Salah satu penghambat utama saat mengajak anak balita jalan-jalan adalah makanan. Tidak semua lokasi wisata menyediakan makanan yang cocok bagi perut dan selera balita. Lebih repot lagi, tidak semua balita---kalaupun ada makanan yang cocok---mau makan! Bukan hanya si picky eater, tapi balita yang biasanya pemakan segala pun bisa saja mogok makan karena terlalu excited melihat tempat baru atau karena perjalanan yang lama dan jauh demi mencapai tempat wisata.
Anak saya lebih sering sulit makan karena terlalu excited itu tadi. Saat bepergian, saya mengusahakan membawa beberapa macam roti dan biskuit, alias kering-keringan yang bisa dipegang tangan kecilnya. Jadi sambil melihat-lihat ini-itu, tangannya terus bergerak ke mulut dan mulutnya terus mengunyah. Pemberian snack begini memberi dilema, karena saat jam makan besar, si anak jadi ogah makan karena perutnya penuh snack. Tapi... kita lagi liburan, kan? Yang penting perutnya ada isinya... hehehe...
Membawa perbekalan snack komplet pernah menyelamatkan liburan saya saat ternyata makanan yang tersedia di lokasi sama sekali tidak cocok buat anak kecil. Puji Tuhan, saya membawa sereal favorit si kecil, plus susunya sekalian. Jadilah acara makan anak di kamar hotel, bukan di ruang makan. Justru kebetulan yang pas, karena si kecil jadi bisa duduk diam makan sambil menonton acara TV kabel anak-anak, yang tidak ada di rumah.
Perbekalan ini juga jadi resep beberapa bunda yang saya wawancarai untuk buku-buku saya, Traveling with Tots (panduan untuk jalan-jalan bersama balita) dan Traveling with Kids (panduan untuk jalan-jalan bersama anak SD). Bunda yang “nekat” masih mau membawa kompor dan panci untuk memasak sendiri bagi anaknya. Tapi bunda yang lebih praktis juga membawa segala macam minuman sehat dalam kemasan, serta snack kecil dan berat. Utamanya agar perut si kecil tidak kosong. Dan kembali lagi, jangan terlalu keukeuh bahwa si kecil harus makan pada jam-jam tertentu. Longgarkan sedikit aturan di rumah, yang penting perut si kecil ada isinya! (Penting banget nih, sudah diulang sampai tiga kali... hehehe...)
Berikutnya, soal makanan sehat. Kalau di rumah mungkin kita punya aturan harus makan buah, harus ada sayur, dll dsb. Kembali ke “yang penting perut ada isinya”, sekali-sekali saat liburan izinkan anak menikmati junk food. Biar bagaimanapun itu jenis makanan yang paling mudah ditemukan di tempat wisata. Bila meragukan junk food sembarangan, ya kembalilah ke gerai junk food yang sudah tepercaya seperti burger A atau piza B. Salah satu bunda yang saya wawancarai pasrah memberi makan anak-anaknya piza saat liburan. Sebetulnya si bunda sedih juga tidak bisa wisata kuliner dan mencoba menu-menu unik daerah yang dia sambangi, tapi mau apa lagi... mau membiarkan anak kelaparan?
Bila ternyata tidak ada gerai junk food, justru pilihlah restoran rumahan. Atau pokoknya restoran yang kelihatan memasak makanannya langsung begitu dipesan. (Ada kan restoran prasmanan yang menyajikan makanan siap santan tinggal sendok.) Ada dua keuntungan restoran jenis ini: 1. Makanan disajikan fresh dari atas kompor, bukan entah dimasak kapan, 2. Kita bisa minta tolong dibuatkan menu sederhana khusus untuk anak. Menu sederhana ini bisa berupa sekadar telur dadar, pasta rebus, atau kentang goreng. Pengalaman saya paling keren saat makan di kawasan St. Germain di Paris. Waiter yang guaaaanteeeng dengan dagu biru itu mengangguk antusias, “It can be done!” (coba bahasa Inggris dengan aksen Parisian... aaaah), saat saya bertanya bisa nggak mereka membuatkan pasta rebus plus keju saja untuk anak saya. Sepiring (besar) pasta kerang muncul, ditambah saus tomat buatan sendiri, lagi! Membuat saya jadi merasa agak bersalah saat ternyata pasta itu nggak habis. (Iyalah... piring ukuran besaaaaar... sementara anak saya paling cuma makan tiga sendok!)
Terakhir, jangan lupa soal kebersihan! Bawa selalu hand sanitizer dan biasakan si kecil memakainya sebelum makan. Ingat, tempat wisata belum tentu menyediakan lokasi untuk bersih-bersih yang memadai (sering kali lokasi bersih-bersihnya justru kotor), belum tentu juga tersedia air bersih yang mengalir. Kalau hand sanitizer tidak ada, bisa juga gunakan tisu basah.
Oya, selain snack, jangan lupa juga selalu sediakan air putih, entah dalam botol yang dibawa sendiri (lebih ramah lingkungan) atau air mineral kemasan. Selain untuk diminum, air putih ini juga bisa untuk cuci tangan, sekiranya tidak tersedia air di lokasi wisata.
So, all in all tip-tip untuk memberi makan anak saat jalan-jalan:
* jangan maksa, tema utamanya adalah... Yang Penting Perut Ada Isinya
* bawa snack kecil dan besar
* bawa air minum
* jangan anti junk food
* minta tolong restoran untuk membuatkan menu sederhana
* jangan lupakan kebersihan
Happy traveling and eating with your kids!
Sabtu, 15 Oktober 2011
Kamis, 06 Oktober 2011
Referensi Liburan
Buku-buku yang baik bisa jadi teman yang paling oke untuk mencari ilmu tentang liburan, tentu selain ranah maya yang sekarang ini telah menyediakan segalanya. Belakangan saya sempat membaca tiga buku tentang jalan-jalan yang meskipun gaya jalan-jalannya agak tidak mungkin untuk diterapkan dengan membawa anak-anak, tapi bisa juga memberi inspirasi.
Flashpacking Keliling Indonesia
Deedee Caniago
Gramedia Pustaka Utama
Berisi cerita sang penulis keliling Indonesia, gaya buku ini hip, gaul, dan modern banget. Deedee banyak menghadapi kesulitan saat bepergian, tapi rupanya bukan Deedee kalau lalu menyerah dan tidak bisa melihat sisi menyenangkan dari petualangannya. Sayangnya, pantai-pantai cantik yang diuraikan dalam buku ini agaknya memiliki jalan yang terlalu menantang bagi ibu beranak balita seperti saya. Pantai-pantai itu rata-rata dicapai dengan perjalanan berjam-jam dengan kondisi jalan yang ajaib, dan dengan fasilitas yang minim. Meskipun saya penganut “jalan-jalan minim”, tapi tingkat keminiman pun ada batasannya bila membawa anak. Tapi buku ini tetap sangat berguna bagi saya dari segi: 1) cerita yang seru dan lucu, membuat ngiler pengin pergi ke tempat-tempat yang dikisahkan Deedee, 2) ada bagian referensi penyedia tur yang cukup lengkap di bagian belakang buku yang bisa saya hubungi untuk menanyakan customized tour bagi keluarga dengan anak kecil 3) bagi destinasi yang terlalu ekstrem tingkat kesulitannya, saya jadi tetap mempunyai impian dan harapan suatu hari nanti saat anak saya sudah lebih besar, lebih dewasa dalam cara pikir, dan lebih kuat secara fisik, dia mau diajak ke sana.
Meraba Indonesia
Ahmad Yunus
Serambi
Ada unsur mau meniru Che Guevara keliling Amerika Selatan dengan sepeda motornya (The Motorcycle Diaries, sudah difilmkan juga dengan bintang *oh* Gael Garcia Bernal *keterangan ini penting gak seh?*) dua wartawan, satu senior---Farid Gaban, dan satu setengah senior---Ahmad Yunus, berangkat keliling Indonesia naik dua sepeda motor tua. Diawali dari Jakarta ke arah barat ke Sumatera lalu melingkar ke Kalimantan, Sulawesi, Ambon, Papua, lalu berakhir di Nusa Tenggara, mereka berdua berusaha mencari titik-titik paling terpencil dan paling sulit dicapai di negara ini. Perjalanan kurang-lebih setahun ini (diselingi beberapa kali kembali ke Jakarta untuk mencari tambahan biaya), mereka menyisiri pelosok paling jauh di negeri ini, bertemu orang-orang yang paling kesulitan, menggunakan alat-alat transportasi yang paling merakyat (selain sepeda motor), menjumpai pemandangan yang paling indah dan pengalaman yang paling murni. The grand scheme-nya luar biasa. Siapa pun harus cukup gila untuk menjalani petualangan ini. Sayang sekali Ahmad kurang detail bercerita. Sering kali Ahmad hanya menyebutkan “kami menginap di rumah tetua kampung A, mengobrol, lalu tidur.” Saya sebagai pembaca merasa, “What? What's the fun of that? Di mana asyiknya? Di mana serunya? Ngobrol terus tidur mah di rumah juga bisa.” Ahmad kurang mengeksplorasi kekayaan pengalamannya. Demikian pula saat bercerita tentang pemandangan tertentu di pulau terpencil mana, Ahmad kurang mengeksplorasi tulisannya. Padahal bila digambarkan dengan lebih detail mungkin bisa membuat orang lebih terpacu untuk mengunjungi pulau itu, dus lebih mengenal Indonesia. Dan terakhir, maafkan saya bila naluri editor muncul, tapi ya ampun... buku ini banyak sekali miss-nya! Mulai dari tipo sampai ke kalimat yang nggak nyambung. Jadi ya sudah, mari kita berfokus pada the grand scheme-nya saja...
Wonderful Europe
Aloys Budi Nugroho
Gramedia Pustaka Utama
Setelah bersusah-susah keliling Indonesia, meskipun yang pertama sambil hura-hura dan bersenang-senang tiada tara, sementara yang kedua susah beneran dengan idealisme tinggi, mari kita melongok ke negeri seberaaaaaaaaaaaang sono. Saya tertarik dengan buku ini karena tempat-tempat yang didatangi si romo (penulis buku ini adalah seorang pastor Katolik) nyaris tepat sama dengan tempat-tempat yang saya datangi dalam perjalanan Eropa saya tahun lalu, yaitu Paris, Lourdes, Roma. Tentu dengan variasinya. Buku ini mengulas tentang perjalanan si romo menjadi pembimbing rohani sebuah tur. Senangnya membaca perjalanan dengan menggunakan jasa tur, saya makin yakin memang gaya perjalanan yang paling pas bagi saya adalah mengatur sendiri. Dengan demikian saya bisa puas menikmati apa pun yang ingin saya nikmati saat jalan-jalan itu. Sedihnya, tentu saja saya jadi tahu ada lumayan banyak juga yang miss dengan gaya jalan saya yang independen itu. Misalnya di Roma saja saya tidak sempat ke tiga basilika besar selain Basilika St. Petrus. Saya juga tidak sempat berputar mengunjungi biara St. Bernadet di Nevers. Meskipun demikian saya lumayan bangga bisa sampai ke Kapel Medali Wasiat di Paris, meski sambil menggendong anak dan pakai jalan 1,5 km, hohoho... Pelajaran dari buku ini bagi saya: sebelum berangkat ke satu tempat, riset riset riset riset lagi. Pastikan tempat-tempat menarik mana yang mau didatangi biar nanti pas pulang tidak menyesal!
Flashpacking Keliling Indonesia
Deedee Caniago
Gramedia Pustaka Utama
Berisi cerita sang penulis keliling Indonesia, gaya buku ini hip, gaul, dan modern banget. Deedee banyak menghadapi kesulitan saat bepergian, tapi rupanya bukan Deedee kalau lalu menyerah dan tidak bisa melihat sisi menyenangkan dari petualangannya. Sayangnya, pantai-pantai cantik yang diuraikan dalam buku ini agaknya memiliki jalan yang terlalu menantang bagi ibu beranak balita seperti saya. Pantai-pantai itu rata-rata dicapai dengan perjalanan berjam-jam dengan kondisi jalan yang ajaib, dan dengan fasilitas yang minim. Meskipun saya penganut “jalan-jalan minim”, tapi tingkat keminiman pun ada batasannya bila membawa anak. Tapi buku ini tetap sangat berguna bagi saya dari segi: 1) cerita yang seru dan lucu, membuat ngiler pengin pergi ke tempat-tempat yang dikisahkan Deedee, 2) ada bagian referensi penyedia tur yang cukup lengkap di bagian belakang buku yang bisa saya hubungi untuk menanyakan customized tour bagi keluarga dengan anak kecil 3) bagi destinasi yang terlalu ekstrem tingkat kesulitannya, saya jadi tetap mempunyai impian dan harapan suatu hari nanti saat anak saya sudah lebih besar, lebih dewasa dalam cara pikir, dan lebih kuat secara fisik, dia mau diajak ke sana.
Meraba Indonesia
Ahmad Yunus
Serambi
Ada unsur mau meniru Che Guevara keliling Amerika Selatan dengan sepeda motornya (The Motorcycle Diaries, sudah difilmkan juga dengan bintang *oh* Gael Garcia Bernal *keterangan ini penting gak seh?*) dua wartawan, satu senior---Farid Gaban, dan satu setengah senior---Ahmad Yunus, berangkat keliling Indonesia naik dua sepeda motor tua. Diawali dari Jakarta ke arah barat ke Sumatera lalu melingkar ke Kalimantan, Sulawesi, Ambon, Papua, lalu berakhir di Nusa Tenggara, mereka berdua berusaha mencari titik-titik paling terpencil dan paling sulit dicapai di negara ini. Perjalanan kurang-lebih setahun ini (diselingi beberapa kali kembali ke Jakarta untuk mencari tambahan biaya), mereka menyisiri pelosok paling jauh di negeri ini, bertemu orang-orang yang paling kesulitan, menggunakan alat-alat transportasi yang paling merakyat (selain sepeda motor), menjumpai pemandangan yang paling indah dan pengalaman yang paling murni. The grand scheme-nya luar biasa. Siapa pun harus cukup gila untuk menjalani petualangan ini. Sayang sekali Ahmad kurang detail bercerita. Sering kali Ahmad hanya menyebutkan “kami menginap di rumah tetua kampung A, mengobrol, lalu tidur.” Saya sebagai pembaca merasa, “What? What's the fun of that? Di mana asyiknya? Di mana serunya? Ngobrol terus tidur mah di rumah juga bisa.” Ahmad kurang mengeksplorasi kekayaan pengalamannya. Demikian pula saat bercerita tentang pemandangan tertentu di pulau terpencil mana, Ahmad kurang mengeksplorasi tulisannya. Padahal bila digambarkan dengan lebih detail mungkin bisa membuat orang lebih terpacu untuk mengunjungi pulau itu, dus lebih mengenal Indonesia. Dan terakhir, maafkan saya bila naluri editor muncul, tapi ya ampun... buku ini banyak sekali miss-nya! Mulai dari tipo sampai ke kalimat yang nggak nyambung. Jadi ya sudah, mari kita berfokus pada the grand scheme-nya saja...
Wonderful Europe
Aloys Budi Nugroho
Gramedia Pustaka Utama
Setelah bersusah-susah keliling Indonesia, meskipun yang pertama sambil hura-hura dan bersenang-senang tiada tara, sementara yang kedua susah beneran dengan idealisme tinggi, mari kita melongok ke negeri seberaaaaaaaaaaaang sono. Saya tertarik dengan buku ini karena tempat-tempat yang didatangi si romo (penulis buku ini adalah seorang pastor Katolik) nyaris tepat sama dengan tempat-tempat yang saya datangi dalam perjalanan Eropa saya tahun lalu, yaitu Paris, Lourdes, Roma. Tentu dengan variasinya. Buku ini mengulas tentang perjalanan si romo menjadi pembimbing rohani sebuah tur. Senangnya membaca perjalanan dengan menggunakan jasa tur, saya makin yakin memang gaya perjalanan yang paling pas bagi saya adalah mengatur sendiri. Dengan demikian saya bisa puas menikmati apa pun yang ingin saya nikmati saat jalan-jalan itu. Sedihnya, tentu saja saya jadi tahu ada lumayan banyak juga yang miss dengan gaya jalan saya yang independen itu. Misalnya di Roma saja saya tidak sempat ke tiga basilika besar selain Basilika St. Petrus. Saya juga tidak sempat berputar mengunjungi biara St. Bernadet di Nevers. Meskipun demikian saya lumayan bangga bisa sampai ke Kapel Medali Wasiat di Paris, meski sambil menggendong anak dan pakai jalan 1,5 km, hohoho... Pelajaran dari buku ini bagi saya: sebelum berangkat ke satu tempat, riset riset riset riset lagi. Pastikan tempat-tempat menarik mana yang mau didatangi biar nanti pas pulang tidak menyesal!
Kamis, 08 September 2011
Ciater
Ini cerita perjalanan bulan Oktober 2010 lalu...
Ceritanya suami saya akhirnya memutuskan untuk cuti sejenak dari kantornya. Pilihannya, menginap dua malam di Ciater Resort & Spa. Pikirannya, enak toh semua sudah ada, baik taman rekreasi sampai ke kolam air panas.
Kami mulai perjalanan bermobil dari Jakarta sudah cukup siang, sekitar pukul 08.00. Si kecil duduk aman dalam carseat-nya, dan lumayan menikmati pemandangan. Sekitar pukul 11.00, kami berhenti di rest area dan brunch di salah satu restoran Padang di sana. Enak juga, meskipun mahal. Si kecil makan cukup banyak. Setelahnya si kecil tidur di carseat-nya, jadi perjalanan berlangsung aman terkendali. Masuk Bandung, kami mulai bingung mencari jalan. Suami selalu mengandalkan saya untuk jadi navigator di Bandung, dengan tuduhan saya kan sejak kecil bolak-balik ke sana. Penjelasan bahwa saya tinggal duduk enak dalam mobil tante/sepupu/adik, tidak pernah diterima suami * sigh *. Untung papan penunjuk jalan berwarna hijau itu masih bisa cukup diandalkan untuk memberi arah ke Lembang, lalu Ciater. Meskipun lebih banyak menunjukkan arah ke FO ini atau tempat outbound itu.
Alhasil, kami berhasil mencapai hotel sekitar pukul 14.30. Setelah meletakkan bawaan dalam kamar (kamar suite dengan tempat tidur queen, TV kabel, dan kamar mandi dalam---bersih meskipun agak basah), kami mengeksplorasi tempat. Tujuan utama ke Ciater adalah berendam air panas, jadi yang utama kami cari adalah lokasi kolam-kolamnya. Salah satu kolam (Cinangka) berhubungan dengan restoran tempat kami mendapat welcome drink. Jadi sembari menikmati welcome drink itu, kami menyusun rencana. Sempat juga si kecil (dan emaknya) naik kuda dulu keliling sampai ke resort sebelah. Sayangnya, rupanya si kecil (emaknya juga) agak takut juga naik kuda yang tinggi di jalanan yang kurang rata, jadi dia ribut minta kembali “ke papa”.
Usai naik kuda dan istirahat, kami langsung nyebur ke kolam Cinangka tersebut. Bwah, enaknya mencelupkan diri ke kolam berair panas alami itu! Otot dan tulang langsung lemas semua. Si kecil sibuk main mobil-mobilan (lampu mobil polisinya sempat pecah, untung bisa minta selotip ke resepsionis hotel!). Tapi tak lama kemudian si kecil mulai ribut. Rupanya matanya pedas kemasukan air berbelerang. Sibuklah mamanya menyuruh dia tidak mengusap mata. Sia-sia, wong mata perih kok nggak boleh dikucek!
Makan malam di restoran di dekat kolam tersebut, sayangnya kurang memuaskan. Antara rasa dan ukuran porsi sama sekali tidak sebanding dengan harga yang selangit. Untung kembali ke kamar, Mama bawa sereal dan susu berkotak-kotak. Jadi, si kecil duduk manis makan sereal sambil nonton saluran TV Jim-Jam. Cuaca kurang bersahabat.
Pagi setelah sarapan di restoran tersebut lagi (kembali sarapan gagal, dan si kecil makan perbekalan dari rumah), kami mengeksplorasi taman rekreasi. Sayangnya hujan rintik kembali turun. Akhirnya si kecil cuma naik kereta-keretaan. Kami lalu memilih naik mobil untuk mencari makan siang di luar hotel.
Waks! Si kecil muntah habis-habisan! Mungkin karena jalanan gunung yang meliuk-liuk. Mungkin juga karena perutnya kurang diisi dengan benar sejak semalam. Gawatnya, karena merasa hanya pergi sebentar, mamanya tidak bekal banyak baju ganti! Di restoran ayam goreng di Lembang pun, si kecil masih muntah-muntah. Setelah itu juga dalam perjalanan kembali ke hotel. Huaaaaaa... kasian kau, nak!
Malamnya, karena hujan terus, rencana kembali berendam di kolam air panas pun batal. Huaaa...
Keesokan paginya, kami mengisi perut si kecil kembali dengan sereal bekal dari rumah. Setelah itu, kami masih menyempatkan diri untuk kembali berendam di kolam. Rugi dong jauh-jauh ke Ciater kalau cuma berendam sekali! Sayangnya, cuaca yang justru panas membuat berendam rasanya jadi berbeda dengan waktu berendam sore-sore pertama datang itu. Berendam siang-siang ini panas dan kurang nyaman!
Perjalanan pulang, si kecil kembali muntah-muntah di jalan. Perut dan kaki sudah digosok minyak kayu putih, tapi rupanya tidak banyak membantu kondisinya. Saat akhirnya kami berhenti di rest area untuk makan, si kecil bisa makan. Tapi, kembali muntah begitu kami melanjutkan perjalanan. Huaaa... sedihnya...
Sampai di rumah, rasanya malah jadi capek. Trip kali ini membuktikan kata orang: pergi dengan anak kecil malah membuat orangtuanya merasa butuh liburan lagi begitu sampai di rumah. Huaaaaaaaa...
Road trip singkat bersama balita:
* Anak balita lebih baik naik kuda poni saja. Kalau yang tersedia kuda “biasa” yang tingginya sekitar 1,5 meter, lebih baik beri pengertian anak untuk tidak naik. Atau kalau anak memaksa atau menangis minta naik kuda, mintalah trayek yang singkat, tidak usah jauh-jauh. Atau pastikan mereka memang pemberani!
* Jangan pernah lupa bawa selotip. Multifungsi banget! Sama seperti tisu basah---errr... dengan fungsi-fungsi yang berbeda, tentu saja.
* Kalau kurang yakin dengan kualitas makanan yang disajikan hotel atau kemungkinan bisa kesulitan mencari makan, bawa bekal banyak-banyak.
* Selalu sedia minimal dua stel baju ganti anak balita di mobil untuk road trip.
* Biskuit kering, air putih, dan minyak hangat-hangat untuk anak yang muntah.
* Jangan paksakan untuk langsung melanjutkan perjalanan selesai makan. Jalan-jalanlah dulu sebentar untuk menurunkan makanan.
* Kalau perlu beri anak obat antimual seperti Antimo Anak atau Tolak Angin Anak.
* Cuaca, cuaca, cuaca. Selidiki betul cuaca yang akan dihadapi di tempat liburan. Hujan bisa merusak segalanya dan memaksa kita tinggal terus dalam kamar hotel. Hiks.
Ceritanya suami saya akhirnya memutuskan untuk cuti sejenak dari kantornya. Pilihannya, menginap dua malam di Ciater Resort & Spa. Pikirannya, enak toh semua sudah ada, baik taman rekreasi sampai ke kolam air panas.
Kami mulai perjalanan bermobil dari Jakarta sudah cukup siang, sekitar pukul 08.00. Si kecil duduk aman dalam carseat-nya, dan lumayan menikmati pemandangan. Sekitar pukul 11.00, kami berhenti di rest area dan brunch di salah satu restoran Padang di sana. Enak juga, meskipun mahal. Si kecil makan cukup banyak. Setelahnya si kecil tidur di carseat-nya, jadi perjalanan berlangsung aman terkendali. Masuk Bandung, kami mulai bingung mencari jalan. Suami selalu mengandalkan saya untuk jadi navigator di Bandung, dengan tuduhan saya kan sejak kecil bolak-balik ke sana. Penjelasan bahwa saya tinggal duduk enak dalam mobil tante/sepupu/adik, tidak pernah diterima suami * sigh *. Untung papan penunjuk jalan berwarna hijau itu masih bisa cukup diandalkan untuk memberi arah ke Lembang, lalu Ciater. Meskipun lebih banyak menunjukkan arah ke FO ini atau tempat outbound itu.
Alhasil, kami berhasil mencapai hotel sekitar pukul 14.30. Setelah meletakkan bawaan dalam kamar (kamar suite dengan tempat tidur queen, TV kabel, dan kamar mandi dalam---bersih meskipun agak basah), kami mengeksplorasi tempat. Tujuan utama ke Ciater adalah berendam air panas, jadi yang utama kami cari adalah lokasi kolam-kolamnya. Salah satu kolam (Cinangka) berhubungan dengan restoran tempat kami mendapat welcome drink. Jadi sembari menikmati welcome drink itu, kami menyusun rencana. Sempat juga si kecil (dan emaknya) naik kuda dulu keliling sampai ke resort sebelah. Sayangnya, rupanya si kecil (emaknya juga) agak takut juga naik kuda yang tinggi di jalanan yang kurang rata, jadi dia ribut minta kembali “ke papa”.
Usai naik kuda dan istirahat, kami langsung nyebur ke kolam Cinangka tersebut. Bwah, enaknya mencelupkan diri ke kolam berair panas alami itu! Otot dan tulang langsung lemas semua. Si kecil sibuk main mobil-mobilan (lampu mobil polisinya sempat pecah, untung bisa minta selotip ke resepsionis hotel!). Tapi tak lama kemudian si kecil mulai ribut. Rupanya matanya pedas kemasukan air berbelerang. Sibuklah mamanya menyuruh dia tidak mengusap mata. Sia-sia, wong mata perih kok nggak boleh dikucek!
Makan malam di restoran di dekat kolam tersebut, sayangnya kurang memuaskan. Antara rasa dan ukuran porsi sama sekali tidak sebanding dengan harga yang selangit. Untung kembali ke kamar, Mama bawa sereal dan susu berkotak-kotak. Jadi, si kecil duduk manis makan sereal sambil nonton saluran TV Jim-Jam. Cuaca kurang bersahabat.
Pagi setelah sarapan di restoran tersebut lagi (kembali sarapan gagal, dan si kecil makan perbekalan dari rumah), kami mengeksplorasi taman rekreasi. Sayangnya hujan rintik kembali turun. Akhirnya si kecil cuma naik kereta-keretaan. Kami lalu memilih naik mobil untuk mencari makan siang di luar hotel.
Waks! Si kecil muntah habis-habisan! Mungkin karena jalanan gunung yang meliuk-liuk. Mungkin juga karena perutnya kurang diisi dengan benar sejak semalam. Gawatnya, karena merasa hanya pergi sebentar, mamanya tidak bekal banyak baju ganti! Di restoran ayam goreng di Lembang pun, si kecil masih muntah-muntah. Setelah itu juga dalam perjalanan kembali ke hotel. Huaaaaaa... kasian kau, nak!
Malamnya, karena hujan terus, rencana kembali berendam di kolam air panas pun batal. Huaaa...
Keesokan paginya, kami mengisi perut si kecil kembali dengan sereal bekal dari rumah. Setelah itu, kami masih menyempatkan diri untuk kembali berendam di kolam. Rugi dong jauh-jauh ke Ciater kalau cuma berendam sekali! Sayangnya, cuaca yang justru panas membuat berendam rasanya jadi berbeda dengan waktu berendam sore-sore pertama datang itu. Berendam siang-siang ini panas dan kurang nyaman!
Perjalanan pulang, si kecil kembali muntah-muntah di jalan. Perut dan kaki sudah digosok minyak kayu putih, tapi rupanya tidak banyak membantu kondisinya. Saat akhirnya kami berhenti di rest area untuk makan, si kecil bisa makan. Tapi, kembali muntah begitu kami melanjutkan perjalanan. Huaaa... sedihnya...
Sampai di rumah, rasanya malah jadi capek. Trip kali ini membuktikan kata orang: pergi dengan anak kecil malah membuat orangtuanya merasa butuh liburan lagi begitu sampai di rumah. Huaaaaaaaa...
Road trip singkat bersama balita:
* Anak balita lebih baik naik kuda poni saja. Kalau yang tersedia kuda “biasa” yang tingginya sekitar 1,5 meter, lebih baik beri pengertian anak untuk tidak naik. Atau kalau anak memaksa atau menangis minta naik kuda, mintalah trayek yang singkat, tidak usah jauh-jauh. Atau pastikan mereka memang pemberani!
* Jangan pernah lupa bawa selotip. Multifungsi banget! Sama seperti tisu basah---errr... dengan fungsi-fungsi yang berbeda, tentu saja.
* Kalau kurang yakin dengan kualitas makanan yang disajikan hotel atau kemungkinan bisa kesulitan mencari makan, bawa bekal banyak-banyak.
* Selalu sedia minimal dua stel baju ganti anak balita di mobil untuk road trip.
* Biskuit kering, air putih, dan minyak hangat-hangat untuk anak yang muntah.
* Jangan paksakan untuk langsung melanjutkan perjalanan selesai makan. Jalan-jalanlah dulu sebentar untuk menurunkan makanan.
* Kalau perlu beri anak obat antimual seperti Antimo Anak atau Tolak Angin Anak.
* Cuaca, cuaca, cuaca. Selidiki betul cuaca yang akan dihadapi di tempat liburan. Hujan bisa merusak segalanya dan memaksa kita tinggal terus dalam kamar hotel. Hiks.
Rabu, 07 September 2011
Bersama anak di rumah
Libur Lebaran baru lewat. Apa saja kegiatan Anda bersama anak selain mengunjungi dan bersilaturahmi ke keluarga besar? Ke mal? Ke mal lagi? Absen mal di Jakarta? Memang sih sudah jutaan orang yang menyesali lanskap Jakarta yang tidak menyisakan ruang terbuka hijau atau hiburan murah-meriah bagi penduduknya, sehingga orangtua sering bingung mau membawa anaknya ke mana lagi selain ke mal. Bukan hanya saat libur Lebaran, tapi juga di tiap week-end. Tapi kalau tidak bisa keluar rumah, kenapa tidak di rumah saja?
Bukan berarti terus membiarkan anak njogrok di depan TV bersama saluran kabel, film DVD, ataupun game. Bukan juga terus membiarkan hidung anak menancap pada Ipod, dll.
Memang sih orangtua yang bekerja sering kali penginnya anak duduk diam dan tidak ngerecokin. Tapi, bukan berarti terus anak jadi diberi Ipod/TV dan dibiarkan diam saja, kan? Anak itu senang sekali kok kalau orangtuanya berkegiatan bersama dia, apa pun kegiatannya. Kalau kegiatan itu berbentuk bermain bersama dia dengan mainan dia, kesenangannya pasti berlipat-lipat. Tapi, bukan berarti anak tidak bisa diajak berkegiatan lain.
Berikut beberapa kegiatan di rumah yang mungkin agak aneh, tapi bisa dilakukan untuk menghabiskan waktu bersama anak, terutama saat liburan dan di akhir pekan:
1. Membersihkan rumah. Pembantu mudik dan tidak dapat infal? Jangan mau jadi upik abu sendirian, berdayakan anak! Kegiatan favorit anak adalah yang berhubungan dengan air, jadi ajari dia mencuci sepatunya sendiri (sandal/sepatu karet yang lagi ngetren sangat mudah dibersihkan dengan air dan sedikit sabun) atau ajak dia mencuci mobil. Berikutnya anak juga bisa diajari mencuci piring (mungkin mulai dengan piring melamin atau piring makannya sendiri dulu, bila takut perangkat makan pecah). Lalu ajak dia mencuci jendela. Kegiatan mencuci jendela dengan seember air dan koran bekas sangatlah menyenangkan. Biarkan anak mencuci jendela sebelah bawah, sementara Anda membersihkan sebelah atas. Masih bermain air, minta anak menyiram tanaman di halaman. Anak juga bisa diajari mengepel lantai. Bila kuatir hasilnya kurang bersih, bisa beri dia jatah “sepetak pel”, misalnya pojok kamar bermainnya sendiri. Mulailah dengan gaya ringan dan “bermain”, misalnya, “Hari ini kita main rumah-rumahan yok! Bantuin Mama cuci piring ya!” sehingga anak merasa kegiatan mengurus rumah menyenangkan. Jangan mulai dengan “Duh, kerjaan kok nggak ada habisnya sih! Ayo, sekarang tugas kamu bantuin Mama!” Siapa pun pasti malas bila ajakannya seperti itu. Pujilah hasil pekerjaan anak, sehingga dia senang serta bangga, dan lain kali tidak ragu-ragu untuk diminta bantuannya. Anak belajar soal kebersihan dan keteraturan rumah, tanggung jawab, dan harga diri serta kepercayaan diri.
2. Membuat kue. Carilah resep kue yang mudah dan tidak membutuhkan banyak alat, terutama untuk anak yang masih balita. Takutnya bila menggunakan peralatan seperti blender atau mixer, anak bisa terluka, padahal anak paling senang ikut mencampur bahan kue. Orangtua bisa saja melakukan mixing ini, tapi anak pasti kecewa. Jadi, carilah resep yang bisa dicampur dengan tangan atau dengan sendok/spatula. Salah satunya adalah resep bola-bola cokelat (biskuit marie dihancurkan, dicampur susu kental manis, dipadatkan lalu digulingkan pada meses) dan donat (mencampur bahan tidak perlu dengan alat, tapi diuleni dengan tangan saja, selain itu anak bisa mencetak bentuk-bentuk donat).
3. Bubur kertas. Berdayakan kertas bekas seperti tagihan kartu kredit, struk belanja, koran dan majalah bekas menjadi bubur kertas. Anak diminta merobek-robek kertas dan meremas-remasnya dalam air hingga menjadi bubur. Anak mengembangkan motorik halusnya lho. Hasilnya bisa dibuat kertas daur ulang (dicampur dengan lem) yang bisa digunakan sebagai kertas kado atau dibentuk bola-bola atau bentuk lain yang lucu sebagai mainan. (Ingat waktu SD pernah buat prakarya peta Indonesia dari bubur kertas dan cat minyak.)
4. Menata foto. Foto-foto liburan keluarga kemarin belum disusun? Ajak anak menempel foto pada album atau scrapbook dan menambahkan komentar-komentar atau cerita singkat pada foto itu. Anda melatih ingatan anak dan mengembangkan kecerdasan visual-spatial serta matematikanya (kronologi).
5. Kataloging. Masih soal menata dan merapikan, ajak anak menata buku-buku atau DVD yang dimilikinya, mencatat judul/pengarangnya dan menyimpannya dalam urutan tertentu, alias membuatkan katalognya. Kegiatan ini bisa terasa membosankan bagi anak yang aktif, jadi Anda harus mengira-ngira mood anak dan mengganti kegiatan bila si kecil terlihat bosan.
6. Piknik. Piknik di rumah, kenapa tidak? Sepetak kecil halaman atau carport pun bisa jadi lahan piknik yang asyik. Tidak usah belanja, tapi berdayakan isi kulkas dan sisa makanan. Hangatkan makanan sisa tadi malam dan masukkan dalam wadah-wadah lucu atau bila ada piring/gelas kertas. Tidak punya sirop? Buat saja es teh manis. Tidak punya tikar? Gunakan koran bekas sebagai alas duduk. Sambil piknik, orangtua bisa mengobrol santai bersama anak, atau memainkan permainan tanpa alat seperti cerita bersambung yang santai sampai petak umpet atau lompat tali yang lebih menguras tenaga.
Bukan berarti terus membiarkan anak njogrok di depan TV bersama saluran kabel, film DVD, ataupun game. Bukan juga terus membiarkan hidung anak menancap pada Ipod, dll.
Memang sih orangtua yang bekerja sering kali penginnya anak duduk diam dan tidak ngerecokin. Tapi, bukan berarti terus anak jadi diberi Ipod/TV dan dibiarkan diam saja, kan? Anak itu senang sekali kok kalau orangtuanya berkegiatan bersama dia, apa pun kegiatannya. Kalau kegiatan itu berbentuk bermain bersama dia dengan mainan dia, kesenangannya pasti berlipat-lipat. Tapi, bukan berarti anak tidak bisa diajak berkegiatan lain.
Berikut beberapa kegiatan di rumah yang mungkin agak aneh, tapi bisa dilakukan untuk menghabiskan waktu bersama anak, terutama saat liburan dan di akhir pekan:
1. Membersihkan rumah. Pembantu mudik dan tidak dapat infal? Jangan mau jadi upik abu sendirian, berdayakan anak! Kegiatan favorit anak adalah yang berhubungan dengan air, jadi ajari dia mencuci sepatunya sendiri (sandal/sepatu karet yang lagi ngetren sangat mudah dibersihkan dengan air dan sedikit sabun) atau ajak dia mencuci mobil. Berikutnya anak juga bisa diajari mencuci piring (mungkin mulai dengan piring melamin atau piring makannya sendiri dulu, bila takut perangkat makan pecah). Lalu ajak dia mencuci jendela. Kegiatan mencuci jendela dengan seember air dan koran bekas sangatlah menyenangkan. Biarkan anak mencuci jendela sebelah bawah, sementara Anda membersihkan sebelah atas. Masih bermain air, minta anak menyiram tanaman di halaman. Anak juga bisa diajari mengepel lantai. Bila kuatir hasilnya kurang bersih, bisa beri dia jatah “sepetak pel”, misalnya pojok kamar bermainnya sendiri. Mulailah dengan gaya ringan dan “bermain”, misalnya, “Hari ini kita main rumah-rumahan yok! Bantuin Mama cuci piring ya!” sehingga anak merasa kegiatan mengurus rumah menyenangkan. Jangan mulai dengan “Duh, kerjaan kok nggak ada habisnya sih! Ayo, sekarang tugas kamu bantuin Mama!” Siapa pun pasti malas bila ajakannya seperti itu. Pujilah hasil pekerjaan anak, sehingga dia senang serta bangga, dan lain kali tidak ragu-ragu untuk diminta bantuannya. Anak belajar soal kebersihan dan keteraturan rumah, tanggung jawab, dan harga diri serta kepercayaan diri.
2. Membuat kue. Carilah resep kue yang mudah dan tidak membutuhkan banyak alat, terutama untuk anak yang masih balita. Takutnya bila menggunakan peralatan seperti blender atau mixer, anak bisa terluka, padahal anak paling senang ikut mencampur bahan kue. Orangtua bisa saja melakukan mixing ini, tapi anak pasti kecewa. Jadi, carilah resep yang bisa dicampur dengan tangan atau dengan sendok/spatula. Salah satunya adalah resep bola-bola cokelat (biskuit marie dihancurkan, dicampur susu kental manis, dipadatkan lalu digulingkan pada meses) dan donat (mencampur bahan tidak perlu dengan alat, tapi diuleni dengan tangan saja, selain itu anak bisa mencetak bentuk-bentuk donat).
3. Bubur kertas. Berdayakan kertas bekas seperti tagihan kartu kredit, struk belanja, koran dan majalah bekas menjadi bubur kertas. Anak diminta merobek-robek kertas dan meremas-remasnya dalam air hingga menjadi bubur. Anak mengembangkan motorik halusnya lho. Hasilnya bisa dibuat kertas daur ulang (dicampur dengan lem) yang bisa digunakan sebagai kertas kado atau dibentuk bola-bola atau bentuk lain yang lucu sebagai mainan. (Ingat waktu SD pernah buat prakarya peta Indonesia dari bubur kertas dan cat minyak.)
4. Menata foto. Foto-foto liburan keluarga kemarin belum disusun? Ajak anak menempel foto pada album atau scrapbook dan menambahkan komentar-komentar atau cerita singkat pada foto itu. Anda melatih ingatan anak dan mengembangkan kecerdasan visual-spatial serta matematikanya (kronologi).
5. Kataloging. Masih soal menata dan merapikan, ajak anak menata buku-buku atau DVD yang dimilikinya, mencatat judul/pengarangnya dan menyimpannya dalam urutan tertentu, alias membuatkan katalognya. Kegiatan ini bisa terasa membosankan bagi anak yang aktif, jadi Anda harus mengira-ngira mood anak dan mengganti kegiatan bila si kecil terlihat bosan.
6. Piknik. Piknik di rumah, kenapa tidak? Sepetak kecil halaman atau carport pun bisa jadi lahan piknik yang asyik. Tidak usah belanja, tapi berdayakan isi kulkas dan sisa makanan. Hangatkan makanan sisa tadi malam dan masukkan dalam wadah-wadah lucu atau bila ada piring/gelas kertas. Tidak punya sirop? Buat saja es teh manis. Tidak punya tikar? Gunakan koran bekas sebagai alas duduk. Sambil piknik, orangtua bisa mengobrol santai bersama anak, atau memainkan permainan tanpa alat seperti cerita bersambung yang santai sampai petak umpet atau lompat tali yang lebih menguras tenaga.
Rabu, 24 Agustus 2011
Ke Museum Bareng Balita
Bisa kok! Tapi dengan catatan... hehehe... seperti biasa selalu ada udang di balik bakwan.
Sekarang temanya apa dulu nih? Ibunya mau menikmati karya seni dan benda sejarah atau anaknya mau diajak senang-senang?
Kalau temanya adalah “acara Ibu”, ya pilihlah saat pergi ke museum pas anak sudah beres semua. Artinya anak sudah makan, sudah tidur, dan kemungkinan besar tidak akan cranky dalam museum. Siapkan juga stroller atau gendongan untuk anak batita, sehingga si kecil gak keluyuran ke mana-mana dan ibunya bisa menikmati museum. Siapkan juga snack dan minuman buat si kecil, dengan catatan dinikmati di luar ruangan pajang museum, karena siapa tahu makanan yang dimakan di dalam ruang meninggalkan ceceran kue yang bisa membuat benda-benda pajang di sana jadi rusak. Siapkan juga kertas gambar dan pensil warna atau buku cerita, yang bisa menyibukkan si kecil sementara ibunya menyimak koleksi museum. Dan, biar bagaimanapun, mengajak balita ke museum tidak bisa lama-lama. Balita cepat bosan, dan belum bisa mengerti betul apa bagusnya sih keramik tua di pojokan itu?
Kalau temanya “acara anak”, ini dia serunya! Ibunya bisa mencari museum ramah anak. Artinya museum yang temanya menarik bagi anak, menyediakan pajangan yang bisa disentuh, juga menyiapkan kegiatan interaktif yang menarik. Jelas bukan jenis museum yang sekadar datang dan melihat saja. Anak balita kan senang untuk praktik langsung, dan memegang ini-itu.
Mika sudah memasuki beberapa museum, termasuk dua mahamuseum di dunia ini, Louvre dan Musei Vatikani (err... yang satu dia lari-larian di lapangannya, yang lain dia tidur di sepanjang museum). Tapi, dia justru paling gembira di dua museum di Jakarta ini: Museum Polisi dan Museum Layang-Layang. (Dia juga senang di Museum Bank Mandiri, tapi karena ada kuda-kudaan dan perosotan di halaman museum, jadi irelevan dengan tema museumnya.)
Tengah Juni 2011 lalu kami ke Museum Polisi. Begitu masuk halaman parkir Mabes Polri-nya saja Mika sudah heboh karena ada mobil polisi di mana-mana. Begitu sampai di depan museumnya, ada helikopter! Helikopter! Helikopter polisi asli, sodara-sodara! Bayangkan betapa pentingnya benda itu bagi anak laki-laki umur tiga tahun. Langsunglah si kecil naik untuk memegang langsung helikopter itu. Setelah memasuki ruang museum, kehebohan belum berakhir. Pertama-tama, kami ketemu sama ibu-ibu polisi yang ramah-ramah (polisi sungguhan, wow!), lalu ada mobil polisi yang boleh dimasuki! Mika langsung masuk mobil polisi itu dan memegang-megang semua peralatannya. Asyik! Di lantai dua, ternyata ada pojok khusus yang disediakan untuk anak-anak. Isinya permainan detektif-detektifan, mobil-mobilan (seperti mobil yang di kereta belanja Carrefour dan Giant), juga perangkat komputer. Akhirnya kami nguplek di sudut itu, karena Mika tidak mau turun dari mobil-mobilannya. So, dari sudut tema oke, pajangan boleh sentuh oke, kegiatan interaktif... mungkin anak umur tiga tahun belum bisa main detektif-detektifan, tapi tersedia, jadi oke. Yap, Museum Polisi adalah museum ramah anak.
Tengah Agustus 2011, kami ke Museum Layang-Layang. Penasaran dengan promosi dan cerita yang gencar, dan tidak sabar kalau harus menunggu ikut kunjungan sekolah, saya memutuskan berangkat sendiri bersama Mika. Jadi sepulang sekolah kami mampir ke sana. Begitu masuk, ternyata kami disuguhi dulu film tentang layang-layang. Mika tidak terlalu excited dan bolak-balik mengajak “lihat layang-layang”. Setelah masuk ke bangunan museum yang berupa rumah Jawa, Mika mulai gembira melihat-lihat berbagai bentuk layangan. Tapi tentu saja dia tidak sabar mendengarkan keterangan dari bapak guide. Jadi acara melihat-lihat bagian dalam museumnya hanya terjadi sekilas pandang saja. Mika baru benar-benar gembira saat praktik membuat layangan. Kertas yang sudah dicetak gambar bisa diwarnai oleh Mika, lalu si bapak guide yang baik hati itu memasangkan benang layangan dan rusuk layangan dari batang lidi. Mika juga diajari menerbangkan layangan kertas kecil itu. Senang sekali dia lari kian kemari di halaman museum yang lumayan luas. So, untuk museum ini untuk tema menarik bagi anak oke. Pajangan boleh sentuh... errrm... meskipun layangan yang tersedia boleh disentuh, tapi saya tetap melarang Mika pegang-pegang, takut badan layangan yang rata-rata dari kertas tipis itu jadi sobek, mengingat dia belum bisa mengukur tenaganya. Dan kegiatan interaktif... berhasil banget! Mika senang sekali membuat layangan dan mencoba menerbangkannya. Meskipun kecil dan terbuat dari kertas HVS yang cukup tebal, ternyata layangan praktik ini bisa terbang lho!
All in all, bisa kan anak-anak balita diajak ke museum? Yang penting pilih museum yang tepat, supaya si anak bisa menikmatinya juga.
Museum Polri: Mabes Polri Blok M, gratis
Museum Layang-Layang: Jl. H. Kamang, Pd. Labu, Rp10.000 (nonton film, guide, praktik membuat layangan. Terdapat berbagai paket menarik lain seperti membatik, membuat keramik, dll dengan harga bervariasi)
Sekarang temanya apa dulu nih? Ibunya mau menikmati karya seni dan benda sejarah atau anaknya mau diajak senang-senang?
Kalau temanya adalah “acara Ibu”, ya pilihlah saat pergi ke museum pas anak sudah beres semua. Artinya anak sudah makan, sudah tidur, dan kemungkinan besar tidak akan cranky dalam museum. Siapkan juga stroller atau gendongan untuk anak batita, sehingga si kecil gak keluyuran ke mana-mana dan ibunya bisa menikmati museum. Siapkan juga snack dan minuman buat si kecil, dengan catatan dinikmati di luar ruangan pajang museum, karena siapa tahu makanan yang dimakan di dalam ruang meninggalkan ceceran kue yang bisa membuat benda-benda pajang di sana jadi rusak. Siapkan juga kertas gambar dan pensil warna atau buku cerita, yang bisa menyibukkan si kecil sementara ibunya menyimak koleksi museum. Dan, biar bagaimanapun, mengajak balita ke museum tidak bisa lama-lama. Balita cepat bosan, dan belum bisa mengerti betul apa bagusnya sih keramik tua di pojokan itu?
Kalau temanya “acara anak”, ini dia serunya! Ibunya bisa mencari museum ramah anak. Artinya museum yang temanya menarik bagi anak, menyediakan pajangan yang bisa disentuh, juga menyiapkan kegiatan interaktif yang menarik. Jelas bukan jenis museum yang sekadar datang dan melihat saja. Anak balita kan senang untuk praktik langsung, dan memegang ini-itu.
Mika sudah memasuki beberapa museum, termasuk dua mahamuseum di dunia ini, Louvre dan Musei Vatikani (err... yang satu dia lari-larian di lapangannya, yang lain dia tidur di sepanjang museum). Tapi, dia justru paling gembira di dua museum di Jakarta ini: Museum Polisi dan Museum Layang-Layang. (Dia juga senang di Museum Bank Mandiri, tapi karena ada kuda-kudaan dan perosotan di halaman museum, jadi irelevan dengan tema museumnya.)
Tengah Juni 2011 lalu kami ke Museum Polisi. Begitu masuk halaman parkir Mabes Polri-nya saja Mika sudah heboh karena ada mobil polisi di mana-mana. Begitu sampai di depan museumnya, ada helikopter! Helikopter! Helikopter polisi asli, sodara-sodara! Bayangkan betapa pentingnya benda itu bagi anak laki-laki umur tiga tahun. Langsunglah si kecil naik untuk memegang langsung helikopter itu. Setelah memasuki ruang museum, kehebohan belum berakhir. Pertama-tama, kami ketemu sama ibu-ibu polisi yang ramah-ramah (polisi sungguhan, wow!), lalu ada mobil polisi yang boleh dimasuki! Mika langsung masuk mobil polisi itu dan memegang-megang semua peralatannya. Asyik! Di lantai dua, ternyata ada pojok khusus yang disediakan untuk anak-anak. Isinya permainan detektif-detektifan, mobil-mobilan (seperti mobil yang di kereta belanja Carrefour dan Giant), juga perangkat komputer. Akhirnya kami nguplek di sudut itu, karena Mika tidak mau turun dari mobil-mobilannya. So, dari sudut tema oke, pajangan boleh sentuh oke, kegiatan interaktif... mungkin anak umur tiga tahun belum bisa main detektif-detektifan, tapi tersedia, jadi oke. Yap, Museum Polisi adalah museum ramah anak.
Tengah Agustus 2011, kami ke Museum Layang-Layang. Penasaran dengan promosi dan cerita yang gencar, dan tidak sabar kalau harus menunggu ikut kunjungan sekolah, saya memutuskan berangkat sendiri bersama Mika. Jadi sepulang sekolah kami mampir ke sana. Begitu masuk, ternyata kami disuguhi dulu film tentang layang-layang. Mika tidak terlalu excited dan bolak-balik mengajak “lihat layang-layang”. Setelah masuk ke bangunan museum yang berupa rumah Jawa, Mika mulai gembira melihat-lihat berbagai bentuk layangan. Tapi tentu saja dia tidak sabar mendengarkan keterangan dari bapak guide. Jadi acara melihat-lihat bagian dalam museumnya hanya terjadi sekilas pandang saja. Mika baru benar-benar gembira saat praktik membuat layangan. Kertas yang sudah dicetak gambar bisa diwarnai oleh Mika, lalu si bapak guide yang baik hati itu memasangkan benang layangan dan rusuk layangan dari batang lidi. Mika juga diajari menerbangkan layangan kertas kecil itu. Senang sekali dia lari kian kemari di halaman museum yang lumayan luas. So, untuk museum ini untuk tema menarik bagi anak oke. Pajangan boleh sentuh... errrm... meskipun layangan yang tersedia boleh disentuh, tapi saya tetap melarang Mika pegang-pegang, takut badan layangan yang rata-rata dari kertas tipis itu jadi sobek, mengingat dia belum bisa mengukur tenaganya. Dan kegiatan interaktif... berhasil banget! Mika senang sekali membuat layangan dan mencoba menerbangkannya. Meskipun kecil dan terbuat dari kertas HVS yang cukup tebal, ternyata layangan praktik ini bisa terbang lho!
All in all, bisa kan anak-anak balita diajak ke museum? Yang penting pilih museum yang tepat, supaya si anak bisa menikmatinya juga.
Museum Polri: Mabes Polri Blok M, gratis
Museum Layang-Layang: Jl. H. Kamang, Pd. Labu, Rp10.000 (nonton film, guide, praktik membuat layangan. Terdapat berbagai paket menarik lain seperti membatik, membuat keramik, dll dengan harga bervariasi)
Senin, 15 Agustus 2011
Anak ilang
Nightmare semua orangtua: anaknya ilang. Bener loh, terkadang kalo si anak lagi berulah kita pengin banget anak itu ilang sekalian. Kalo ada orang lewat mau ngambil silahkeun, sumonggo, jangan malu-malu... Tapi, kalo ilang beneran? Wuih, nangis!
Waktu bikin buku “Traveling with Kids” (will be out soon, yay!) bareng Rully Larasati, tiap berapa alinea, gue menulis “dan jangan lupa lirik tip supaya anak nggak ilang di Bab 6”. Alhasil info tentang tip anak ilang ada di Bab 6 muncul di tiap bab, dan akhirnya supaya nggak bikin boring beberapa info ini dipangkas... hehehe... Tapi, kesimpulan kami (gue dan Rully) adalah kami takut banget anak kami ilang.
Mengingat memang banyak kejadian aneh bin mengerikan seperti anak yang udah cukup besar lagi nunggu di depan wc tempat mamanya pipis kok ya bisa ilang juga, anak yang lagi-lagi udah cukup besar ternyata dikerjain di dalem wc padahal papanya nunggu di pintu wc, anak yang ilang lalu ketemu lagi ginjalnya udah raib... dan semua itu terjadi di tempat-tempat wisata yang cukup kondang, gimana caranya kita jadi nggak males berwisata, coba?
Tapi, buat orang jenis gue, gimana gak berwisata, coba? Kalo udah lama gak jalan-jalan badan rasanya gimana gituuu... Di otak adanya cuma “pengin pergi, pengin pergi, pengin pergi...” (meskipun sering kali gak keturutan juga). Waktu diwawancara Cosmo itu, tip terakhir gue adalah “orangtua mesti berani dan fleksibel”. Tapi pas mendengar soal kehilangan anak-kehilangan anak ini, nyali siapa juga yang nggak ciut?
Mariii kita pompa lagi keberanian kita dengan pertama-tama berdoa! Kayaknya simpel, tapi masalah culik-menculik, hipnotis-menghipnotis, dan hal-hal jelek lainnya cuma bisa kita pasrahkan pada Tuhan. Tujuan kita jalan-jalan kan baik (bersenang-senang dong tentu saja! Tentu plus-plus mempererat tali kasih dalam keluarga, menambah pengetahuan, memberi pada masyarakat sekitar, menambah devisa negara, dsb dsb dll dll), pasti gak mau yang jelek-jelek dong. Jadi, asal kita udah well prepared, serahkanlah semuanya pada Tuhan.
Bagaimana dengan well prepared-nya? Berikut beberapa tip yang lengkapnya bisa dilihat di “Traveling with Tots” dan “Traveling with Kids”. Pertama-tama (seneng amat sih gue pake kata ini...) kita mesti udah riset soal tempat yang mau kita datangi. Tahu lokasinya kayak apa dan situasi kayak apa yang bakal kita temui di sana. Misalnya mau mengunjungi Dufan, kita mesti udah punya gambaran kira-kira luasnya bagaimana, syukur-syukur udah pernah ke sana dan bisa mengira-ngira petugas yang bisa dimintai bantuan ada di mana aja. Demikian pula kalau mau ke tempat wisata lain, misalnya pantai atau rumah ibadah. Kalau sukanya pergi ke off the beaten track, misalnya ke pantai yang sepi dan gak ada orang yang tahu, tetap sih kita udah mesti prepare kira-kira gambaran situasi yang bakal kita temui di sana gimana, siapa yang kira-kira bisa dimintai tolong. Soalnya pergi bawa anak, bo!
Kedua, kembangkan bakal narsis anak sejak dini: fotolah dia begitu sampai di tempat wisata itu. Jadi kita punya fotonya yang paling update hari itu, sehingga sekiranya dia terpisah dari kita, foto itu bisa ditunjukin ke orang lain untuk minta tolong.
Ketiga, untuk anak yang masih kecil (balita), boleh dipakaikan baju yang spesifik banget, misalnya warnanya norak atau kaus yang ada namanya. Kan sekarang banyak tuh tukang bordir nama atau jait kain felt di ITC. Bisa juga dipakaikan name tag, kalung, atau penanda lain yang berisi informasi nama anak dan ortu serta alamat. Atau kalau anak ogah dipakaikan benda-benda itu, kata Lonely Planet, tulis aja info tersebut di tangan atau perut si anak dengan spidol. Gue pribadi kurang setuju sih sama pemberian info detail ini, soalnya kalo ndilalah si anak beneran diculik, (knock on wood!!!) jangan-jangan info malah digunakan si orang jahat. Tapi, kembalilah ke step awal banget tadi kali ya: pasrah sama Tuhan dan ingat niatan kita baik... hehehe...
Tiga, jangan pernah lepaskan anak dari pandangan kita, dan suruh dia gak boleh jauh-jauh. Bagi tugas sama pasangan (atau siapa pun yang pergi sama kita) untuk menjaga anak. Jangan dua-dua orang dewasa sama-sama antre tiket atau beli makan dan si anak pecicilan ke mana-mana. Demikian pula kalau anak tiba-tiba ilang, bagi tugas dengan pasangan untuk mencari. Dan jangan dua-duanya mencari, tapi satu tunggu di meeting point, yang lain keliling. Kalau ada tempat berbahaya (jurang, sungai, kandang singa) carilah ke tempat-tempat itu dulu.
Empat, perhatikan keinginan anak dan sebisa langsung penuhi. Masalahnya gini, orangtua tuh sering ya bilang ke anak, “De, kalo mau pipis bilang Mama ya, nanti langsung Mama anterin ke wc.” Eh, pas si anak pengin pipis, mamanya lagi seru milih suvenir dan nyuruh anak nunggu. Padahal anak kecil biasa bilang mau pipis kalo udah kebelet banget, akhirnya dia memutuskan untuk pergi sendiri ke wc dan meninggalkan mamanya yang lama. Kalo takut si anak (balita) pergi sendiri, baik kenakanlah child safety harness kepadanya, jadi dia gak bisa ke mana-mana karena tali anjingnya dipegang si mama. Tapi, kalo takut dibilang gak berperi keanakan di Indonesia, yasud, lupakan dulu si suvenir dan antar si anak ke wc.
Dan akhirnya, untuk anak yang sudah besar terutama, tapi bisa juga untuk balita, kalau terpisah dari ortu, minta mereka menemui orang berseragam. Bisa seragam pelayan, bisa juga satpam. Biasanya mereka orang “benar” dan mau dimintai tolong.
Oh-oh-oh, dan ingat saran ortu kita dari jaman dulu yang mesti kita sampaikan ke anak-anak: jangan pernah ngomong sama orang asing!!! Kenalan sama orang asing itu asyik, tapi nanti kalau si anak udah punya KTP sendiri ya, alias sudah 18 tahun ke atas!
Jadi, mari kita pompa keberanian kita, berdoa, dan selamat jalan-jalan!
Waktu bikin buku “Traveling with Kids” (will be out soon, yay!) bareng Rully Larasati, tiap berapa alinea, gue menulis “dan jangan lupa lirik tip supaya anak nggak ilang di Bab 6”. Alhasil info tentang tip anak ilang ada di Bab 6 muncul di tiap bab, dan akhirnya supaya nggak bikin boring beberapa info ini dipangkas... hehehe... Tapi, kesimpulan kami (gue dan Rully) adalah kami takut banget anak kami ilang.
Mengingat memang banyak kejadian aneh bin mengerikan seperti anak yang udah cukup besar lagi nunggu di depan wc tempat mamanya pipis kok ya bisa ilang juga, anak yang lagi-lagi udah cukup besar ternyata dikerjain di dalem wc padahal papanya nunggu di pintu wc, anak yang ilang lalu ketemu lagi ginjalnya udah raib... dan semua itu terjadi di tempat-tempat wisata yang cukup kondang, gimana caranya kita jadi nggak males berwisata, coba?
Tapi, buat orang jenis gue, gimana gak berwisata, coba? Kalo udah lama gak jalan-jalan badan rasanya gimana gituuu... Di otak adanya cuma “pengin pergi, pengin pergi, pengin pergi...” (meskipun sering kali gak keturutan juga). Waktu diwawancara Cosmo itu, tip terakhir gue adalah “orangtua mesti berani dan fleksibel”. Tapi pas mendengar soal kehilangan anak-kehilangan anak ini, nyali siapa juga yang nggak ciut?
Mariii kita pompa lagi keberanian kita dengan pertama-tama berdoa! Kayaknya simpel, tapi masalah culik-menculik, hipnotis-menghipnotis, dan hal-hal jelek lainnya cuma bisa kita pasrahkan pada Tuhan. Tujuan kita jalan-jalan kan baik (bersenang-senang dong tentu saja! Tentu plus-plus mempererat tali kasih dalam keluarga, menambah pengetahuan, memberi pada masyarakat sekitar, menambah devisa negara, dsb dsb dll dll), pasti gak mau yang jelek-jelek dong. Jadi, asal kita udah well prepared, serahkanlah semuanya pada Tuhan.
Bagaimana dengan well prepared-nya? Berikut beberapa tip yang lengkapnya bisa dilihat di “Traveling with Tots” dan “Traveling with Kids”. Pertama-tama (seneng amat sih gue pake kata ini...) kita mesti udah riset soal tempat yang mau kita datangi. Tahu lokasinya kayak apa dan situasi kayak apa yang bakal kita temui di sana. Misalnya mau mengunjungi Dufan, kita mesti udah punya gambaran kira-kira luasnya bagaimana, syukur-syukur udah pernah ke sana dan bisa mengira-ngira petugas yang bisa dimintai bantuan ada di mana aja. Demikian pula kalau mau ke tempat wisata lain, misalnya pantai atau rumah ibadah. Kalau sukanya pergi ke off the beaten track, misalnya ke pantai yang sepi dan gak ada orang yang tahu, tetap sih kita udah mesti prepare kira-kira gambaran situasi yang bakal kita temui di sana gimana, siapa yang kira-kira bisa dimintai tolong. Soalnya pergi bawa anak, bo!
Kedua, kembangkan bakal narsis anak sejak dini: fotolah dia begitu sampai di tempat wisata itu. Jadi kita punya fotonya yang paling update hari itu, sehingga sekiranya dia terpisah dari kita, foto itu bisa ditunjukin ke orang lain untuk minta tolong.
Ketiga, untuk anak yang masih kecil (balita), boleh dipakaikan baju yang spesifik banget, misalnya warnanya norak atau kaus yang ada namanya. Kan sekarang banyak tuh tukang bordir nama atau jait kain felt di ITC. Bisa juga dipakaikan name tag, kalung, atau penanda lain yang berisi informasi nama anak dan ortu serta alamat. Atau kalau anak ogah dipakaikan benda-benda itu, kata Lonely Planet, tulis aja info tersebut di tangan atau perut si anak dengan spidol. Gue pribadi kurang setuju sih sama pemberian info detail ini, soalnya kalo ndilalah si anak beneran diculik, (knock on wood!!!) jangan-jangan info malah digunakan si orang jahat. Tapi, kembalilah ke step awal banget tadi kali ya: pasrah sama Tuhan dan ingat niatan kita baik... hehehe...
Tiga, jangan pernah lepaskan anak dari pandangan kita, dan suruh dia gak boleh jauh-jauh. Bagi tugas sama pasangan (atau siapa pun yang pergi sama kita) untuk menjaga anak. Jangan dua-dua orang dewasa sama-sama antre tiket atau beli makan dan si anak pecicilan ke mana-mana. Demikian pula kalau anak tiba-tiba ilang, bagi tugas dengan pasangan untuk mencari. Dan jangan dua-duanya mencari, tapi satu tunggu di meeting point, yang lain keliling. Kalau ada tempat berbahaya (jurang, sungai, kandang singa) carilah ke tempat-tempat itu dulu.
Empat, perhatikan keinginan anak dan sebisa langsung penuhi. Masalahnya gini, orangtua tuh sering ya bilang ke anak, “De, kalo mau pipis bilang Mama ya, nanti langsung Mama anterin ke wc.” Eh, pas si anak pengin pipis, mamanya lagi seru milih suvenir dan nyuruh anak nunggu. Padahal anak kecil biasa bilang mau pipis kalo udah kebelet banget, akhirnya dia memutuskan untuk pergi sendiri ke wc dan meninggalkan mamanya yang lama. Kalo takut si anak (balita) pergi sendiri, baik kenakanlah child safety harness kepadanya, jadi dia gak bisa ke mana-mana karena tali anjingnya dipegang si mama. Tapi, kalo takut dibilang gak berperi keanakan di Indonesia, yasud, lupakan dulu si suvenir dan antar si anak ke wc.
Dan akhirnya, untuk anak yang sudah besar terutama, tapi bisa juga untuk balita, kalau terpisah dari ortu, minta mereka menemui orang berseragam. Bisa seragam pelayan, bisa juga satpam. Biasanya mereka orang “benar” dan mau dimintai tolong.
Oh-oh-oh, dan ingat saran ortu kita dari jaman dulu yang mesti kita sampaikan ke anak-anak: jangan pernah ngomong sama orang asing!!! Kenalan sama orang asing itu asyik, tapi nanti kalau si anak udah punya KTP sendiri ya, alias sudah 18 tahun ke atas!
Jadi, mari kita pompa keberanian kita, berdoa, dan selamat jalan-jalan!
Jumat, 12 Agustus 2011
Guide
Oke deh... oke... setelah beberapa hari berusaha mengumpulkan niat dan menguatkan hati untuk kembali nge-blog, akhirnya subuh ini mulailah daku mengetik ini-itu.
Nge-blog itu sebenarnya asyik. Dan bisa jadi latihan menulis yang tokcer. Soalnya, kalo kita berkomitmen nge-blog, kita akan memaksa diri kita untuk menulis dan mencari ide terus-menerus. Iya gak? Iya gak?
Anyway, ada sih ide yang terus berputar di kepala gue seminggu ini. Tepatnya setelah pulang dari on-air di Cosmopolitan Radio (taelah, promosi sih tapi telat, kalo gini mah namanya pamer doang!), Sabtu minggu lalu (6 Agustus 2011). Pas on-air itu, gue bertutur bahwa lebih baik nyewa guide kalo ke Kebun Raya Bogor, lalu tuturan itu mendapat tanggapan di twitter-nya Cosmo, ngapain juga nyewa guide kalo yang diliat itu-itu aja?
Loh, justru!
Justru itu kita butuh guide, supaya yang dilihat gak itu-itu aja! Terus terang, tanggapan gue pas on-air itu agak memalukan. Gue cuma bilang bahwa guide itu perlu biar kita bisa bedain jenis-jenis pohon. Tapi, sebenarnya it's more... waiii... more than that, sodara-sodara!
Guide bisa membuat perjalanan kita jadi lebih bermakna. Guide yang baik dan mengenal seluk-beluk topik yang dibawakannya akan membuat kita pulang dari jalan-jalan dengan perasaan bahagia, bertambah cerdas, dan jelas puas. Serius! Guide yang baik bisa membuat perjalanan kita mempunya nilai lebih dan tentu jadi bermakna.
Contohnya ya, kembali ke Kebun Raya Bogor. Gue dan keluarga pernah mengantar seorang bapak Jerman ke KRB. Di pintu masuk kami menyewa guide, maksudnya tentu biar gak repot ya kalo si bapak Jerman nanya-nanya ke kita, gimana juga jawabnya, coba? Eh, ternyata, si guide itu lulusan IPB juga, bo! Jadi seru banget dia cerita ini-itu, ngasih tahu tumbuhan ini-itu, dan spot-spot lucu di KRB, misalnya tempat si bapak Jerman bisa gelantungan di sulur-suluran ala Tarzan (fotonya terus dicetak dan dibingkai, buat suvenir si bapak Jerman... hehehe). Bayangin gimana kalo kita keliling-keliling KRB tanpa guide? Yang ada ceritanya cuma, “Errm... ini pohon... itu juga pohon... hehehe...”
Masih di KRB, waktu gue masih enam tahun, keluarga gue mengantar sekeluarga Belanda (bapak-ibu-anak 3 tahun) ke sana. Tentu keluarga gue menggunakan guide juga. Dan percaya gak, gue masih ingat betapa amazed-nya gue sama KRB karena di situ ada pohon kelapa sawit yang umurnya udah seratus tahun lebih, karena ada bunga bangkai yang bau, dan karena ada teratai yang daunnya luebaaar... buangeeed. Serius, ini kenangan masa kecil gue, bukan karena gue baca di mana, dan bukan karena kunjungan bersama si bapak Jerman yang edisinya udah tahun 2000-an. Ini ingatan dari masa kecil gue. Dan kalo gak nyewa guide, gue rasa sih gue gak akan punya kenangan itu.
Menyinggung museum, gue adalah pecinta museum, biarpun museum di Indonesia kondisinya masih yah... (eh, tapi tahun-tahun terakhir ini museum-museum di Indonesia makin cantik loh!). Tapi, sayangnya gue jarang-jarang pakai guide di Jakarta. Lain halnya pas ke Bali, gue langsung dipepet guide saking dikira orang Jepang (wakarimasen! Wakarimasen!). Akibatnya, meskipun gue selalu terkagum-kagum sama koleksi Museum Gajah, tapi gue baru benar-benar jatuh cinta sama museum ini saat mengunjunginya bareng guru sejarah SMA gue. Guru sejarah gue itu piawai banget cerita ini-itu tentang patung-patung di dalam museum. Kecintaan dan kekaguman gue sama koleksi Museum Gajah makin bertambah waktu main ke sana pas Pameran Majapahit dengan narasumber Pak Dwi dari Malang yang diundang Sahabat Museum. Wow, keren! Terutama ceritanya tentang arca Bima yang perkasa... hehehe... Tuh,kan, kalo guide-nya oke, biarpun udah lewat bertahun-tahun tetap inget ceritanya apa...
Di museum-museum lain (di Indonesia) yang gue kunjungi, gue tidak pernah menggunakan jasa guide. Akibatnya, ya lempeng dot com aja deh. Cuma lihat-lihat, terus foto-foto (atau bahkan gak foto-foto karena gue gak segitu narsisnya) lalu pulang deh kita. Eh, kecuali pas ke museum di Bali itu... yang pas gue dikira orang Jepang itu... hehehe... Kadang keterangan yang disematkan pada barang koleksi museum sudah cukup memuaskan rasa ingin tahu, tapi kadang tulisannya cuma “Piring, tahun 1600-an”. Thanks... garing amat keterangannya.
Soal guide-nya sendiri, kadang ada guide yang helpful banget dan seru bercerita ini-itu. Tapi kadang ketemu juga guide yang sama garingnya dengan keterangan “Piring, tahun 1600-an” itu. Alias si guide cuma membaca ulang keterangan yang ada. Woi, Pak, kalo baca doang mah saya juga bisa! Tapi, kata salah satu sumber yang bisa dipercaya, kita sebagai pengguna jasa guide juga mesti rajin nanya, biar ceritanya keluar semua. Masalahnya terkadang mau nanya apa juga bingung yak.
Anyway, tanpa guide, barang-barang di museum mungkin jadi sekadar barang pajangan dan pohon-pohon serta anggrek cantik di KRB cuma jadi sekadar pohon dan anggrek yang cantik. Mereka bukan mangkuk gerabah yang digunakan di zaman Majapahit serta bunga yang persilangannya diawasi sendiri oleh Megawati yang presiden itu. Dan yang pasti, selain menambah poin pada perjalanan kita, kalo ada guide kita bisa minta tolong buat difoto serombongan komplet dong ah!
Nge-blog itu sebenarnya asyik. Dan bisa jadi latihan menulis yang tokcer. Soalnya, kalo kita berkomitmen nge-blog, kita akan memaksa diri kita untuk menulis dan mencari ide terus-menerus. Iya gak? Iya gak?
Anyway, ada sih ide yang terus berputar di kepala gue seminggu ini. Tepatnya setelah pulang dari on-air di Cosmopolitan Radio (taelah, promosi sih tapi telat, kalo gini mah namanya pamer doang!), Sabtu minggu lalu (6 Agustus 2011). Pas on-air itu, gue bertutur bahwa lebih baik nyewa guide kalo ke Kebun Raya Bogor, lalu tuturan itu mendapat tanggapan di twitter-nya Cosmo, ngapain juga nyewa guide kalo yang diliat itu-itu aja?
Loh, justru!
Justru itu kita butuh guide, supaya yang dilihat gak itu-itu aja! Terus terang, tanggapan gue pas on-air itu agak memalukan. Gue cuma bilang bahwa guide itu perlu biar kita bisa bedain jenis-jenis pohon. Tapi, sebenarnya it's more... waiii... more than that, sodara-sodara!
Guide bisa membuat perjalanan kita jadi lebih bermakna. Guide yang baik dan mengenal seluk-beluk topik yang dibawakannya akan membuat kita pulang dari jalan-jalan dengan perasaan bahagia, bertambah cerdas, dan jelas puas. Serius! Guide yang baik bisa membuat perjalanan kita mempunya nilai lebih dan tentu jadi bermakna.
Contohnya ya, kembali ke Kebun Raya Bogor. Gue dan keluarga pernah mengantar seorang bapak Jerman ke KRB. Di pintu masuk kami menyewa guide, maksudnya tentu biar gak repot ya kalo si bapak Jerman nanya-nanya ke kita, gimana juga jawabnya, coba? Eh, ternyata, si guide itu lulusan IPB juga, bo! Jadi seru banget dia cerita ini-itu, ngasih tahu tumbuhan ini-itu, dan spot-spot lucu di KRB, misalnya tempat si bapak Jerman bisa gelantungan di sulur-suluran ala Tarzan (fotonya terus dicetak dan dibingkai, buat suvenir si bapak Jerman... hehehe). Bayangin gimana kalo kita keliling-keliling KRB tanpa guide? Yang ada ceritanya cuma, “Errm... ini pohon... itu juga pohon... hehehe...”
Masih di KRB, waktu gue masih enam tahun, keluarga gue mengantar sekeluarga Belanda (bapak-ibu-anak 3 tahun) ke sana. Tentu keluarga gue menggunakan guide juga. Dan percaya gak, gue masih ingat betapa amazed-nya gue sama KRB karena di situ ada pohon kelapa sawit yang umurnya udah seratus tahun lebih, karena ada bunga bangkai yang bau, dan karena ada teratai yang daunnya luebaaar... buangeeed. Serius, ini kenangan masa kecil gue, bukan karena gue baca di mana, dan bukan karena kunjungan bersama si bapak Jerman yang edisinya udah tahun 2000-an. Ini ingatan dari masa kecil gue. Dan kalo gak nyewa guide, gue rasa sih gue gak akan punya kenangan itu.
Menyinggung museum, gue adalah pecinta museum, biarpun museum di Indonesia kondisinya masih yah... (eh, tapi tahun-tahun terakhir ini museum-museum di Indonesia makin cantik loh!). Tapi, sayangnya gue jarang-jarang pakai guide di Jakarta. Lain halnya pas ke Bali, gue langsung dipepet guide saking dikira orang Jepang (wakarimasen! Wakarimasen!). Akibatnya, meskipun gue selalu terkagum-kagum sama koleksi Museum Gajah, tapi gue baru benar-benar jatuh cinta sama museum ini saat mengunjunginya bareng guru sejarah SMA gue. Guru sejarah gue itu piawai banget cerita ini-itu tentang patung-patung di dalam museum. Kecintaan dan kekaguman gue sama koleksi Museum Gajah makin bertambah waktu main ke sana pas Pameran Majapahit dengan narasumber Pak Dwi dari Malang yang diundang Sahabat Museum. Wow, keren! Terutama ceritanya tentang arca Bima yang perkasa... hehehe... Tuh,kan, kalo guide-nya oke, biarpun udah lewat bertahun-tahun tetap inget ceritanya apa...
Di museum-museum lain (di Indonesia) yang gue kunjungi, gue tidak pernah menggunakan jasa guide. Akibatnya, ya lempeng dot com aja deh. Cuma lihat-lihat, terus foto-foto (atau bahkan gak foto-foto karena gue gak segitu narsisnya) lalu pulang deh kita. Eh, kecuali pas ke museum di Bali itu... yang pas gue dikira orang Jepang itu... hehehe... Kadang keterangan yang disematkan pada barang koleksi museum sudah cukup memuaskan rasa ingin tahu, tapi kadang tulisannya cuma “Piring, tahun 1600-an”. Thanks... garing amat keterangannya.
Soal guide-nya sendiri, kadang ada guide yang helpful banget dan seru bercerita ini-itu. Tapi kadang ketemu juga guide yang sama garingnya dengan keterangan “Piring, tahun 1600-an” itu. Alias si guide cuma membaca ulang keterangan yang ada. Woi, Pak, kalo baca doang mah saya juga bisa! Tapi, kata salah satu sumber yang bisa dipercaya, kita sebagai pengguna jasa guide juga mesti rajin nanya, biar ceritanya keluar semua. Masalahnya terkadang mau nanya apa juga bingung yak.
Anyway, tanpa guide, barang-barang di museum mungkin jadi sekadar barang pajangan dan pohon-pohon serta anggrek cantik di KRB cuma jadi sekadar pohon dan anggrek yang cantik. Mereka bukan mangkuk gerabah yang digunakan di zaman Majapahit serta bunga yang persilangannya diawasi sendiri oleh Megawati yang presiden itu. Dan yang pasti, selain menambah poin pada perjalanan kita, kalo ada guide kita bisa minta tolong buat difoto serombongan komplet dong ah!
Langganan:
Postingan (Atom)
