-mail). Hubungan pun dimulai dengan perkenalan. Ada editor yang supel dan bisa langsung ketawa-ketiwi bersama pengarangnya seperti teman saya si Vera. Saya sendiri tidak terlalu pandai bicara, jadi biasa setelah memperkenalkan diri saya langsung menyatakan maksud, dan dengan demikian kita menginjak poin kedua.
Kedua, saya akan memberitahu kekurangan dan kelemahan naskah yang saya baca itu. Di mana “bolongnya” alur, di mana kakunya bahasa (biasa pada percakapan). Atau kalau perubahan terlalu banyak, bisa juga saya hanya menceritakan garis besar lalu mengirim balik naskah yang sudah diberi catatan. Mendapat masukan begini, pengarang punya banyak reaksi. Ada yang ngambek, ada yang nggak ngambek tapi ogah mengubah apa pun (ya, ya, setiap titik-koma dalam naskah sudah dipikirkan matang-matang sebelum dibubuhkan di sana), tapi ada yang menerima dengan sukacita dan riang gembira.
Maka masuk ke tahap ketiga, pengarang merevisi naskah dan mengirim balik kepada saya. Ada pengarang yang begitu diintip naskah revisinya sudah oke banget, semua masukan dijalankan dan naskah jadi makin oke, bahkan bisa nyaris tak perlu editing lagi. Tapi, ada juga pengarang yang malah ngelantur, yang diminta apaaaa yang direvisi apaaaa. Ada juga yang ogah melakukan revisi.
Apa pun hasil revisinya, pada tahap keempat, naskah akan diedit. Kalau naskah sudah oke, editing hanya mencakup tata bahasa dan ejaan. Tapi kalau naskah masih berantakan, catatan di sana-sini atau bahkan pemotongan besar-besaran tentu masih harus dilakukan.
Kelima, saya biasa mengirim naskah hasil editing saya kembali ke si pengarang. Pengarang saya minta memeriksa ulang dan menanyakan ini-itu yang dirasanya kurang memuaskan.
Setelah pengarang puas, masuk ke langkah keenam, naskah akan di-setting, lalu setelahnya dibaca proof-nya. Dalam proses pembacaan proof, masih mungkin ada masukan lagi dari editor yang membacanya. Pernah saya sebagai pembaca proof menyatakan satu bab (SATU BAB) itu tidak nyambung dengan cerita keseluruhan dan bisa dibuang daripada membuat naskah terlalu panjang. Pernah juga editor lain yang membaca naskah yang saya edit menyatakan naskah tersebut kacau-balau yang berbuntut satu naskah (SATU NASKAH) ditulis ulang oleh pengarangnya. Jadi jangan sepelekan langkah keenam ini.
Tujuh, kalau semua langkah itu terlewati mulus, naskah akan dicetak, terbit, dan terpajang di toko buku. Tapi apakah hubungan editor dan pengarang sudah berakhir? Tentu tidak, saat buku sudah ada di pasar, mulailah proses memasarkan buku. Caranya? Temu pengarang, book launching, talkshow radio, dll. Saya pernah menemani pengarang saya jadi pembicara di suatu seminar membaca, tapi biasanya sih saya cuma menemani di belakang panggung saja.
Di luar masalah promosi ini bagaimana hubungan editor dan pengarang? Bisa manis seperti yang sudah saya kisahkan pada alinea kedua di atas. Utamanya, hubungan yang dijalin dengan sopan dan hangat tentu bisa terus mengikat tali silaturahmi, bahkan meningkatkan hubungan kerja jadi hubungan pertemanan yang erat dan akrab.
Tapi apakah benar sehari-harinya pekerjaan saya lempar-lemparan piring bersama pengarang? Sebetulnya tidak. Sebetulnya hubungan saya dan pengarang-pengarang saya (kecuali beberapa) lumayan harmonis. Saya sempat jalan-jalan bersama beberapa pengarang saya. Beberapa dari mereka juga main ke rumah saat saya melahirkan.
Jadi bagaimana supaya kisah cinta editor dan pengarang berakhir bahagia? Saya akan menceritakannya dari sisi editor dan tugas-tugasnya.
Pertama-tama, tentu saja datanglah sebundel naskah di meja editor (saya). Saya membacanya dan menilainya layak terbit. Lalu saya mengontak si pengarang (karena itu jangan lupa cantumkan nomor telepon yang mudah dihubungi--ehm, HP maksudnya, jangan kasih nomor telepon tetangga lagi--dan alamat e-mail). Hubungan pun dimulai dengan perkenalan. Ada editor yang supel dan bisa langsung ketawa-ketiwi bersama pengarangnya seperti teman saya si Vera. Saya sendiri tidak terlalu pandai bicara, jadi biasa setelah memperkenalkan diri saya langsung menyatakan maksud, dan dengan demikian kita menginjak poin kedua.
Kedua, saya akan memberitahu kekurangan dan kelemahan naskah yang saya baca itu. Di mana “bolongnya” alur, di mana kakunya bahasa (biasa pada percakapan). Atau kalau perubahan terlalu banyak, bisa juga saya hanya menceritakan garis besar lalu mengirim balik naskah yang sudah diberi catatan. Mendapat masukan begini, pengarang punya banyak reaksi. Ada yang ngambek, ada yang nggak ngambek tapi ogah mengubah apa pun (ya, ya, setiap titik-koma dalam naskah sudah dipikirkan matang-matang sebelum dibubuhkan di sana), tapi ada yang menerima dengan sukacita dan riang gembira.
Maka masuk ke tahap ketiga, pengarang merevisi naskah dan mengirim balik kepada saya. Ada pengarang yang begitu diintip naskah revisinya sudah oke banget, semua masukan dijalankan dan naskah jadi makin oke, bahkan bisa nyaris tak perlu editing lagi. Tapi, ada juga pengarang yang malah ngelantur, yang diminta apaaaa yang direvisi apaaaa. Ada juga yang ogah melakukan revisi.
Apa pun hasil revisinya, pada tahap keempat, naskah akan diedit. Kalau naskah sudah oke, editing hanya mencakup tata bahasa dan ejaan. Tapi kalau naskah masih berantakan, catatan di sana-sini atau bahkan pemotongan besar-besaran tentu masih harus dilakukan.
Kelima, saya biasa mengirim naskah hasil editing saya kembali ke si pengarang. Pengarang saya minta memeriksa ulang dan menanyakan ini-itu yang dirasanya kurang memuaskan.
Setelah pengarang puas, masuk ke langkah keenam, naskah akan di-setting, lalu setelahnya dibaca proof-nya. Dalam proses pembacaan proof, masih mungkin ada masukan lagi dari editor yang membacanya. Pernah saya sebagai pembaca proof menyatakan satu bab (SATU BAB) itu tidak nyambung dengan cerita keseluruhan dan bisa dibuang daripada membuat naskah terlalu panjang. Pernah juga editor lain yang membaca naskah yang saya edit menyatakan naskah tersebut kacau-balau yang berbuntut satu naskah (SATU NASKAH) ditulis ulang oleh pengarangnya. Jadi jangan sepelekan langkah keenam ini.
Tujuh, kalau semua langkah itu terlewati mulus, naskah akan dicetak, terbit, dan terpajang di toko buku. Tapi apakah hubungan editor dan pengarang sudah berakhir? Tentu tidak, saat buku sudah ada di pasar, mulailah proses memasarkan buku. Caranya? Temu pengarang, book launching, talkshow radio, dll. Saya pernah menemani pengarang saya jadi pembicara di suatu seminar membaca, tapi biasanya sih saya cuma menemani di belakang panggung saja.
Di luar masalah promosi ini bagaimana hubungan editor dan pengarang? Bisa manis seperti yang sudah saya kisahkan pada alinea kedua di atas. Utamanya, hubungan yang dijalin dengan sopan dan hangat tentu bisa terus mengikat tali silaturahmi, bahkan meningkatkan hubungan kerja jadi hubungan pertemanan yang erat dan akrab.
Rabu, 08 Oktober 2008
Tips Menerbitkan Naskah
Kesan pertama yang tak terulang lagi
Kesan pertama yang ditampilkan oleh naskah kamu tidak bisa diulang lagi, karena itu naskah yang dikirim ke penerbit haruslah tampak bersih, rapi, enak dilihat. Cari tahu apakah penerbit sasaran kamu punya ketentuan tertentu misalnya jumlah halaman (jangan lupa beri nomor halaman pada naskah kamu) atau besar font dan spasi.
Jangan lupa sinopsis dan biodata
Sinopsis dan biodata adalah dua hal pertama yang dibaca oleh penilai naskah. Buat sinopsis yang menarik dan mencakup seluruh isi naskah kamu. Biodata juga dibuat semenarik mungkin dan masukkan pengalaman-pengalaman kamu yang paling oke.
Curilah sepuluh halaman pertama
Sepuluh halaman pertama adalah penentu diterima atau ditolaknya naskah kamu. Kalau dalam sepuluh halaman ini kamu berhasil memaparkan konflik yang menarik dengan gaya bercerita yang oke, pasti penilai ingin terus membaca seluruh naskah kamu sehingga bisa memberi penilaian yang utuh atas naskah kamu. Sebaliknya bila sepuluh halaman pertama saja sudah membosankan, pasti naskah kamu langsung ditaruh dalam tumpukan “ditolak”.
Cari tema yang unik
Tema cewek kutubuku yang jatuh cinta sama cowok basket sudah basi-si-si. Coba cari tema lain yang menarik. Sumbernya banyak, coba kulik lagi kehidupan kamu sehari-hari, kamu bisa terkaget-kaget mendapati detail-detail unik yang bisa diangkat dan dikembangan jadi cerita yang seru.
Buat plot dan konflik yang menarik
Tentu saja ini syarat utama naskah yang baik. Kalau plot dan konflik yang kamu susun tidak oke, pembaca bisa merasa tertipu, kesal, dan tidak mendapat apa-apa selesai membaca naskah kamu. Itu pun kalau naskahmu belum diletakkan lepas beberapa halaman dibaca.
Bersabar dan bersikap sopan
Penerbit biasa butuh waktu cukup panjang untuk menilai naskah kamu. Jadi sabarlah, dan tiap kali menelepon untuk menanyakan perkembangan naskah kamu, bersikaplah yang sopan.
Kesan pertama yang ditampilkan oleh naskah kamu tidak bisa diulang lagi, karena itu naskah yang dikirim ke penerbit haruslah tampak bersih, rapi, enak dilihat. Cari tahu apakah penerbit sasaran kamu punya ketentuan tertentu misalnya jumlah halaman (jangan lupa beri nomor halaman pada naskah kamu) atau besar font dan spasi.
Jangan lupa sinopsis dan biodata
Sinopsis dan biodata adalah dua hal pertama yang dibaca oleh penilai naskah. Buat sinopsis yang menarik dan mencakup seluruh isi naskah kamu. Biodata juga dibuat semenarik mungkin dan masukkan pengalaman-pengalaman kamu yang paling oke.
Curilah sepuluh halaman pertama
Sepuluh halaman pertama adalah penentu diterima atau ditolaknya naskah kamu. Kalau dalam sepuluh halaman ini kamu berhasil memaparkan konflik yang menarik dengan gaya bercerita yang oke, pasti penilai ingin terus membaca seluruh naskah kamu sehingga bisa memberi penilaian yang utuh atas naskah kamu. Sebaliknya bila sepuluh halaman pertama saja sudah membosankan, pasti naskah kamu langsung ditaruh dalam tumpukan “ditolak”.
Cari tema yang unik
Tema cewek kutubuku yang jatuh cinta sama cowok basket sudah basi-si-si. Coba cari tema lain yang menarik. Sumbernya banyak, coba kulik lagi kehidupan kamu sehari-hari, kamu bisa terkaget-kaget mendapati detail-detail unik yang bisa diangkat dan dikembangan jadi cerita yang seru.
Buat plot dan konflik yang menarik
Tentu saja ini syarat utama naskah yang baik. Kalau plot dan konflik yang kamu susun tidak oke, pembaca bisa merasa tertipu, kesal, dan tidak mendapat apa-apa selesai membaca naskah kamu. Itu pun kalau naskahmu belum diletakkan lepas beberapa halaman dibaca.
Bersabar dan bersikap sopan
Penerbit biasa butuh waktu cukup panjang untuk menilai naskah kamu. Jadi sabarlah, dan tiap kali menelepon untuk menanyakan perkembangan naskah kamu, bersikaplah yang sopan.
Langganan:
Postingan (Atom)
